Kamis, 01 Maret 2012
Kamis, 02 Februari 2012
Kamis, 12 Januari 2012
Ujian Lab??
1. PERAWATAN LUKA
Persiapan Alat
Persiapan pasien
Persiapan dini
1.PERSIAPAN ALAT
Tromol berisi handscon,kapas dan kasa (smwx steril)
Korentang pada tempatnya (untuk mengambil alat2 yg steril)
Bak instrument yg di dalamnya ada 2 pinset, pinset anatomi (untuk ambil kasa) & pinset ciruggi (untuk ambil benang jahitan)
Dua cucing steril (untuk menuang betadin dan alcohol)
Cucing besar tak steril (untuk menuangkan bensin)
Kapas kering tidak steril (digunakan untuk mengambil bensin)
Gunting plester
Plester
Bengkok
10. Handuk kecil
11. Perlak kecil
2.PERSIAPAN PASIEN
Persiapan lingkungan (tutup jendela, beri tirai/ tutup tirai, tutup pintu)
Komunikasi dengan pasien (permisi bu saya ingin melakukan……………. Agar …… dll #memanusiakan manusia#
Atur posisi pasien
3.PERSIAPAN DIRI
Melepaskan perhiasan
Cuci tangan
Mempersiapkan alat
Tiga buah kasa steril, empat buah kapas steril dan handscon dimasukkan k dalam bak instrument dg korentang
Tutup tromol dan bak steril
Tuang betadin dan alcohol pada cucing steril
Memotong plester sesuai kebutuhan
Pasang perlak dibawah pasien (pada bagian tubuh yang luka) *komunikasi dengan pasien*
Dekatkan alat pada pasien
10. Ambil kapas tak steril dan diberi bensin untuk melepas plester dari kulit dan dioleskan pada plester yang menempel pada kulit
11. Buka bak instrument
12. Memakai handscon
13. Buka plester menggunakan pinset anatomi
14. Kasa pada lapisan kedua diberi alcohol dengan memasukkan kapas steril ke dalam alcohol kemudian dioleskan pada kasa tadi, ambil kasa dengan cara mendatar agar luka yang kering tidak ikut terangkat dan buang ke bengkok
15. Kapas steril diberi alcohol dengan menggunakan pinset ditutulkan pada luka dari tepi kea rah dalam, di tekan-tekan agar pus atau darah dapat keluar
16. Ambil kapas steril masukkan ke dalam alcohol dengan membersihkan luka dari dalam keluar
17. Ambil kasa steril masukkan ke dalam betadin, ambil pinset satu lagi, jepit yang erat, peras, di taruh pada luka.
18. Ambil kasa kedua, lebarkan, ditaruh diatasnya
19. Lepas handscon. Masukkan ke dalam larutan klorin
20. Plester luka dari sisi tepi dulu baru tengah, fiksasi dengan rapat
21. Komunikasi dengan pasien
22. Rapikan alat2 dan rapikan pasien
23. Buang sampahx
(by: Finatul Ummu H)
2. NGT PADA BAYI
1.PERSIAPAN ALAT
Bak instrument berisi handscoon, tongspatel, selang NGT bayi, gunting klem.
Bengkok
Cucing
Gunting plester
Jeli
Spuit besar
Tisu
Kapas alcohol
Stetoskop
2.PERSIAPAN BAYI
Tidurkan bayi di atas bantal
Taruh perlak dibawah bayi
Memasang handuk di dada bayi
PERSIAPAN LINGKUNGAN
Tutup pintu
Tutup tirai
PERSIAPAN DIRI
Memakai celemek
Cuci tangan 7 langkah
Memakai handscoon 1 tangan
TINDAKAN
Ambil jeli sedikit, taruh si tangan yang ada handscoonnya
Ambil selang NGT untuk bayi
Lumuri selang NGT dengan jeli
Angkat kepala bayi dengan tangan, lalu masukkan selang ke dalam melalui hidung
Pengecekan:
Ambil toteskop, ambil spuit, masukkan udara dengan spuit, sambil didengarkan dengan stetoskop pada lambung, apabila ada bunyi angin berarti selang sudah masuk ke lambung (gastro)
Dengan aspirasi, caranya tarik dengan spuit, apabila keluar cairan lambung, berarti sudah masuk
Selang ditaruh di baskom berisi air, apabila keluar gelembung berarti masuk selang masuk ke paru2, apabila tidak keluar gelembung maka sudah masuk ke lambung
Lepas handscoon
Ambil plester dan gunting plester, lalu lakukan fiksasi kupu2 pada selang
Buka spuit masukkan nutrisi yang ada di dalam spuit ke selang dan tu2p klem selang
Masukkan air matang dengan dengan spuit (secukupnya), dengan maksud agar tidak ada sumbatan dalam selang, tutup klem selang
10. merapikan pasien
11. merapikan alat
12. cuci tangan
13. lakukan dokumentasi (tanggal pemasangan, identitas pasien, pemberian makanan)
3. MEMANDIKAN ORANG DEWASA
1.PERSIAPAN ALAT
Bak berisi air hangat
Bak berisi air dingin
Sabun mandi
Sikat gigi
Pasta gigi
Sampo
Sisir
2 Waslap
2 handuk
10. Bak instrument berisi handscoon, 5 kapas steril
11. Celemek
12. Baju ganti
13. Gelas
14. bengkok
2.PERSIAPAN PASIEN
3.PERSIAPAN DIRI
NB: ** setelah membersihkan badan, cuci waslap yg kotor pada air dingin, kemudian masukkan ke air hangat, dan gunakan tuk membersihkan pasien lagi.
Anjurkan pasien gosok gigi
Pakai celemek
Cuci tangan 7 langkah
Pasang handuk di bawah kepala pasien
Pakai handscoon
Pakai waslap
Celupkan waslap pada air hangat, peras airnya
Bersihkan wajah dengan air hangat, pada bagian mata, telinga leher jg dibersihkan
Lepas baju pasien
10. Kemudian pasang handuk di atas dada. Lalu usap dada dari atas ke bawah kemudian sabun dan bilas. Lalu lap dengan dengan handuk
11. Kemudian bersihkan tangan dari bawah ke atas. Lalu lap dengan handuk
12. Kemudian pasien dimiringkan, dan buka celana pasien
13. Pasang handuk di bawah pinggang pasien, lalu lap punggung dari atas ke bawah, kemudian di sabun dan dibilas. Lalu keringkan dengan handuk atas sedangkan bagian pantat dengan handuk bawah
14. Lalu bersihkan paha pasien yang atas
15. Lalu pasien miring ke kanan dan bersihkan paha yang atas kemudian lap
16. Lalu pasien dipasang baju. Dengan cara pasang satu tangan dulu lalu bajunya digulung dibawah punggung pasien
17. Pasang handuk dibawah perut pasien, dan di bawah kaki pasien, lalu bersihkan kaki pasien. Lalu di lap
18. Pakaikan celana pasien
4. PEMERIKSAAN URINE DAN DARAH
Persiapan Alat
Botol bersih / steril
Urine
Formulir
Etiket
Bengkok
Buku ekspedisi
PEMERIKSAAN REDUKSI URINE DG METODE FEHLING
Tujuan
Untuk menentukan kadar gula dlm urine shg dpt diambil diagnosa
Cara Kerja
Persiapan alat
* handscoon
* celemek
* Fehling A & Fehling B
* Tabung reaksi dlm raknya
* Kertas saring dan corong
* Tabung reaksi
* Spuit 3 cc sebanyak 3 buah
* Lampu spirtus
* Larutan klorin 0,5 %
* korek api
PERSIPAN PASIEN
Px diminta untuk kencing dan urine ditampung
Jelaskan tujuan pemeriksaan
Urine pd tempatnya diberi label
PERSIAPAN PETUGAS
Mencuci tangan dan lap kering
Memakai sarung tangan
PROSEDUR TINDAKAN
Urine terlebih dulu disaring dgn kertas saring menggunakan corong ke dlm tabung reaksi
Dg menggunakan spuit masukkan ke dlm tabung reaksi urine fehling A : fehling B (6:3:3)
Panaskan tabung reaksi yg berisi campuran urine fehling A & fehling B dg menggunakan penjepit di atas lampu spirtus
Pegang miring dan goyangkan agar panas merata & tdk meluap keluar
Setelah mendidih diamkan sebentar dan lihat hasilnya:
hijau = negatif
kuning = +
oranye = ++
Coklat/merah bata = +++
Tulis Hasilnya
♂ Bersihkan dan rapikan alat
♂ Masukkan sarung tangan ke dlm larutan clhorin 0.5% dan lepas terbalik
♂ Cuci tangan & dilap kering
PEMERIKSAAN ALBUMIN URINE
Tujuan
Untuk mengetahui kadar protein dlm urine
Persiapan Alat
- Asam asetat 6% & pipet
- Tabung reaksi & raknya
- Penjepit tabung reaksi
- Kertas saring & corong
- Lampu spirtus
- Larutan Clhorin 0,5 %
- Sarung tangan, bengkok
Persiapan Pasien
* Px diminta BAK & urine ditampung
* Jelaskan tujuan pemeriksaan
* Beri etiket pd urine
* Persiapan petugas
* Mencuci tangan
* Memakai sarung tangan
PROSEDUR TINDAKAN
Saring urine terlebih dl dgn kertas saring & corong
Urine dituangkan ke dlm 2 tabung reaksi masing – masing 5 cc
Tabung 1 dipanaskan diatas lampu spirtus dgn posisi miring & digoyangkan sampai mendidih
Perhatikan ada kekeruhan atau tidak, bandingkan dgn tabung 2 (tabung pembanding)
Kemudian tetesi urine yg sudah dipanaskan dg asam asetat 6% 2-3 tts, lalu panaskan kembali.
amati apa ada perubahan :
- urine jernih = negatif
– keruh = +
– kekeruhan mdh dilihat & ada endapan halus = ++
– kekeruhan mdh dilihat & endapan terlihat lebih jelas = +++
– Urine sangat keruh disertai endapan menggumpal = ++++
Catat hasilnya & beritahu pada pasien
Bersihkan dan rapikan alat
Masukkan tangan ke dlm larutan clhorin dan buka sarung tangan secara terbalik.
PEMERIKSAAN HB DARAH DG METODE SAHLI
Persiapan Alat
q Hemoglobin sahli lengkap
q HCL 0,1 N & pipet
q Aquadest
q Kapas alkohol
q Lancet
q Kapas kering
q Bengkok
q Sarung tangan
q Larutan clorin 0,5 %
q Spuit 5 cc
PERSIAPAN
Persiapan petugas
Cuci tangan dan memakai sarung tangan
Langkah – langkah
Memberitahu px. Tindakan yg akan dilakukan
Memasukkan HCL 0,1N dlm tabung sahli sampai angka 2
Ujung jari dibersihkan dg kapas alkohol biarkan kering
Pegang bagian yg akan ditusuk supaya tdk bergerak dan tekan sedikit supaya rasa nyeri berkurang.
Tusuk dg memakai lanset steril dg arah tegak lurus
Buang tetes darah pertama dg kapas kering
menekan – nekan jari untuk mendapatkan cukup darah
Hisap 20 mikro liter darah dg pipet sahli bersihkan darah yg menempel pada bagian luar pipet
Masukkan darah tsb dg hati – hati dlm tabung sahli yg sudah berisi HCL 0,1 N
Bilas darah dlm pipet dg menghisap & mengeluarkan beberapa kali
Biarkan 2 menit agar hemoglobin berubah menjadi asam hematin
Encerkan larutan dg aquabidest tetes demi tetes sambil diaduk tiap kali menampahkan aquabidest sampai warna larutan sama dg warna pembanding
Bila sudah catat hasilnya & beritahu pd px.
Bersihkan dan rapikan alat
Masukkan tangan yg memakai sarung tangan ke dlm larutan clorin 0,5% dan lepas dg cara terbalik
Cuci tangan
5. PENCEGAHAN INFEKSI
1.PERSIAPAN ALAT
Korentang dan tempatnya
Kompor
Sarung tangan rumah tangga
Larutan klorin
Tiga duk
Bengkok
Celemek
Dua ember
Tromol berisi handscoon
10. Dua baskom
11. Timbangan gram
12. 2 cucing
13. Sikat
14. Sabun detergen
15. Dandang bersap
16. Kacamata
2.PROSEDUR KERJA
Persiapan diri
Memakai celemek
Mencuci tangan dengan tujuh langkah
Memakai sarung tangan rumah tangga
Membuat larutan klorin (cair=> perbandingan larutan 9:1), taruh pada baskom A
Merendam alat-alat kotor (gunting2, cucing, bak instrument, dll) pada larutan klorin selama 10 menit
Membuat larutan sabun pada baskom B
Memasukkan alat2 tadi ke dalam larutan sabun, sambil disikat sampai bersih (cuci bilas)
Bilas alat2 tadi pada air mengalir
10. Letakkan pada baki
11. Ambil dandang bersap:
Bagian bawah diisi alat2 yang terbuat dari besi (gunting2, bak instrument, dll), beri air
Bagian tengah diisi alat2 yang terbuat dari kain (duk, kasa, kapas, masker, dll)
Bagian atas diisi alat2 yang terbuat dari karet(handscoon, dll), alasi bagian bawah dengan dan setelah itu atasnya juga di tutup duk)
12. Setelah mendidih, mulai dilakukan perhitungan mengukus alat2 selama 20 menit
13. Lepas sarung tangan rumah tangga
14. Ambil sap bagian atas digoyang-goyang , taruh dan alasi dengan panci bersih , diangin2kan selama 4-5 jam/bila ingin segera dipakai, tunggu panasnya hilang dulu. Kemudian masukkan ke dalam tromol dengan korentang
15. Cara sama dg yang diatas, setelah kering masukkan duk, masker dll ke dalam tromol dengan korentang
16. Ambil sap bagian bawah, ambil gunting2, bak instrument dll, keringkan sebentar, lalu masukkan ke dalam bak instrument dengan korentang
17. Rapikan alat
(by: Finatul Ummu H)
6. PEMASANGAN INFUS
n Persiapan alat
n Infus set
n Cairan yg diperlukan
n Abocath
n Kasa steril dalam tempat
n Bethadine
n Kapas alkohol dalam tempat
n Plester
n gunting
n Tourniquet
n Kasa gulung
n Bengkok
n Tiang infus
n Perlak kecil dan alas
n Spalk jika perlu
n Persiapan pasien
n Memberitahu tindakan yg akan dilakukan
n Letak berbaring Px diatur sebaik mungkin
n Pakaian dibuka pd daerah yg akan dipasang infus
n Langkah-langkah
n Mencuci tangan
n Alat-alat yg sudah disiapkan dibawa ke dekat Px
n Perlak dan alasnya dipasang di bawah anggota badan yg akan dipasang infus
n Siapkan infus set, pastikan klem dalam keadaan terkunci, lalu pasang pd botol cairan
n Botol cairan dipasang pd tiang infus
n Isi tabung tetesan secukupnya, jangan terlalu penuh
n Buka klem dan alirkan cairan perlahan sampai udara tidak ada dalam selang, lalu tutup kembali
n Lengan Px bagian atas dibendung dg tourniquet
n Daerah/tempat untuk menusuk vena didesinfeksi, lalu jarum abocath ditusukkan ke vena dg lubang jarum menghadap ke atas
n Bila berhasil, darah akan keluar, jarum ditarik sedikit lalu abocath dimasukkan hingga penuh
n Tourniquet dilepas, jarum ditarik, ujung abocath pd tempat tusukan ditekan, lalu sambung selang infus, keluarkan cairan sedikit biar udara diujung selang tidak masuk vena
n Klem dilonggarkan untuk melihat kelancaran tetesan
n Bila tetesan lancar, viksasi dg plester
n Tempat tusukan ditutup kasa
n Tetesan diatur sesuai dg yg ditentukan
n Anggota yg dipasang infus diatur letaknya agar jarum abocath tidak bergeser, bila perlu pasang spalk (pd anak-anak)
n Bereskan alat-alat yg telah digunakan
n Px dirapikan dan posisi diusahakan seenak mungkin
n Bila pemberian infus selesai, cara melepas infus distop plester dilepas kemudian jarum dicabut, bekas tusukan ditekan dg kapas alkohol, lalu ditutup dg plester
n Penyelesaian
n Merapikan alat
n Merapikan Px
n Pencatatan dan pelaporan
7. ATURAN DASAR INJEKSI
Bacalah daftar obat px yg menunjukkan jenis obat & cara pemberiannya.
Ambil spuit & jarum streril ditempatnya dg korentang.
Larutkan lebih dulu obat-obat yg akan dipakai.
Baca kembali daftar obat tsb,ambil obat yg dimaksud,lakukan desinfeksi dg kapas alkohol pd leher botol/ampul sebelum digergaji.Juga pd kare penutup flakon ( botol obat ).
Spuit diisi dg obat sesuai dosis yg ditentukan.Udara dlm spuit dikeluarkan,lalu spuit serta kapas alkohol dimasukkan ke bak spuit yg tersedia & langsung dibawa ke dekat pasien.
Baca kembali daftar pemberian obat & cocokkan dg papan nama/langsung tanyakan namanya pd px yg bersangkutan.
Posisi px diatur sesuai dg cara pemberian suntikan.Selanjutnya permukaan kulit didaerah yg akan disuntik di desinfeksi dg kapas alkohol,lalu obat disuntikkan.
Setelah selesai,jarum dicabut,bekas suntikan didesinfeksi dg kapas alkohol & ditahan sebentar agar darah tidak keluar.
Peralatan dibersihkan,dibereskan & dikembalikan ke tempat semula.
CARA INJEKSI INTRA CUTAN
n Jarum yg digunakan biasanya no.18,20 / khusus,spuit khusus.
n Permukaan kulit didesinfeksi,lalu ditegangkan dg tangan kiri.
n Lubang jarum menghadap ke atas,membuat sudut 15-20 dg permukaan kulit.
n Obat dimasukkan sampai permukaan kulit mengembung.
n Setelah obat masuk semua,jarum dicabut dg cepat.Bekas tusukan DILARANG DITEKAN/DIHAPUS.
n Setelah 5-10 mnt Lihat & catat reaksi yg terjadi pd daerah tusukan,laporkan hasilnya.
Injeksi Sub Cutan / SC
n Diberikan dengan menusukkan jarum pada area di bawah kulit yaitu pada jaringan konektif/lemak dibawah dermis.
n Yang lazim dipakai adalah lengan atas bagian luar, paha bagian depan, perut, area skapula, ventrogluteal dan dorsogluteal.
n Jangan berikan pada area yg nyeri, merah, pruritis/oedema.
n Berikan suntikan dengan kemiringan 450.
n Lakukan aspirasi sebelum memasukkan obat, jangan masukkan obat bila aspirasi keluar darah.
CARA INJEKSI SUB CUTAN / SC
Permukaan kulit di desinfeksi,lalu diangkat sedikit dg tangan kiri.
Jarum ditusukkan dg lubangnya menghadap ke atas & membentuk sudut 45 dg permukaan kulit.
Penghisap spuit ditarik sedikit,bila ada darah obat jangan dimasukkan.Bila tidak ada darah masukkan obat perlahan-lahan.
Setelah obat masuk semua,jarum dicabut dg cepat.Bekas tusukan jarum ditekan dg kapas alkohol.
Injeksi Intra muskular / IM
Memberikan obat melalui suntikan ke dlm jaringan otot.
Absorbsi lebih cepat, mencegah mengurangi iritasi obat.
Menyebabkan rasa nyeri, luka dikulit dan rasa takut pasien.
Tusukan pada posisi 900.
Tempat injeksi:
Otot DELTOID/pangkal lengan.
Otot QUADRISEP(1/3 tengah paha sebelah luar)
Otot GLUTEAL(1/3 bagian dr SIAS=Spina Iliaka Anterior Superior).
CARA INJEKSI INTRA MUSCULAR / IM
v Tentukan daerah yg akan disuntik,lalu permukaan kulit di daerah tsb di desinfeksi kapas alkohol.
v Jarum ditusukkan tegak lurus sudut 90 dg permukaan kulit.
v Penghisap spuit ditarik sedikit,bila ada darah obat jgn dimasukkan.Tapi bila tidak ada darah obat dimasukkan perlahan-lahan.
v Setelah obat masuk semua,jarum dicabut dg cepat.Bekas tusukan jarum ditekan dg kapas alkohol.
Injeksi Intravena
n Bereaksi sangat cepat karena langsung masuk pada peredaran darah/vena anggota gerak dan tidak memerlukan absorbsi.
n Perhatikan tehnik aseptik.
n Pasang turniket diatas area vena dan pasien disuruh menggenggam erat supaya terjadi distensi vena shg tampak jelas.
n Posisi tusukan jarum membentuk sudut 450.
n Lakukan observasi terhadap reaksi obat setelah melakukan injeksi.
n Tempat yg lazim digunakan :
n Vena sefalika
n Vena basilika
n Vena antebrakhial medialis
n Vena basilika tributaris
n Vena palmar digitalis
CARA INJEKSI IV
n Tentukan daerah yg akan disuntik,lalu lakukan pembendungan di bagian atasnya.Selanjutnya permukaan kulit di daerah tsb di desinfeksi dg kapas alkohol & ditegangkan.
n Pasang pengalas di bagian yg akan di suntik & dekatkan bengkok (nierbeken) ke bagian tubuh yg akan disuntik.
n Jarum ditusukkan ke dlm pembuluh darah yg di maksud dg lubang jarum menghadap ke atas.
n Penghisap spuit ditarik sedikit,bila jarum berhasil masuk ke dlm vena,darah akan masuk ke dlm spuit/mengalir sendiri.Tapi bila tidak ada darah yg keluar berarti jarum tidak berhasil & penyuntikan harus dipindahkan ke bagian lain.Setelah berhasil,bukalah segera karet pembendung.
8. NGT PADA ORANG DEWASA
1.PERSIAPAN ALAT
Bak instrument berisi handscoon, tongspatel, selang NGT, gunting klem.
Bengkok
Cucing
Gunting plester
Jeli
Spuit besar
Tisu
Kapas alcohol
Stetoskop
10. Gelas berisi air matang
2.PERSIAPAN PASIEN
Memberi tahu tindakan yang akan dilakukan
Tidurkan pasien di atas bantal
Mendekatkan alat pada pasien
PERSIAPAN LINGKUNGAN
Tutup pintu
Tutup tirai
PERSIAPAN DIRI
Memakai celemek
Cuci tangan 7 langkah
Mengatur posisi pasien dengan posisi highfowler
Memeriksa lubang hidung
Memasang perlak di bawah kepala pasien
Memasang handuk pada dada pasien
Memakai handscoon
Mengambil selang NGT pada tempatnya
Mengukur selang dengan metode tradisional, metode Hansen
10. Menaruh jeli pada bak instrument/ langsung pada handscoon
11. Melumuri selang dengan jeli
12. Memasukkan selang ke belakang tenggorokan dengan posisi ekstensi (menunduk)
13. Menyuruh pasien menelan selang, dengan cara memberi minum, pasien disuruh posisi normal
14. Untuk melanjutkan selang ke dalam lambung, pasien disuruh posisi flexi (menengadah)
15. Setelah masuk semua, cek dengan tongue spatel dengan cara pasien disuruh membuka mulut, lihat dengan cara menyenterinya
16. Pengecekan:
Memasukkan udara dengan spuit sebanyak 10-20 cc ke dalam lambung, kemudian dengarkan dengan stetoskop pada bagian perut kiri atas
Lakukan aspirasi, bila keluar cairan berarti sudah masuk ke dalam lambung, kemudian cairan masukkan ke dalam lambung kebali
Dengan memasukkan selang ke dalam air matang, posisi pasien ekspirasi, bila keluar gelembung, berarti selang masuk ke dalam paru-paru, bila tidak ada gelembung berarti sudah masuk lambung
17. Membuka hanscoon
18. Fiksasi dengan plester, usahakan tidak terjadi penekanan pada hidung
19. Rapikan pasien
20. Rapikan alat
21. Evaluasi kondisi pasien secara kontinyu
22. Cuci tangan
23. Lakukan pendokumentasian (tanggal dan jam pemasangan, perasat yang digunakan, keadaan pasien)
9. PEMERIKSAAN FISIK DEWASA
1.PERSIAPAN ALAT
Stetoskop
Tensi darah
Thermometer
Timbangan
Reflek hamer
Pengukur lila
Arloji/ stopwatch
Senter
Tongue spatel
10. Alcohol dan kapas?tissu
11. Air sabun
12. Air DTT
13. Alat ukur tinggi badan
14.
HAL PERTAMA YANG DILIHAT
1. Kesadaran pasien
2. Cara berjalan
3. Jenis kelamin
4. Raut wajah (biru, pucat, sembab)
5. Kebersihan pasien
6. Tingkat sakitnya
LANGKAH 1
1. Anamnesa
2. Mengukur berat badan dan tinggi badan
3. Pemeriksaan fisik
4. Tanda –tanda vital :
q Tensi (jantung arteri brachialis)
q Suhu (pada ketiak kiri, lalu tangan kiri dilipat ke perut)
q Nafas (Dengan melihat naik turunnya dada 15-20 kali/menit)
q Nadi (normal 60-80 kali/menit)
LANGKAH 2
Head to toot
1. RAMBUT
· (warna, jumlah, kerontokan, kebersihan kulit kepala)
· Inspeksi jika untuk menentukan ada benjolan apa tidak dengan palpasi
2. MATA
· Pabrex (cembung atau cekung matanya)
· Sclera
· Konjungtiva
· Reflek pupil
· Reflek kornea
3. HIDUNG
· Inspeksi (simetris apa tidak, ada polip apa tidak, kemudian palpasi hidung)
4. BIBIR
· Warna, kelembapan
· Gigi dan gusi
· Ada gigi palsu apa tidak
· Lidah (warna dan kebersihannya)
· Tonsil/ tonsisitas (ada infeksi apa tidak)
5. TELINGA
· Warna dan kesimetrisan
· Serumen (kebersihan di dalam telinga)
· Palpasi (telingan terasa nyeri, sakit atau tidak)
6. LEHER
· Inspeksi apakah ada infeksi pembesaran kelenjar tiroid
· Palpasi kelenjar tiroid (pasien disuruh menelan)
· Pasien disuruh mengejan untuk mengetahui ada atau tidaknya bendungan pada vena
7. DADA/PAYUDARA
· Inspeksi (simetris apa tidak, kebersihannya, warna kulit dan areola
· Palpasi (dari dalam keluar, memutar sampai ketiak)
· Perkusi untuk melihat suara normal apa tidak:
a) Sonor-> pada paru2
b) Timpani -> pada abdomen
c) Redup-> pada organ yang tidak ada udaranya
d) Pekak-> pada otot
e) Hipersonor-> pada lambung
· Auskultasi
a) Palpasi keseluruhan ak pasien sakit perut, artinya dari luar ketempat yang sakit
b) Khusus untuk pembesaran hati dan ginjal -> dari sias kana ditekan sampai iga kana ada benjolan apa tidak
c) Limfa-> dari sias kanan ke kiri
d) Ginjal -> ditekan dari bawah ke atas
e) Abdomen :
i. Inspeksi (tegang/kembung, ada bekas operasi apa tidak, ada benjolan apa tidak)
ii. Auskultasi
iii. Perkusi
iv. Palpasi
8. VAGINA
· Posisi pasien dorsal recumbent:
i. Buka vulva
ii. Ada cairan atau tidak
iii. Warna
iv. Bau, odem, bersihkan usap 3 kali
· Palpasi -> pada kelenjar bartolini dengan 2 jari, dengan menggunakan handscoon, untuk mengetahui pembesaran kelenjar bartolini
· Ekstermitas:
i. Palpasi pada tulang kering (kaki)
ii. Kaki semetrik apa tidak
iii. Jari-jari (polidating-> kekebihan jari, sindatif-> kekurangan jari)
iv. Oden atau tidak
v. Ada varises apa tidak (dengan pasien posisi sim)
vi. Periksa anus ada hemoroid apa tidak
vii. Ukur lingkar lengan (lengan bagian kiri)
viii. Lutut ditekuk kemudian pukul dengan reflek hamer
9. Rapikan pasien
10. Rapikan alat
11. pendokumentasian
10MEMANDIKAN BAYI
1. PERSIAPAN ALAT
1. Pantum bayi
2. Gedong
3. Sarung tangan bayi
4. 2 wslap
5. Popok +baju bayi
6. Topi bayi
7. Celemek
8. 3 cucing, a. berisi kasa steril, b. berisi 4 kapas DTT, c. berisi kasa yg diisi air DTT/ kasa DTT
9. Bak instrument berisi handscoon
10. Sabun bayi
11. Bedak bayi
12. Tempat pakaian kotor
13. Bak mandi
14. Timbangan bayi
15. 2 handuk
16. Thermometer rectal
17. Cotton bat
18. Bengkok
19. Sisir
NB: persiapan timbangan di beri alas
2.PERSIAPAN PASIEN
Menjelaskan prosedur yang akan dilakukan kepada keluarga bayi
3.PERSIAPAN DIRI
1. Cuci tangan
2. Memakai celemek
3. Persiapan tempat ( di tempat datar)
4. Persiapan air hangat di bak
5. Membuka 2 handuk
6. Menyiapkan gedong-popok-baju (beri bedak pada baju bila perlu)
7. Bayi diambil (cara mengambil bayi adalah tangan kiri menyangga leher dan bahu bayi, tangan kanan memegang kaki, dengan jari tengah diantara kaki kanan dan kiri bayi
8. Diletakkan di handuk pertama
9. Membersihakan mata, dengan menggunakan kapas DTT, kepala disanggah, dibersihkan dari pangkal hidung ke samping, satu kali usap, ganti yang sebelah kiri
10. Lihat hidungnya, bersihkan dengan cotton bat , bila ada kotoran
11. Lihat mulutnya, bila ada bekas susu dibersihkan dengan kapas DTT, kapas DTT dipilin dengan jari telunjuk, masukkan ke dalam mulut dan bersihkan mulut
12. Lihat telinganya
13. Membuka popok bayi, bila bayi BAB,bersihkan dengan kasa DTT
14. Ukur suhu pada bagian rectal, bayi dimiringkan, masukkan thermometer rectal sampai batas tembaga ke anus, ditunggu 3-5 menit, lihat hasilnya, dan catat
15. Buka baju bayi, buka juga bungkusan pada tali pusar, bila lengket beri air hangat dulu
16. Melakukan penimbangan, catat hasilnya
17. Pakaian yang kotor di buang pada tempat sampah
18. Ambil waslap, rendam dengan air hangat
19. Kepala diangkat, bersihkan rambut
20. Basahi wajah, leher, ketiak kiri kanan, tangan kiri kanan, dada, perut, punggung, kaki kanan kiri, alat genitalia
21. Waslap dilepas
22. Keramasi rambut bayi dengan sampo bayi
23. Beri sabun, mulai dari leher, ketiak kiri kanan, tangan kiri kangan, dada, perut, punggung, kaki kanan kiri, alat genitalia
24. Ganti waslap yang bersih
25. Waslap dicelupkan pada air hangat
26. Bersihkan sisa sabun pada tubuh bayi
27. Bayi diangkat,kemudian letakkan ke bak dengan posisi bayi setengah duduk, kemudian dibilas mulai dari kepala, leher, ketiak kiri kanan, tangan kiri kangan, dada, perut, punggung, kaki kanan kiri, alat genitalia
28. Angkat bayi, letakkan pada handuk yang kedua
29. Bayi dikeringkan dengan handuk, mulai dari kepala, leher, ketiak kiri kanan, tangan kiri kangan, dada, perut, punggung, kaki kanan kiri, alat genitalia
30. Bayi diletakkan pada pakaian yang sudah dipersiapkan
31. Ambil kasa steril kering, untuk membungkus tali pusar
32. Beri minyak telon, pada bagian dada,punggung, perut, telapak tangan, telapak kaki
33. Beri bedak, jangan terlalu tebal pada tempat lipatan dan alat genitalia
34. Baju dipakaikan, popok juga, jika ada pasang topi, sarung tangan, beri bedak juga pada wajah, boleh di sisir juga
35. Bayi di bedong (prinsip kepala tertutup)
36. Menilai keadaan bayi (pucat, biru, sehat)
37. Menyerahkan bayi pada keluarga
38. Bereskan peralatan
39. Celemek di lepas
40. Cuci tangan
41. Pendokumentasian ( suhu, berat badan, tanggal jam pemandian, keadaan bayi sebelum dan sesudah dimandikan)
11. MEMBERIKAN HUKNA RENDAH/TINGGI
PERSIAPAN ALAT
1. Irigator/ selang karet
2. Canula rectal
3. Air hangat 40,5 – 43,5 derajat celcius sebanyak 1 liter untuk hukna rendah dan 2 liter hukna tinggi
4. Tromol berisi handscoon
5. Tissue
6. Korentang pada tempatnya
7. Air untuk cebok
8. Jeli
9. Lap
10. Perlak
11. Handuk
12. Celemek
13. Tiang infus
14. Pispot
15. Bengkok
PERSIAPAN PASIEN
1. Dekatkan alat pada pasien
2. Tutup jendela, tirai dan pintu
3. Komunikasi dengan pasien, jelaskan prosedur yang akan dilakukan, lakukan juga inform consent
PERSIAPAN DIRI
( Huknah rendah)
1. Pasang celemek
2. Cuci tangan 7 langkah, kemudian lap tangan
3. Memakai handscoon
4. Memasang perlak
5. Mengatur pasien dengan posisi sim kiri
6. Memasang handuk pada pantat pasien dengan bagian kanan lebih panjang
7. Lepas celana pasien
8. Mengukur tinggi irigator (50 cm)
9. Memasang irrigator pada tiang infuse, air dimasukkan, keluarkan sedikit air, hingga udara dalam selang tidak ada
10. Mendekatkan bengkok ke pasien
11. Memberi jeli pada kanula rekti
12. Masukkan pada anus sampai 7,5 cm
13. Sebelum airnya habis, cabut kanula rekti
14. Kembalikan posisi pasien ke posisi normal
15. Menanyai pasien, apakah sudah ingin BAB
16. Bila pasien ingin BAB, tawarkan mau BAB di pispot atau toilet
17. Angkat bokong pasien, letakkan pispot di bawah anus pasien
18. Bila sudah selesai, ambil tisu, dan ceboki pasien dengan air yang sudah ada, kemudian keringkan dengan handuk
19. Lepaskan handuk, suruh pasien pakai celana
20. Handuk dilipat/ letakkan pada tempat pakaian kotor
21. Rapikan pasien
22. Rapikan alat
23. Lepas handscoon
24. Cuci tangan 7 langkah , keringkan dengan lap
25. Buka celemek
26. Memberi tahu pasien, bahwa prosedur selesai dilakukan
27. Buka tirai, pintu, jendela
28. Pendokumentasian
· (identitas pasien,
· tanggal jam waktu pemasangan,
· keadaan pasien sebelum dan sesudah pemasangan,
· tindakan,
· jumlah,
· warna
· dan bentuk(konsistensi->cair/ lunak/padat),
· nama petugas, TT
Persiapan Alat
Persiapan pasien
Persiapan dini
1.PERSIAPAN ALAT
Tromol berisi handscon,kapas dan kasa (smwx steril)
Korentang pada tempatnya (untuk mengambil alat2 yg steril)
Bak instrument yg di dalamnya ada 2 pinset, pinset anatomi (untuk ambil kasa) & pinset ciruggi (untuk ambil benang jahitan)
Dua cucing steril (untuk menuang betadin dan alcohol)
Cucing besar tak steril (untuk menuangkan bensin)
Kapas kering tidak steril (digunakan untuk mengambil bensin)
Gunting plester
Plester
Bengkok
10. Handuk kecil
11. Perlak kecil
2.PERSIAPAN PASIEN
Persiapan lingkungan (tutup jendela, beri tirai/ tutup tirai, tutup pintu)
Komunikasi dengan pasien (permisi bu saya ingin melakukan……………. Agar …… dll #memanusiakan manusia#
Atur posisi pasien
3.PERSIAPAN DIRI
Melepaskan perhiasan
Cuci tangan
Mempersiapkan alat
Tiga buah kasa steril, empat buah kapas steril dan handscon dimasukkan k dalam bak instrument dg korentang
Tutup tromol dan bak steril
Tuang betadin dan alcohol pada cucing steril
Memotong plester sesuai kebutuhan
Pasang perlak dibawah pasien (pada bagian tubuh yang luka) *komunikasi dengan pasien*
Dekatkan alat pada pasien
10. Ambil kapas tak steril dan diberi bensin untuk melepas plester dari kulit dan dioleskan pada plester yang menempel pada kulit
11. Buka bak instrument
12. Memakai handscon
13. Buka plester menggunakan pinset anatomi
14. Kasa pada lapisan kedua diberi alcohol dengan memasukkan kapas steril ke dalam alcohol kemudian dioleskan pada kasa tadi, ambil kasa dengan cara mendatar agar luka yang kering tidak ikut terangkat dan buang ke bengkok
15. Kapas steril diberi alcohol dengan menggunakan pinset ditutulkan pada luka dari tepi kea rah dalam, di tekan-tekan agar pus atau darah dapat keluar
16. Ambil kapas steril masukkan ke dalam alcohol dengan membersihkan luka dari dalam keluar
17. Ambil kasa steril masukkan ke dalam betadin, ambil pinset satu lagi, jepit yang erat, peras, di taruh pada luka.
18. Ambil kasa kedua, lebarkan, ditaruh diatasnya
19. Lepas handscon. Masukkan ke dalam larutan klorin
20. Plester luka dari sisi tepi dulu baru tengah, fiksasi dengan rapat
21. Komunikasi dengan pasien
22. Rapikan alat2 dan rapikan pasien
23. Buang sampahx
(by: Finatul Ummu H)
2. NGT PADA BAYI
1.PERSIAPAN ALAT
Bak instrument berisi handscoon, tongspatel, selang NGT bayi, gunting klem.
Bengkok
Cucing
Gunting plester
Jeli
Spuit besar
Tisu
Kapas alcohol
Stetoskop
2.PERSIAPAN BAYI
Tidurkan bayi di atas bantal
Taruh perlak dibawah bayi
Memasang handuk di dada bayi
PERSIAPAN LINGKUNGAN
Tutup pintu
Tutup tirai
PERSIAPAN DIRI
Memakai celemek
Cuci tangan 7 langkah
Memakai handscoon 1 tangan
TINDAKAN
Ambil jeli sedikit, taruh si tangan yang ada handscoonnya
Ambil selang NGT untuk bayi
Lumuri selang NGT dengan jeli
Angkat kepala bayi dengan tangan, lalu masukkan selang ke dalam melalui hidung
Pengecekan:
Ambil toteskop, ambil spuit, masukkan udara dengan spuit, sambil didengarkan dengan stetoskop pada lambung, apabila ada bunyi angin berarti selang sudah masuk ke lambung (gastro)
Dengan aspirasi, caranya tarik dengan spuit, apabila keluar cairan lambung, berarti sudah masuk
Selang ditaruh di baskom berisi air, apabila keluar gelembung berarti masuk selang masuk ke paru2, apabila tidak keluar gelembung maka sudah masuk ke lambung
Lepas handscoon
Ambil plester dan gunting plester, lalu lakukan fiksasi kupu2 pada selang
Buka spuit masukkan nutrisi yang ada di dalam spuit ke selang dan tu2p klem selang
Masukkan air matang dengan dengan spuit (secukupnya), dengan maksud agar tidak ada sumbatan dalam selang, tutup klem selang
10. merapikan pasien
11. merapikan alat
12. cuci tangan
13. lakukan dokumentasi (tanggal pemasangan, identitas pasien, pemberian makanan)
3. MEMANDIKAN ORANG DEWASA
1.PERSIAPAN ALAT
Bak berisi air hangat
Bak berisi air dingin
Sabun mandi
Sikat gigi
Pasta gigi
Sampo
Sisir
2 Waslap
2 handuk
10. Bak instrument berisi handscoon, 5 kapas steril
11. Celemek
12. Baju ganti
13. Gelas
14. bengkok
2.PERSIAPAN PASIEN
3.PERSIAPAN DIRI
NB: ** setelah membersihkan badan, cuci waslap yg kotor pada air dingin, kemudian masukkan ke air hangat, dan gunakan tuk membersihkan pasien lagi.
Anjurkan pasien gosok gigi
Pakai celemek
Cuci tangan 7 langkah
Pasang handuk di bawah kepala pasien
Pakai handscoon
Pakai waslap
Celupkan waslap pada air hangat, peras airnya
Bersihkan wajah dengan air hangat, pada bagian mata, telinga leher jg dibersihkan
Lepas baju pasien
10. Kemudian pasang handuk di atas dada. Lalu usap dada dari atas ke bawah kemudian sabun dan bilas. Lalu lap dengan dengan handuk
11. Kemudian bersihkan tangan dari bawah ke atas. Lalu lap dengan handuk
12. Kemudian pasien dimiringkan, dan buka celana pasien
13. Pasang handuk di bawah pinggang pasien, lalu lap punggung dari atas ke bawah, kemudian di sabun dan dibilas. Lalu keringkan dengan handuk atas sedangkan bagian pantat dengan handuk bawah
14. Lalu bersihkan paha pasien yang atas
15. Lalu pasien miring ke kanan dan bersihkan paha yang atas kemudian lap
16. Lalu pasien dipasang baju. Dengan cara pasang satu tangan dulu lalu bajunya digulung dibawah punggung pasien
17. Pasang handuk dibawah perut pasien, dan di bawah kaki pasien, lalu bersihkan kaki pasien. Lalu di lap
18. Pakaikan celana pasien
4. PEMERIKSAAN URINE DAN DARAH
Persiapan Alat
Botol bersih / steril
Urine
Formulir
Etiket
Bengkok
Buku ekspedisi
PEMERIKSAAN REDUKSI URINE DG METODE FEHLING
Tujuan
Untuk menentukan kadar gula dlm urine shg dpt diambil diagnosa
Cara Kerja
Persiapan alat
* handscoon
* celemek
* Fehling A & Fehling B
* Tabung reaksi dlm raknya
* Kertas saring dan corong
* Tabung reaksi
* Spuit 3 cc sebanyak 3 buah
* Lampu spirtus
* Larutan klorin 0,5 %
* korek api
PERSIPAN PASIEN
Px diminta untuk kencing dan urine ditampung
Jelaskan tujuan pemeriksaan
Urine pd tempatnya diberi label
PERSIAPAN PETUGAS
Mencuci tangan dan lap kering
Memakai sarung tangan
PROSEDUR TINDAKAN
Urine terlebih dulu disaring dgn kertas saring menggunakan corong ke dlm tabung reaksi
Dg menggunakan spuit masukkan ke dlm tabung reaksi urine fehling A : fehling B (6:3:3)
Panaskan tabung reaksi yg berisi campuran urine fehling A & fehling B dg menggunakan penjepit di atas lampu spirtus
Pegang miring dan goyangkan agar panas merata & tdk meluap keluar
Setelah mendidih diamkan sebentar dan lihat hasilnya:
hijau = negatif
kuning = +
oranye = ++
Coklat/merah bata = +++
Tulis Hasilnya
♂ Bersihkan dan rapikan alat
♂ Masukkan sarung tangan ke dlm larutan clhorin 0.5% dan lepas terbalik
♂ Cuci tangan & dilap kering
PEMERIKSAAN ALBUMIN URINE
Tujuan
Untuk mengetahui kadar protein dlm urine
Persiapan Alat
- Asam asetat 6% & pipet
- Tabung reaksi & raknya
- Penjepit tabung reaksi
- Kertas saring & corong
- Lampu spirtus
- Larutan Clhorin 0,5 %
- Sarung tangan, bengkok
Persiapan Pasien
* Px diminta BAK & urine ditampung
* Jelaskan tujuan pemeriksaan
* Beri etiket pd urine
* Persiapan petugas
* Mencuci tangan
* Memakai sarung tangan
PROSEDUR TINDAKAN
Saring urine terlebih dl dgn kertas saring & corong
Urine dituangkan ke dlm 2 tabung reaksi masing – masing 5 cc
Tabung 1 dipanaskan diatas lampu spirtus dgn posisi miring & digoyangkan sampai mendidih
Perhatikan ada kekeruhan atau tidak, bandingkan dgn tabung 2 (tabung pembanding)
Kemudian tetesi urine yg sudah dipanaskan dg asam asetat 6% 2-3 tts, lalu panaskan kembali.
amati apa ada perubahan :
- urine jernih = negatif
– keruh = +
– kekeruhan mdh dilihat & ada endapan halus = ++
– kekeruhan mdh dilihat & endapan terlihat lebih jelas = +++
– Urine sangat keruh disertai endapan menggumpal = ++++
Catat hasilnya & beritahu pada pasien
Bersihkan dan rapikan alat
Masukkan tangan ke dlm larutan clhorin dan buka sarung tangan secara terbalik.
PEMERIKSAAN HB DARAH DG METODE SAHLI
Persiapan Alat
q Hemoglobin sahli lengkap
q HCL 0,1 N & pipet
q Aquadest
q Kapas alkohol
q Lancet
q Kapas kering
q Bengkok
q Sarung tangan
q Larutan clorin 0,5 %
q Spuit 5 cc
PERSIAPAN
Persiapan petugas
Cuci tangan dan memakai sarung tangan
Langkah – langkah
Memberitahu px. Tindakan yg akan dilakukan
Memasukkan HCL 0,1N dlm tabung sahli sampai angka 2
Ujung jari dibersihkan dg kapas alkohol biarkan kering
Pegang bagian yg akan ditusuk supaya tdk bergerak dan tekan sedikit supaya rasa nyeri berkurang.
Tusuk dg memakai lanset steril dg arah tegak lurus
Buang tetes darah pertama dg kapas kering
menekan – nekan jari untuk mendapatkan cukup darah
Hisap 20 mikro liter darah dg pipet sahli bersihkan darah yg menempel pada bagian luar pipet
Masukkan darah tsb dg hati – hati dlm tabung sahli yg sudah berisi HCL 0,1 N
Bilas darah dlm pipet dg menghisap & mengeluarkan beberapa kali
Biarkan 2 menit agar hemoglobin berubah menjadi asam hematin
Encerkan larutan dg aquabidest tetes demi tetes sambil diaduk tiap kali menampahkan aquabidest sampai warna larutan sama dg warna pembanding
Bila sudah catat hasilnya & beritahu pd px.
Bersihkan dan rapikan alat
Masukkan tangan yg memakai sarung tangan ke dlm larutan clorin 0,5% dan lepas dg cara terbalik
Cuci tangan
5. PENCEGAHAN INFEKSI
1.PERSIAPAN ALAT
Korentang dan tempatnya
Kompor
Sarung tangan rumah tangga
Larutan klorin
Tiga duk
Bengkok
Celemek
Dua ember
Tromol berisi handscoon
10. Dua baskom
11. Timbangan gram
12. 2 cucing
13. Sikat
14. Sabun detergen
15. Dandang bersap
16. Kacamata
2.PROSEDUR KERJA
Persiapan diri
Memakai celemek
Mencuci tangan dengan tujuh langkah
Memakai sarung tangan rumah tangga
Membuat larutan klorin (cair=> perbandingan larutan 9:1), taruh pada baskom A
Merendam alat-alat kotor (gunting2, cucing, bak instrument, dll) pada larutan klorin selama 10 menit
Membuat larutan sabun pada baskom B
Memasukkan alat2 tadi ke dalam larutan sabun, sambil disikat sampai bersih (cuci bilas)
Bilas alat2 tadi pada air mengalir
10. Letakkan pada baki
11. Ambil dandang bersap:
Bagian bawah diisi alat2 yang terbuat dari besi (gunting2, bak instrument, dll), beri air
Bagian tengah diisi alat2 yang terbuat dari kain (duk, kasa, kapas, masker, dll)
Bagian atas diisi alat2 yang terbuat dari karet(handscoon, dll), alasi bagian bawah dengan dan setelah itu atasnya juga di tutup duk)
12. Setelah mendidih, mulai dilakukan perhitungan mengukus alat2 selama 20 menit
13. Lepas sarung tangan rumah tangga
14. Ambil sap bagian atas digoyang-goyang , taruh dan alasi dengan panci bersih , diangin2kan selama 4-5 jam/bila ingin segera dipakai, tunggu panasnya hilang dulu. Kemudian masukkan ke dalam tromol dengan korentang
15. Cara sama dg yang diatas, setelah kering masukkan duk, masker dll ke dalam tromol dengan korentang
16. Ambil sap bagian bawah, ambil gunting2, bak instrument dll, keringkan sebentar, lalu masukkan ke dalam bak instrument dengan korentang
17. Rapikan alat
(by: Finatul Ummu H)
6. PEMASANGAN INFUS
n Persiapan alat
n Infus set
n Cairan yg diperlukan
n Abocath
n Kasa steril dalam tempat
n Bethadine
n Kapas alkohol dalam tempat
n Plester
n gunting
n Tourniquet
n Kasa gulung
n Bengkok
n Tiang infus
n Perlak kecil dan alas
n Spalk jika perlu
n Persiapan pasien
n Memberitahu tindakan yg akan dilakukan
n Letak berbaring Px diatur sebaik mungkin
n Pakaian dibuka pd daerah yg akan dipasang infus
n Langkah-langkah
n Mencuci tangan
n Alat-alat yg sudah disiapkan dibawa ke dekat Px
n Perlak dan alasnya dipasang di bawah anggota badan yg akan dipasang infus
n Siapkan infus set, pastikan klem dalam keadaan terkunci, lalu pasang pd botol cairan
n Botol cairan dipasang pd tiang infus
n Isi tabung tetesan secukupnya, jangan terlalu penuh
n Buka klem dan alirkan cairan perlahan sampai udara tidak ada dalam selang, lalu tutup kembali
n Lengan Px bagian atas dibendung dg tourniquet
n Daerah/tempat untuk menusuk vena didesinfeksi, lalu jarum abocath ditusukkan ke vena dg lubang jarum menghadap ke atas
n Bila berhasil, darah akan keluar, jarum ditarik sedikit lalu abocath dimasukkan hingga penuh
n Tourniquet dilepas, jarum ditarik, ujung abocath pd tempat tusukan ditekan, lalu sambung selang infus, keluarkan cairan sedikit biar udara diujung selang tidak masuk vena
n Klem dilonggarkan untuk melihat kelancaran tetesan
n Bila tetesan lancar, viksasi dg plester
n Tempat tusukan ditutup kasa
n Tetesan diatur sesuai dg yg ditentukan
n Anggota yg dipasang infus diatur letaknya agar jarum abocath tidak bergeser, bila perlu pasang spalk (pd anak-anak)
n Bereskan alat-alat yg telah digunakan
n Px dirapikan dan posisi diusahakan seenak mungkin
n Bila pemberian infus selesai, cara melepas infus distop plester dilepas kemudian jarum dicabut, bekas tusukan ditekan dg kapas alkohol, lalu ditutup dg plester
n Penyelesaian
n Merapikan alat
n Merapikan Px
n Pencatatan dan pelaporan
7. ATURAN DASAR INJEKSI
Bacalah daftar obat px yg menunjukkan jenis obat & cara pemberiannya.
Ambil spuit & jarum streril ditempatnya dg korentang.
Larutkan lebih dulu obat-obat yg akan dipakai.
Baca kembali daftar obat tsb,ambil obat yg dimaksud,lakukan desinfeksi dg kapas alkohol pd leher botol/ampul sebelum digergaji.Juga pd kare penutup flakon ( botol obat ).
Spuit diisi dg obat sesuai dosis yg ditentukan.Udara dlm spuit dikeluarkan,lalu spuit serta kapas alkohol dimasukkan ke bak spuit yg tersedia & langsung dibawa ke dekat pasien.
Baca kembali daftar pemberian obat & cocokkan dg papan nama/langsung tanyakan namanya pd px yg bersangkutan.
Posisi px diatur sesuai dg cara pemberian suntikan.Selanjutnya permukaan kulit didaerah yg akan disuntik di desinfeksi dg kapas alkohol,lalu obat disuntikkan.
Setelah selesai,jarum dicabut,bekas suntikan didesinfeksi dg kapas alkohol & ditahan sebentar agar darah tidak keluar.
Peralatan dibersihkan,dibereskan & dikembalikan ke tempat semula.
CARA INJEKSI INTRA CUTAN
n Jarum yg digunakan biasanya no.18,20 / khusus,spuit khusus.
n Permukaan kulit didesinfeksi,lalu ditegangkan dg tangan kiri.
n Lubang jarum menghadap ke atas,membuat sudut 15-20 dg permukaan kulit.
n Obat dimasukkan sampai permukaan kulit mengembung.
n Setelah obat masuk semua,jarum dicabut dg cepat.Bekas tusukan DILARANG DITEKAN/DIHAPUS.
n Setelah 5-10 mnt Lihat & catat reaksi yg terjadi pd daerah tusukan,laporkan hasilnya.
Injeksi Sub Cutan / SC
n Diberikan dengan menusukkan jarum pada area di bawah kulit yaitu pada jaringan konektif/lemak dibawah dermis.
n Yang lazim dipakai adalah lengan atas bagian luar, paha bagian depan, perut, area skapula, ventrogluteal dan dorsogluteal.
n Jangan berikan pada area yg nyeri, merah, pruritis/oedema.
n Berikan suntikan dengan kemiringan 450.
n Lakukan aspirasi sebelum memasukkan obat, jangan masukkan obat bila aspirasi keluar darah.
CARA INJEKSI SUB CUTAN / SC
Permukaan kulit di desinfeksi,lalu diangkat sedikit dg tangan kiri.
Jarum ditusukkan dg lubangnya menghadap ke atas & membentuk sudut 45 dg permukaan kulit.
Penghisap spuit ditarik sedikit,bila ada darah obat jangan dimasukkan.Bila tidak ada darah masukkan obat perlahan-lahan.
Setelah obat masuk semua,jarum dicabut dg cepat.Bekas tusukan jarum ditekan dg kapas alkohol.
Injeksi Intra muskular / IM
Memberikan obat melalui suntikan ke dlm jaringan otot.
Absorbsi lebih cepat, mencegah mengurangi iritasi obat.
Menyebabkan rasa nyeri, luka dikulit dan rasa takut pasien.
Tusukan pada posisi 900.
Tempat injeksi:
Otot DELTOID/pangkal lengan.
Otot QUADRISEP(1/3 tengah paha sebelah luar)
Otot GLUTEAL(1/3 bagian dr SIAS=Spina Iliaka Anterior Superior).
CARA INJEKSI INTRA MUSCULAR / IM
v Tentukan daerah yg akan disuntik,lalu permukaan kulit di daerah tsb di desinfeksi kapas alkohol.
v Jarum ditusukkan tegak lurus sudut 90 dg permukaan kulit.
v Penghisap spuit ditarik sedikit,bila ada darah obat jgn dimasukkan.Tapi bila tidak ada darah obat dimasukkan perlahan-lahan.
v Setelah obat masuk semua,jarum dicabut dg cepat.Bekas tusukan jarum ditekan dg kapas alkohol.
Injeksi Intravena
n Bereaksi sangat cepat karena langsung masuk pada peredaran darah/vena anggota gerak dan tidak memerlukan absorbsi.
n Perhatikan tehnik aseptik.
n Pasang turniket diatas area vena dan pasien disuruh menggenggam erat supaya terjadi distensi vena shg tampak jelas.
n Posisi tusukan jarum membentuk sudut 450.
n Lakukan observasi terhadap reaksi obat setelah melakukan injeksi.
n Tempat yg lazim digunakan :
n Vena sefalika
n Vena basilika
n Vena antebrakhial medialis
n Vena basilika tributaris
n Vena palmar digitalis
CARA INJEKSI IV
n Tentukan daerah yg akan disuntik,lalu lakukan pembendungan di bagian atasnya.Selanjutnya permukaan kulit di daerah tsb di desinfeksi dg kapas alkohol & ditegangkan.
n Pasang pengalas di bagian yg akan di suntik & dekatkan bengkok (nierbeken) ke bagian tubuh yg akan disuntik.
n Jarum ditusukkan ke dlm pembuluh darah yg di maksud dg lubang jarum menghadap ke atas.
n Penghisap spuit ditarik sedikit,bila jarum berhasil masuk ke dlm vena,darah akan masuk ke dlm spuit/mengalir sendiri.Tapi bila tidak ada darah yg keluar berarti jarum tidak berhasil & penyuntikan harus dipindahkan ke bagian lain.Setelah berhasil,bukalah segera karet pembendung.
8. NGT PADA ORANG DEWASA
1.PERSIAPAN ALAT
Bak instrument berisi handscoon, tongspatel, selang NGT, gunting klem.
Bengkok
Cucing
Gunting plester
Jeli
Spuit besar
Tisu
Kapas alcohol
Stetoskop
10. Gelas berisi air matang
2.PERSIAPAN PASIEN
Memberi tahu tindakan yang akan dilakukan
Tidurkan pasien di atas bantal
Mendekatkan alat pada pasien
PERSIAPAN LINGKUNGAN
Tutup pintu
Tutup tirai
PERSIAPAN DIRI
Memakai celemek
Cuci tangan 7 langkah
Mengatur posisi pasien dengan posisi highfowler
Memeriksa lubang hidung
Memasang perlak di bawah kepala pasien
Memasang handuk pada dada pasien
Memakai handscoon
Mengambil selang NGT pada tempatnya
Mengukur selang dengan metode tradisional, metode Hansen
10. Menaruh jeli pada bak instrument/ langsung pada handscoon
11. Melumuri selang dengan jeli
12. Memasukkan selang ke belakang tenggorokan dengan posisi ekstensi (menunduk)
13. Menyuruh pasien menelan selang, dengan cara memberi minum, pasien disuruh posisi normal
14. Untuk melanjutkan selang ke dalam lambung, pasien disuruh posisi flexi (menengadah)
15. Setelah masuk semua, cek dengan tongue spatel dengan cara pasien disuruh membuka mulut, lihat dengan cara menyenterinya
16. Pengecekan:
Memasukkan udara dengan spuit sebanyak 10-20 cc ke dalam lambung, kemudian dengarkan dengan stetoskop pada bagian perut kiri atas
Lakukan aspirasi, bila keluar cairan berarti sudah masuk ke dalam lambung, kemudian cairan masukkan ke dalam lambung kebali
Dengan memasukkan selang ke dalam air matang, posisi pasien ekspirasi, bila keluar gelembung, berarti selang masuk ke dalam paru-paru, bila tidak ada gelembung berarti sudah masuk lambung
17. Membuka hanscoon
18. Fiksasi dengan plester, usahakan tidak terjadi penekanan pada hidung
19. Rapikan pasien
20. Rapikan alat
21. Evaluasi kondisi pasien secara kontinyu
22. Cuci tangan
23. Lakukan pendokumentasian (tanggal dan jam pemasangan, perasat yang digunakan, keadaan pasien)
9. PEMERIKSAAN FISIK DEWASA
1.PERSIAPAN ALAT
Stetoskop
Tensi darah
Thermometer
Timbangan
Reflek hamer
Pengukur lila
Arloji/ stopwatch
Senter
Tongue spatel
10. Alcohol dan kapas?tissu
11. Air sabun
12. Air DTT
13. Alat ukur tinggi badan
14.
HAL PERTAMA YANG DILIHAT
1. Kesadaran pasien
2. Cara berjalan
3. Jenis kelamin
4. Raut wajah (biru, pucat, sembab)
5. Kebersihan pasien
6. Tingkat sakitnya
LANGKAH 1
1. Anamnesa
2. Mengukur berat badan dan tinggi badan
3. Pemeriksaan fisik
4. Tanda –tanda vital :
q Tensi (jantung arteri brachialis)
q Suhu (pada ketiak kiri, lalu tangan kiri dilipat ke perut)
q Nafas (Dengan melihat naik turunnya dada 15-20 kali/menit)
q Nadi (normal 60-80 kali/menit)
LANGKAH 2
Head to toot
1. RAMBUT
· (warna, jumlah, kerontokan, kebersihan kulit kepala)
· Inspeksi jika untuk menentukan ada benjolan apa tidak dengan palpasi
2. MATA
· Pabrex (cembung atau cekung matanya)
· Sclera
· Konjungtiva
· Reflek pupil
· Reflek kornea
3. HIDUNG
· Inspeksi (simetris apa tidak, ada polip apa tidak, kemudian palpasi hidung)
4. BIBIR
· Warna, kelembapan
· Gigi dan gusi
· Ada gigi palsu apa tidak
· Lidah (warna dan kebersihannya)
· Tonsil/ tonsisitas (ada infeksi apa tidak)
5. TELINGA
· Warna dan kesimetrisan
· Serumen (kebersihan di dalam telinga)
· Palpasi (telingan terasa nyeri, sakit atau tidak)
6. LEHER
· Inspeksi apakah ada infeksi pembesaran kelenjar tiroid
· Palpasi kelenjar tiroid (pasien disuruh menelan)
· Pasien disuruh mengejan untuk mengetahui ada atau tidaknya bendungan pada vena
7. DADA/PAYUDARA
· Inspeksi (simetris apa tidak, kebersihannya, warna kulit dan areola
· Palpasi (dari dalam keluar, memutar sampai ketiak)
· Perkusi untuk melihat suara normal apa tidak:
a) Sonor-> pada paru2
b) Timpani -> pada abdomen
c) Redup-> pada organ yang tidak ada udaranya
d) Pekak-> pada otot
e) Hipersonor-> pada lambung
· Auskultasi
a) Palpasi keseluruhan ak pasien sakit perut, artinya dari luar ketempat yang sakit
b) Khusus untuk pembesaran hati dan ginjal -> dari sias kana ditekan sampai iga kana ada benjolan apa tidak
c) Limfa-> dari sias kanan ke kiri
d) Ginjal -> ditekan dari bawah ke atas
e) Abdomen :
i. Inspeksi (tegang/kembung, ada bekas operasi apa tidak, ada benjolan apa tidak)
ii. Auskultasi
iii. Perkusi
iv. Palpasi
8. VAGINA
· Posisi pasien dorsal recumbent:
i. Buka vulva
ii. Ada cairan atau tidak
iii. Warna
iv. Bau, odem, bersihkan usap 3 kali
· Palpasi -> pada kelenjar bartolini dengan 2 jari, dengan menggunakan handscoon, untuk mengetahui pembesaran kelenjar bartolini
· Ekstermitas:
i. Palpasi pada tulang kering (kaki)
ii. Kaki semetrik apa tidak
iii. Jari-jari (polidating-> kekebihan jari, sindatif-> kekurangan jari)
iv. Oden atau tidak
v. Ada varises apa tidak (dengan pasien posisi sim)
vi. Periksa anus ada hemoroid apa tidak
vii. Ukur lingkar lengan (lengan bagian kiri)
viii. Lutut ditekuk kemudian pukul dengan reflek hamer
9. Rapikan pasien
10. Rapikan alat
11. pendokumentasian
10MEMANDIKAN BAYI
1. PERSIAPAN ALAT
1. Pantum bayi
2. Gedong
3. Sarung tangan bayi
4. 2 wslap
5. Popok +baju bayi
6. Topi bayi
7. Celemek
8. 3 cucing, a. berisi kasa steril, b. berisi 4 kapas DTT, c. berisi kasa yg diisi air DTT/ kasa DTT
9. Bak instrument berisi handscoon
10. Sabun bayi
11. Bedak bayi
12. Tempat pakaian kotor
13. Bak mandi
14. Timbangan bayi
15. 2 handuk
16. Thermometer rectal
17. Cotton bat
18. Bengkok
19. Sisir
NB: persiapan timbangan di beri alas
2.PERSIAPAN PASIEN
Menjelaskan prosedur yang akan dilakukan kepada keluarga bayi
3.PERSIAPAN DIRI
1. Cuci tangan
2. Memakai celemek
3. Persiapan tempat ( di tempat datar)
4. Persiapan air hangat di bak
5. Membuka 2 handuk
6. Menyiapkan gedong-popok-baju (beri bedak pada baju bila perlu)
7. Bayi diambil (cara mengambil bayi adalah tangan kiri menyangga leher dan bahu bayi, tangan kanan memegang kaki, dengan jari tengah diantara kaki kanan dan kiri bayi
8. Diletakkan di handuk pertama
9. Membersihakan mata, dengan menggunakan kapas DTT, kepala disanggah, dibersihkan dari pangkal hidung ke samping, satu kali usap, ganti yang sebelah kiri
10. Lihat hidungnya, bersihkan dengan cotton bat , bila ada kotoran
11. Lihat mulutnya, bila ada bekas susu dibersihkan dengan kapas DTT, kapas DTT dipilin dengan jari telunjuk, masukkan ke dalam mulut dan bersihkan mulut
12. Lihat telinganya
13. Membuka popok bayi, bila bayi BAB,bersihkan dengan kasa DTT
14. Ukur suhu pada bagian rectal, bayi dimiringkan, masukkan thermometer rectal sampai batas tembaga ke anus, ditunggu 3-5 menit, lihat hasilnya, dan catat
15. Buka baju bayi, buka juga bungkusan pada tali pusar, bila lengket beri air hangat dulu
16. Melakukan penimbangan, catat hasilnya
17. Pakaian yang kotor di buang pada tempat sampah
18. Ambil waslap, rendam dengan air hangat
19. Kepala diangkat, bersihkan rambut
20. Basahi wajah, leher, ketiak kiri kanan, tangan kiri kanan, dada, perut, punggung, kaki kanan kiri, alat genitalia
21. Waslap dilepas
22. Keramasi rambut bayi dengan sampo bayi
23. Beri sabun, mulai dari leher, ketiak kiri kanan, tangan kiri kangan, dada, perut, punggung, kaki kanan kiri, alat genitalia
24. Ganti waslap yang bersih
25. Waslap dicelupkan pada air hangat
26. Bersihkan sisa sabun pada tubuh bayi
27. Bayi diangkat,kemudian letakkan ke bak dengan posisi bayi setengah duduk, kemudian dibilas mulai dari kepala, leher, ketiak kiri kanan, tangan kiri kangan, dada, perut, punggung, kaki kanan kiri, alat genitalia
28. Angkat bayi, letakkan pada handuk yang kedua
29. Bayi dikeringkan dengan handuk, mulai dari kepala, leher, ketiak kiri kanan, tangan kiri kangan, dada, perut, punggung, kaki kanan kiri, alat genitalia
30. Bayi diletakkan pada pakaian yang sudah dipersiapkan
31. Ambil kasa steril kering, untuk membungkus tali pusar
32. Beri minyak telon, pada bagian dada,punggung, perut, telapak tangan, telapak kaki
33. Beri bedak, jangan terlalu tebal pada tempat lipatan dan alat genitalia
34. Baju dipakaikan, popok juga, jika ada pasang topi, sarung tangan, beri bedak juga pada wajah, boleh di sisir juga
35. Bayi di bedong (prinsip kepala tertutup)
36. Menilai keadaan bayi (pucat, biru, sehat)
37. Menyerahkan bayi pada keluarga
38. Bereskan peralatan
39. Celemek di lepas
40. Cuci tangan
41. Pendokumentasian ( suhu, berat badan, tanggal jam pemandian, keadaan bayi sebelum dan sesudah dimandikan)
11. MEMBERIKAN HUKNA RENDAH/TINGGI
PERSIAPAN ALAT
1. Irigator/ selang karet
2. Canula rectal
3. Air hangat 40,5 – 43,5 derajat celcius sebanyak 1 liter untuk hukna rendah dan 2 liter hukna tinggi
4. Tromol berisi handscoon
5. Tissue
6. Korentang pada tempatnya
7. Air untuk cebok
8. Jeli
9. Lap
10. Perlak
11. Handuk
12. Celemek
13. Tiang infus
14. Pispot
15. Bengkok
PERSIAPAN PASIEN
1. Dekatkan alat pada pasien
2. Tutup jendela, tirai dan pintu
3. Komunikasi dengan pasien, jelaskan prosedur yang akan dilakukan, lakukan juga inform consent
PERSIAPAN DIRI
( Huknah rendah)
1. Pasang celemek
2. Cuci tangan 7 langkah, kemudian lap tangan
3. Memakai handscoon
4. Memasang perlak
5. Mengatur pasien dengan posisi sim kiri
6. Memasang handuk pada pantat pasien dengan bagian kanan lebih panjang
7. Lepas celana pasien
8. Mengukur tinggi irigator (50 cm)
9. Memasang irrigator pada tiang infuse, air dimasukkan, keluarkan sedikit air, hingga udara dalam selang tidak ada
10. Mendekatkan bengkok ke pasien
11. Memberi jeli pada kanula rekti
12. Masukkan pada anus sampai 7,5 cm
13. Sebelum airnya habis, cabut kanula rekti
14. Kembalikan posisi pasien ke posisi normal
15. Menanyai pasien, apakah sudah ingin BAB
16. Bila pasien ingin BAB, tawarkan mau BAB di pispot atau toilet
17. Angkat bokong pasien, letakkan pispot di bawah anus pasien
18. Bila sudah selesai, ambil tisu, dan ceboki pasien dengan air yang sudah ada, kemudian keringkan dengan handuk
19. Lepaskan handuk, suruh pasien pakai celana
20. Handuk dilipat/ letakkan pada tempat pakaian kotor
21. Rapikan pasien
22. Rapikan alat
23. Lepas handscoon
24. Cuci tangan 7 langkah , keringkan dengan lap
25. Buka celemek
26. Memberi tahu pasien, bahwa prosedur selesai dilakukan
27. Buka tirai, pintu, jendela
28. Pendokumentasian
· (identitas pasien,
· tanggal jam waktu pemasangan,
· keadaan pasien sebelum dan sesudah pemasangan,
· tindakan,
· jumlah,
· warna
· dan bentuk(konsistensi->cair/ lunak/padat),
· nama petugas, TT
Sabtu, 31 Desember 2011
Minggu, 11 Desember 2011
Anatomi Fisiologi Sistem Perkemihan (Urinaria)
A. Pengertian Sistem Urinaria
Sistem perkemihan atau sistem urinaria, adalah suatu sistem dimana terjadinya proses penyaringan darah sehingga darah bebas dari zat-zat yang tidak dipergunakan oleh tubuh dan menyerap zat-zat yang masih di pergunakan oleh tubuh. Zat-zat yang tidak dipergunakan oleh tubuh larut dalam air dan dikeluarkan berupa urin (air kemih).
B. Susunan Sistem Perkemihan atau Sistem Urinaria :
1. GINJAL
Kedudukan ginjal terletak dibagian belakang dari kavum abdominalis di belakang peritonium pada kedua sisi vertebra lumbalis III, dan melekat langsung pada dinding abdomen.
Bentuknya seperti biji buah kacang merah (kara/ercis), jumlahnaya ada 2 buah kiri dan kanan, ginjal kiri lebih besar dari pada ginjal kanan.
Pada orang dewasa berat ginjal ± 200 gram. Dan pada umumnya ginjal laki – laki lebih panjang dari pada ginjal wanita.
Satuan struktural dan fungsional ginjal yang terkecil di sebut nefron. Tiap – tiap nefron terdiri atas komponen vaskuler dan tubuler. Komponen vaskuler terdiri atas pembuluh – pembuluh darah yaitu glomerolus dan kapiler peritubuler yang mengitari tubuli. Dalam komponen tubuler terdapat kapsul Bowman, serta tubulus – tubulus, yaitu tubulus kontortus proksimal, tubulus kontortus distal, tubulus pengumpul dan lengkung Henle yang terdapat pada medula.
Kapsula Bowman terdiri atas lapisan parietal (luar) berbentuk gepeng dan lapis viseral (langsung membungkus kapiler golmerlus) yang bentuknya besar dengan banyak juluran mirip jari disebut podosit (sel berkaki) atau pedikel yang memeluk kapiler secara teratur sehingga celah – celah antara pedikel itu sangat teratur.
Kapsula bowman bersama glomerolus disebut korpuskel renal, bagian tubulus yang keluar dari korpuskel renal disabut dengan tubulus kontortus proksimal karena jalannya yang berbelok – belok, kemudian menjadi saluran yang lurus yang semula tebal kemudian menjadi tipis disebut ansa Henle atau loop of Henle, karena membuat lengkungan tajam berbalik kembali ke korpuskel renal asal, kemudian berlanjut sebagai tubulus kontortus distal.
a. Bagian – Bagian Ginjal
Bila sebuh ginjal kita iris memanjang, maka aka tampak bahwa ginjal terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian kulit (korteks), sumsum ginjal (medula), dan bagian rongga ginjal (pelvis renalis).
1. Kulit Ginjal (Korteks)
Pada kulit ginjal terdapat bagian yang bertugas melaksanakan penyaringan darah yang disebut nefron. Pada tempat penyarinagn darah ini banyak mengandung kapiler – kapiler darah yang tersusun bergumpal – gumpal disebut glomerolus. Tiap glomerolus dikelilingi oleh simpai bownman, dan gabungan antara glomerolus dengan simpai bownman disebut badan malphigi
Penyaringan darah terjadi pada badan malphigi, yaitu diantara glomerolus dan simpai bownman. Zat – zat yang terlarut dalam darah akan masuk kedalam simpai bownman. Dari sini maka zat – zat tersebut akan menuju ke pembuluh yang merupakan lanjutan dari simpai bownman yang terdapat di dalam sumsum ginjal.
2. Sumsum Ginjal (Medula)
Sumsum ginjal terdiri beberapa badan berbentuk kerucut yang disebut piramid renal. Dengan dasarnya menghadap korteks dan puncaknya disebut apeks atau papila renis, mengarah ke bagian dalam ginjal. Satu piramid dengan jaringan korteks di dalamnya disebut lobus ginjal. Piramid antara 8 hingga 18 buah tampak bergaris – garis karena terdiri atas berkas saluran paralel (tubuli dan duktus koligentes). Diantara pyramid terdapat jaringan korteks yang disebut dengan kolumna renal. Pada bagian ini berkumpul ribuan pembuluh halus yang merupakan lanjutan dari simpai bownman. Di dalam pembuluh halus ini terangkut urine yang merupakan hasil penyaringan darah dalam badan malphigi, setelah mengalami berbagai proses.
3. Rongga Ginjal (Pelvis Renalis)
Pelvis Renalis adalah ujung ureter yang berpangkal di ginjal, berbentuk corong lebar. Sabelum berbatasan dengan jaringan ginjal, pelvis renalis bercabang dua atau tiga disebut kaliks mayor, yang masing – masing bercabang membentuk beberapa kaliks minor yang langsung menutupi papila renis dari piramid. Kliks minor ini menampung urine yang terus kleuar dari papila. Dari Kaliks minor, urine masuk ke kaliks mayor, ke pelvis renis ke ureter, hingga di tampung dalam kandung kemih (vesikula urinaria).
b. Fungsi Ginjal:
1. Mengekskresikan zat – zat sisa metabolisme yang mengandung nitrogennitrogen, misalnya amonia.
2. Mengekskresikan zat – zat yang jumlahnya berlebihan (misalnya gula dan vitamin) dan berbahaya (misalnya obat – obatan, bakteri dan zat warna).
3. Mengatur keseimbangan air dan garam dengan cara osmoregulasi.
4. Mengatur tekanan darah dalam arteri dengan mengeluarkan kelebihan asam atau basa.
c. Tes Fungsi Ginjal Terdiri Dari :
1. Tes untuk protein albumin
Bila kerusakan pada glomerolus atau tubulus, maka protein dapat bocor masuk ke dalam urine.
2. Mengukur konsentrasi urenum darah
Bila ginjal tidak cukup mengeluarkan urenum maka urenum darah naik di atas kadar normal (20 – 40) mg%.
3. Tes konsentrasi
Dilarang makan atau minum selama 12 jam untuk melihat sampai seberapa tinggi berat jenisnya naik.
d. Peredaran Darah dan Persyarafan Ginjal
Peredaran Darah
Ginjal mendapat darah dari aorta abdominalis yang mempunyai percabangan arteria renalis, yang berpasangan kiri dan kanan dan bercabang menjadi arteria interlobaris kemudian menjadi arteri akuata, arteria interlobularis yang berada di tepi ginjal bercabang menjadi kapiler membentuk gumpalan yang disebut dengan glomerolus dan dikelilingi leh alat yang disebut dengan simpai bowman, didalamnya terjadi penyadangan pertama dan kapilerdarah yang meninggalkan simpai bowman kemudian menjadi vena renalis masuk ke vena kava inferior.
Persyarafan Ginjal
Ginjal mendapat persyarafan dari fleksus renalis (vasomotor) saraf ini berfungsi untuk mengatur jumlah darah yang masuk ke dalam ginjal, saraf inibarjalan bersamaan dengan pembuluh darah yang masuk ke ginjal. Anak ginjal (kelenjar suprarenal) terdapat di atas ginjal yang merupakan senuah kelenjar buntu yang menghasilkan 2(dua) macam hormon yaitu hormone adrenalin dan hormn kortison.
2. URETER
Terdiri dari 2 saluran pipa masing – masing bersambung dari ginjal ke kandung kemih (vesika urinaria) panjangnya ± 25 – 30 cm dengan penampang ± 0,5 cm. Ureter sebagian terletak dalam rongga abdomen dan sebagian terletak dalam rongga pelvis.
Lapisan dinding ureter terdiri dari :
a. Dinding luar jaringan ikat (jaringan fibrosa)
b. Lapisan tengah otot polos
c. Lapisan sebelah dalam lapisan mukosa
Lapisan dinding ureter menimbulkan gerakan – gerakan peristaltik tiap 5 menit sekali yang akan mendorong air kemih masuk ke dalam kandung kemih (vesika urinaria).
Gerakan peristaltik mendorong urin melalui ureter yang dieskresikan oleh ginjal dan disemprotkan dalam bentuk pancaran, melalui osteum uretralis masuk ke dalam kandung kemih.
Ureter berjalan hampir vertikal ke bawah sepanjang fasia muskulus psoas dan dilapisi oleh pedtodinium. Penyempitan ureter terjadi pada tempat ureter terjadi pada tempat ureter meninggalkan pelvis renalis, pembuluh darah, saraf dan pembuluh sekitarnya mempunyai saraf sensorik.
3. VESIKULA URINARIA ( Kandung Kemih )
Kandung kemih dapat mengembang dan mengempis seperti balon karet, terletak di belakang simfisis pubis di dalam ronga panggul.
Bentuk kandung kemih seperti kerucut yang dikelilingi oleh otot yang kuat, berhubungan ligamentum vesika umbikalis medius.
Bagian vesika urinaria terdiri dari :
1. Fundus, yaitu bagian yang mengahadap kearah belakang dan bawah, bagian ini terpisah dari rektum oleh spatium rectosivikale yang terisi oleh jaringan ikat duktus deferent, vesika seminalis dan prostate.
2. Korpus, yaitu bagian antara verteks dan fundus.
3. Verteks, bagian yang maju kearah muka dan berhubungan dengan ligamentum vesika umbilikalis.
Dinding kandung kemih terdiri dari beberapa lapisan yaitu, peritonium (lapisan sebelah luar), tunika muskularis, tunika submukosa, dan lapisan mukosa (lapisan bagian dalam).
Proses Miksi (Rangsangan Berkemih).
Distensi kandung kemih, oleh air kemih akan merangsang stres reseptor yang terdapat pada dinding kandung kemih dengan jumlah ± 250 cc sudah cukup untuk merangsang berkemih (proses miksi). Akibatnya akan terjadi reflek kontraksi dinding kandung kemih, dan pada saat yang sama terjadi relaksasi spinser internus, diikuti oleh relaksasi spinter eksternus, dan akhirnya terjadi pengosongan kandung kemih.
Rangsangan yang menyebabkan kontraksi kandung kemih dan relaksasi spinter interus dihantarkan melalui serabut – serabut para simpatis. Kontraksi sfinger eksternus secara volunter bertujuan untuk mencegah atau menghentikan miksi. kontrol volunter ini hanya dapat terjadi bila saraf – saraf yang menangani kandung kemih uretra medula spinalis dan otak masih utuh.
Bila terjadi kerusakan pada saraf – saraf tersebut maka akan terjadi inkontinensia urin (kencing keluar terus – menerus tanpa disadari) dan retensi urine (kencing tertahan).
Persarafan dan peredaran darah vesika urinaria, diatur oleh torako lumbar dan kranial dari sistem persarafan otonom. Torako lumbar berfungsi untuk relaksasi lapisan otot dan kontraksi spinter interna.
Peritonium melapis kandung kemih sampai kira – kira perbatasan ureter masuk kandung kemih. Peritoneum dapat digerakkan membentuk lapisan dan menjadi lurus apabila kandung kemih terisi penuh. Pembuluh darah Arteri vesikalis superior berpangkal dari umbilikalis bagian distal, vena membentuk anyaman dibawah kandung kemih. Pembuluh limfe berjalan menuju duktus limfatilis sepanjang arteri umbilikalis.
4. URETRA
Uretra merupakan saluran sempit yang berpangkal pada kandung kemih yang berfungsi menyalurkan air kemih keluar.
Pada laki- laki uretra bewrjalan berkelok – kelok melalui tengah – tengah prostat kemudian menembus lapisan fibrosa yang menembus tulang pubis kebagia penis panjangnya ± 20 cm.
Uretra pada laki – laki terdiri dari :
1. Uretra Prostaria
2. Uretra membranosa
3. Uretra kavernosa
Lapisan uretra laki – laki terdiri dari lapisan mukosa (lapisan paling dalam), dan lapisan submukosa.
Uretra pada wanita terletak dibelakang simfisis pubisberjalan miring sedikit kearah atas, panjangnya ± 3 – 4 cm. Lapisan uretra pada wanita terdiri dari Tunika muskularis (sebelah luar), lapisan spongeosa merupakan pleksus dari vena – vena, dan lapisan mukosa (lapisan sebelah dalam).Muara uretra pada wanita terletak di sebelah atas vagina (antara klitoris dan vagina) dan uretra di sini hanya sebagai saluran ekskresi.
C. Urine (Air Kemih)
1. Sifat – sifat air kemih
- Jumlah eksresi dalam 24 jam ± 1.500 cc tergantung dari masuknya (intake) cairan serta faktor lainnya.
- Warna bening muda dan bila dibiarkan akan menjadi keruh.
- Warna kuning terantung dari kepekatan, diet obat – obatan dan sebagainya.
- Bau khas air kemih bila dibiarkan terlalu lama maka akan berbau amoniak.
- Baerat jenis 1.015 – 1.020.
- Reaksi asam bila terlalu lama akan menjadi alkalis, tergantung pada diet (sayur menyebabkan reaksi alkalis dan protein memberi reaksi asam).
2. Komposisi air kemih
- Air kemih terdiri dari kira – kira 95 % air
- Zat – zat sisa nitrogen dari hasil metabolisme protein asam urea, amoniak dan kreatinin
- Elektrolit, natrium, kalsium, NH3, bikarbonat, fosfat dan sulfat
- Pigmen (bilirubin, urobilin)
- Toksin
- Hormon
3. Mekanisme Pembentukan Urine
Dari sekitar 1200ml darah yang melalui glomerolus setiap menit terbentuk 120 – 125ml filtrat (cairan yang telah melewati celah filtrasi). Setiap harinyadapat terbentuk 150 – 180L filtart. Namun dari jumlah ini hanya sekitar 1% (1,5 L) yang akhirnya keluar sebagai kemih, dan sebagian diserap kembali.
4. Tahap – tahap Pembentukan Urine
a. Proses filtrasi
Terjadi di glomerolus, proses ini terjadi karena permukaan aferent lebih besar dari permukaan aferent maka terjadi penyerapan darah, sedangkan sebagian yang tersaring adalah bagian cairan darah kecuali protein, cairan yang tersaring ditampung oleh simpai bowman yang terdiri dari glukosa, air, sodium, klorida, sulfat, bikarbonat dll, diteruskan ke seluruh ginja.
b. Proses reabsorpsi
Terjadi penyerapan kembali sebagian besar dari glukosa, sodium, klorida, fosfat dan beberapa ion karbonat. Prosesnya terjadi secara pasif yang dikenal dengan obligator reabsorpsi terjadi pada tubulus atas. Sedangkan pada tubulus ginjal bagian bawah terjadi kembali penyerapan dan sodium dan ion karbonat, bila diperlukan akan diserap kembali kedalam tubulus bagian bawah, penyerapannya terjadi secara aktif dikienal dengan reabsorpsi fakultatif dan sisanya dialirkan pada pupila renalis.
c. Augmentasi (Pengumpulan)
Proses ini terjadi dari sebagian tubulus kontortus distal sampai tubulus pengumpul. Pada tubulus pengumpul masih terjadi penyerapan ion Na+, Cl-, dan urea sehingga terbentuklah urine sesungguhnya.
Dari tubulus pengumpul, urine yang dibawa ke pelvis renalis lalu di bawa ke ureter. Dari ureter, urine dialirkan menuju vesika urinaria (kandung kemih) yang merupakan tempat penyimpanan urine sementara. Ketika kandung kemih sudah penuh, urine dikeluarkan dari tubuh melalui uretra.
4. Mikturisi
Peristiwa penggabungan urine yang mengalir melui ureter ke dalam kandung kemih., keinginan untuk buang air kecil disebabkan penanbahan tekanan di dalam kandung kemih dimana saebelumnmya telah ada 170 – 23 ml urine.
Miktruisi merupakan gerak reflek yang dapat dikendalikan dan dapat ditahan oleh pusat – pusat persyarafan yang lebih tinggi dari manusia, gerakannya oleh kontraksi otot abdominal yang menekan kandung kemih membantu mengosongkannya.
5. Ciri – ciri Urine Normal
Rata – rata dalam satu hari 1 – 2 liter, tapi berbeda – beda sesuai dengan jumlah cairan yang masuk. Warnanya bening oranye pucat tanpa endapan, baunya tajam, reaksinya sedikit asam terhadap lakmus dengan pH rata – rata 6.
Daftar Pustaka
Luvina, Evi Dwisang, (2003), Inti Sari Biologi Untuk SMA, Jakarta : Gramedia.
Prawirohartono Slamet, (1991), IPA Biologi SMP, Jakarta : Gramedia.
Syamsuri Istamar, (2004), Biologi Untuk SMA, Jakarta : Erlangga.
Syarifuddin, (1992), Anatomi dan Fisiologi Untuk Keperawatan, Jakarta : EGC.
Gambar ginjal, (2008), www.geoogle.com
Gambar proses pembentukan urine, (2008), www.geoogle.com
http://nurad1k.blogspot.com/2010/02/anatomi-fisiologi-sistem-perkemihan.html
Sistem perkemihan atau sistem urinaria, adalah suatu sistem dimana terjadinya proses penyaringan darah sehingga darah bebas dari zat-zat yang tidak dipergunakan oleh tubuh dan menyerap zat-zat yang masih di pergunakan oleh tubuh. Zat-zat yang tidak dipergunakan oleh tubuh larut dalam air dan dikeluarkan berupa urin (air kemih).
B. Susunan Sistem Perkemihan atau Sistem Urinaria :
1. GINJAL
Kedudukan ginjal terletak dibagian belakang dari kavum abdominalis di belakang peritonium pada kedua sisi vertebra lumbalis III, dan melekat langsung pada dinding abdomen.
Bentuknya seperti biji buah kacang merah (kara/ercis), jumlahnaya ada 2 buah kiri dan kanan, ginjal kiri lebih besar dari pada ginjal kanan.
Pada orang dewasa berat ginjal ± 200 gram. Dan pada umumnya ginjal laki – laki lebih panjang dari pada ginjal wanita.
Satuan struktural dan fungsional ginjal yang terkecil di sebut nefron. Tiap – tiap nefron terdiri atas komponen vaskuler dan tubuler. Komponen vaskuler terdiri atas pembuluh – pembuluh darah yaitu glomerolus dan kapiler peritubuler yang mengitari tubuli. Dalam komponen tubuler terdapat kapsul Bowman, serta tubulus – tubulus, yaitu tubulus kontortus proksimal, tubulus kontortus distal, tubulus pengumpul dan lengkung Henle yang terdapat pada medula.
Kapsula Bowman terdiri atas lapisan parietal (luar) berbentuk gepeng dan lapis viseral (langsung membungkus kapiler golmerlus) yang bentuknya besar dengan banyak juluran mirip jari disebut podosit (sel berkaki) atau pedikel yang memeluk kapiler secara teratur sehingga celah – celah antara pedikel itu sangat teratur.
Kapsula bowman bersama glomerolus disebut korpuskel renal, bagian tubulus yang keluar dari korpuskel renal disabut dengan tubulus kontortus proksimal karena jalannya yang berbelok – belok, kemudian menjadi saluran yang lurus yang semula tebal kemudian menjadi tipis disebut ansa Henle atau loop of Henle, karena membuat lengkungan tajam berbalik kembali ke korpuskel renal asal, kemudian berlanjut sebagai tubulus kontortus distal.
a. Bagian – Bagian Ginjal
Bila sebuh ginjal kita iris memanjang, maka aka tampak bahwa ginjal terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian kulit (korteks), sumsum ginjal (medula), dan bagian rongga ginjal (pelvis renalis).
1. Kulit Ginjal (Korteks)
Pada kulit ginjal terdapat bagian yang bertugas melaksanakan penyaringan darah yang disebut nefron. Pada tempat penyarinagn darah ini banyak mengandung kapiler – kapiler darah yang tersusun bergumpal – gumpal disebut glomerolus. Tiap glomerolus dikelilingi oleh simpai bownman, dan gabungan antara glomerolus dengan simpai bownman disebut badan malphigi
Penyaringan darah terjadi pada badan malphigi, yaitu diantara glomerolus dan simpai bownman. Zat – zat yang terlarut dalam darah akan masuk kedalam simpai bownman. Dari sini maka zat – zat tersebut akan menuju ke pembuluh yang merupakan lanjutan dari simpai bownman yang terdapat di dalam sumsum ginjal.
2. Sumsum Ginjal (Medula)
Sumsum ginjal terdiri beberapa badan berbentuk kerucut yang disebut piramid renal. Dengan dasarnya menghadap korteks dan puncaknya disebut apeks atau papila renis, mengarah ke bagian dalam ginjal. Satu piramid dengan jaringan korteks di dalamnya disebut lobus ginjal. Piramid antara 8 hingga 18 buah tampak bergaris – garis karena terdiri atas berkas saluran paralel (tubuli dan duktus koligentes). Diantara pyramid terdapat jaringan korteks yang disebut dengan kolumna renal. Pada bagian ini berkumpul ribuan pembuluh halus yang merupakan lanjutan dari simpai bownman. Di dalam pembuluh halus ini terangkut urine yang merupakan hasil penyaringan darah dalam badan malphigi, setelah mengalami berbagai proses.
3. Rongga Ginjal (Pelvis Renalis)
Pelvis Renalis adalah ujung ureter yang berpangkal di ginjal, berbentuk corong lebar. Sabelum berbatasan dengan jaringan ginjal, pelvis renalis bercabang dua atau tiga disebut kaliks mayor, yang masing – masing bercabang membentuk beberapa kaliks minor yang langsung menutupi papila renis dari piramid. Kliks minor ini menampung urine yang terus kleuar dari papila. Dari Kaliks minor, urine masuk ke kaliks mayor, ke pelvis renis ke ureter, hingga di tampung dalam kandung kemih (vesikula urinaria).
b. Fungsi Ginjal:
1. Mengekskresikan zat – zat sisa metabolisme yang mengandung nitrogennitrogen, misalnya amonia.
2. Mengekskresikan zat – zat yang jumlahnya berlebihan (misalnya gula dan vitamin) dan berbahaya (misalnya obat – obatan, bakteri dan zat warna).
3. Mengatur keseimbangan air dan garam dengan cara osmoregulasi.
4. Mengatur tekanan darah dalam arteri dengan mengeluarkan kelebihan asam atau basa.
c. Tes Fungsi Ginjal Terdiri Dari :
1. Tes untuk protein albumin
Bila kerusakan pada glomerolus atau tubulus, maka protein dapat bocor masuk ke dalam urine.
2. Mengukur konsentrasi urenum darah
Bila ginjal tidak cukup mengeluarkan urenum maka urenum darah naik di atas kadar normal (20 – 40) mg%.
3. Tes konsentrasi
Dilarang makan atau minum selama 12 jam untuk melihat sampai seberapa tinggi berat jenisnya naik.
d. Peredaran Darah dan Persyarafan Ginjal
Peredaran Darah
Ginjal mendapat darah dari aorta abdominalis yang mempunyai percabangan arteria renalis, yang berpasangan kiri dan kanan dan bercabang menjadi arteria interlobaris kemudian menjadi arteri akuata, arteria interlobularis yang berada di tepi ginjal bercabang menjadi kapiler membentuk gumpalan yang disebut dengan glomerolus dan dikelilingi leh alat yang disebut dengan simpai bowman, didalamnya terjadi penyadangan pertama dan kapilerdarah yang meninggalkan simpai bowman kemudian menjadi vena renalis masuk ke vena kava inferior.
Persyarafan Ginjal
Ginjal mendapat persyarafan dari fleksus renalis (vasomotor) saraf ini berfungsi untuk mengatur jumlah darah yang masuk ke dalam ginjal, saraf inibarjalan bersamaan dengan pembuluh darah yang masuk ke ginjal. Anak ginjal (kelenjar suprarenal) terdapat di atas ginjal yang merupakan senuah kelenjar buntu yang menghasilkan 2(dua) macam hormon yaitu hormone adrenalin dan hormn kortison.
2. URETER
Terdiri dari 2 saluran pipa masing – masing bersambung dari ginjal ke kandung kemih (vesika urinaria) panjangnya ± 25 – 30 cm dengan penampang ± 0,5 cm. Ureter sebagian terletak dalam rongga abdomen dan sebagian terletak dalam rongga pelvis.
Lapisan dinding ureter terdiri dari :
a. Dinding luar jaringan ikat (jaringan fibrosa)
b. Lapisan tengah otot polos
c. Lapisan sebelah dalam lapisan mukosa
Lapisan dinding ureter menimbulkan gerakan – gerakan peristaltik tiap 5 menit sekali yang akan mendorong air kemih masuk ke dalam kandung kemih (vesika urinaria).
Gerakan peristaltik mendorong urin melalui ureter yang dieskresikan oleh ginjal dan disemprotkan dalam bentuk pancaran, melalui osteum uretralis masuk ke dalam kandung kemih.
Ureter berjalan hampir vertikal ke bawah sepanjang fasia muskulus psoas dan dilapisi oleh pedtodinium. Penyempitan ureter terjadi pada tempat ureter terjadi pada tempat ureter meninggalkan pelvis renalis, pembuluh darah, saraf dan pembuluh sekitarnya mempunyai saraf sensorik.
3. VESIKULA URINARIA ( Kandung Kemih )
Kandung kemih dapat mengembang dan mengempis seperti balon karet, terletak di belakang simfisis pubis di dalam ronga panggul.
Bentuk kandung kemih seperti kerucut yang dikelilingi oleh otot yang kuat, berhubungan ligamentum vesika umbikalis medius.
Bagian vesika urinaria terdiri dari :
1. Fundus, yaitu bagian yang mengahadap kearah belakang dan bawah, bagian ini terpisah dari rektum oleh spatium rectosivikale yang terisi oleh jaringan ikat duktus deferent, vesika seminalis dan prostate.
2. Korpus, yaitu bagian antara verteks dan fundus.
3. Verteks, bagian yang maju kearah muka dan berhubungan dengan ligamentum vesika umbilikalis.
Dinding kandung kemih terdiri dari beberapa lapisan yaitu, peritonium (lapisan sebelah luar), tunika muskularis, tunika submukosa, dan lapisan mukosa (lapisan bagian dalam).
Proses Miksi (Rangsangan Berkemih).
Distensi kandung kemih, oleh air kemih akan merangsang stres reseptor yang terdapat pada dinding kandung kemih dengan jumlah ± 250 cc sudah cukup untuk merangsang berkemih (proses miksi). Akibatnya akan terjadi reflek kontraksi dinding kandung kemih, dan pada saat yang sama terjadi relaksasi spinser internus, diikuti oleh relaksasi spinter eksternus, dan akhirnya terjadi pengosongan kandung kemih.
Rangsangan yang menyebabkan kontraksi kandung kemih dan relaksasi spinter interus dihantarkan melalui serabut – serabut para simpatis. Kontraksi sfinger eksternus secara volunter bertujuan untuk mencegah atau menghentikan miksi. kontrol volunter ini hanya dapat terjadi bila saraf – saraf yang menangani kandung kemih uretra medula spinalis dan otak masih utuh.
Bila terjadi kerusakan pada saraf – saraf tersebut maka akan terjadi inkontinensia urin (kencing keluar terus – menerus tanpa disadari) dan retensi urine (kencing tertahan).
Persarafan dan peredaran darah vesika urinaria, diatur oleh torako lumbar dan kranial dari sistem persarafan otonom. Torako lumbar berfungsi untuk relaksasi lapisan otot dan kontraksi spinter interna.
Peritonium melapis kandung kemih sampai kira – kira perbatasan ureter masuk kandung kemih. Peritoneum dapat digerakkan membentuk lapisan dan menjadi lurus apabila kandung kemih terisi penuh. Pembuluh darah Arteri vesikalis superior berpangkal dari umbilikalis bagian distal, vena membentuk anyaman dibawah kandung kemih. Pembuluh limfe berjalan menuju duktus limfatilis sepanjang arteri umbilikalis.
4. URETRA
Uretra merupakan saluran sempit yang berpangkal pada kandung kemih yang berfungsi menyalurkan air kemih keluar.
Pada laki- laki uretra bewrjalan berkelok – kelok melalui tengah – tengah prostat kemudian menembus lapisan fibrosa yang menembus tulang pubis kebagia penis panjangnya ± 20 cm.
Uretra pada laki – laki terdiri dari :
1. Uretra Prostaria
2. Uretra membranosa
3. Uretra kavernosa
Lapisan uretra laki – laki terdiri dari lapisan mukosa (lapisan paling dalam), dan lapisan submukosa.
Uretra pada wanita terletak dibelakang simfisis pubisberjalan miring sedikit kearah atas, panjangnya ± 3 – 4 cm. Lapisan uretra pada wanita terdiri dari Tunika muskularis (sebelah luar), lapisan spongeosa merupakan pleksus dari vena – vena, dan lapisan mukosa (lapisan sebelah dalam).Muara uretra pada wanita terletak di sebelah atas vagina (antara klitoris dan vagina) dan uretra di sini hanya sebagai saluran ekskresi.
C. Urine (Air Kemih)
1. Sifat – sifat air kemih
- Jumlah eksresi dalam 24 jam ± 1.500 cc tergantung dari masuknya (intake) cairan serta faktor lainnya.
- Warna bening muda dan bila dibiarkan akan menjadi keruh.
- Warna kuning terantung dari kepekatan, diet obat – obatan dan sebagainya.
- Bau khas air kemih bila dibiarkan terlalu lama maka akan berbau amoniak.
- Baerat jenis 1.015 – 1.020.
- Reaksi asam bila terlalu lama akan menjadi alkalis, tergantung pada diet (sayur menyebabkan reaksi alkalis dan protein memberi reaksi asam).
2. Komposisi air kemih
- Air kemih terdiri dari kira – kira 95 % air
- Zat – zat sisa nitrogen dari hasil metabolisme protein asam urea, amoniak dan kreatinin
- Elektrolit, natrium, kalsium, NH3, bikarbonat, fosfat dan sulfat
- Pigmen (bilirubin, urobilin)
- Toksin
- Hormon
3. Mekanisme Pembentukan Urine
Dari sekitar 1200ml darah yang melalui glomerolus setiap menit terbentuk 120 – 125ml filtrat (cairan yang telah melewati celah filtrasi). Setiap harinyadapat terbentuk 150 – 180L filtart. Namun dari jumlah ini hanya sekitar 1% (1,5 L) yang akhirnya keluar sebagai kemih, dan sebagian diserap kembali.
4. Tahap – tahap Pembentukan Urine
a. Proses filtrasi
Terjadi di glomerolus, proses ini terjadi karena permukaan aferent lebih besar dari permukaan aferent maka terjadi penyerapan darah, sedangkan sebagian yang tersaring adalah bagian cairan darah kecuali protein, cairan yang tersaring ditampung oleh simpai bowman yang terdiri dari glukosa, air, sodium, klorida, sulfat, bikarbonat dll, diteruskan ke seluruh ginja.
b. Proses reabsorpsi
Terjadi penyerapan kembali sebagian besar dari glukosa, sodium, klorida, fosfat dan beberapa ion karbonat. Prosesnya terjadi secara pasif yang dikenal dengan obligator reabsorpsi terjadi pada tubulus atas. Sedangkan pada tubulus ginjal bagian bawah terjadi kembali penyerapan dan sodium dan ion karbonat, bila diperlukan akan diserap kembali kedalam tubulus bagian bawah, penyerapannya terjadi secara aktif dikienal dengan reabsorpsi fakultatif dan sisanya dialirkan pada pupila renalis.
c. Augmentasi (Pengumpulan)
Proses ini terjadi dari sebagian tubulus kontortus distal sampai tubulus pengumpul. Pada tubulus pengumpul masih terjadi penyerapan ion Na+, Cl-, dan urea sehingga terbentuklah urine sesungguhnya.
Dari tubulus pengumpul, urine yang dibawa ke pelvis renalis lalu di bawa ke ureter. Dari ureter, urine dialirkan menuju vesika urinaria (kandung kemih) yang merupakan tempat penyimpanan urine sementara. Ketika kandung kemih sudah penuh, urine dikeluarkan dari tubuh melalui uretra.
4. Mikturisi
Peristiwa penggabungan urine yang mengalir melui ureter ke dalam kandung kemih., keinginan untuk buang air kecil disebabkan penanbahan tekanan di dalam kandung kemih dimana saebelumnmya telah ada 170 – 23 ml urine.
Miktruisi merupakan gerak reflek yang dapat dikendalikan dan dapat ditahan oleh pusat – pusat persyarafan yang lebih tinggi dari manusia, gerakannya oleh kontraksi otot abdominal yang menekan kandung kemih membantu mengosongkannya.
5. Ciri – ciri Urine Normal
Rata – rata dalam satu hari 1 – 2 liter, tapi berbeda – beda sesuai dengan jumlah cairan yang masuk. Warnanya bening oranye pucat tanpa endapan, baunya tajam, reaksinya sedikit asam terhadap lakmus dengan pH rata – rata 6.
Daftar Pustaka
Luvina, Evi Dwisang, (2003), Inti Sari Biologi Untuk SMA, Jakarta : Gramedia.
Prawirohartono Slamet, (1991), IPA Biologi SMP, Jakarta : Gramedia.
Syamsuri Istamar, (2004), Biologi Untuk SMA, Jakarta : Erlangga.
Syarifuddin, (1992), Anatomi dan Fisiologi Untuk Keperawatan, Jakarta : EGC.
Gambar ginjal, (2008), www.geoogle.com
Gambar proses pembentukan urine, (2008), www.geoogle.com
http://nurad1k.blogspot.com/2010/02/anatomi-fisiologi-sistem-perkemihan.html
Jumat, 09 Desember 2011
Trauma Abdomen
Melakukan Asuhan Keperawatan (Askep) merupakan aspek legal bagi seorang perawat walaupun format model asuhan keperawatan di berbagai rumah sakit berbeda-beda. Seorang perawat Profesional di dorong untuk dapat memberikan Pelayanan Kesehatan seoptimal mungkin, memberikan informasi secara benar dengan memperhatikan aspek legal etik yang berlaku. Metode perawatan yang baik dan benar merupakan salah satu aspek yang dapat menentukan kualitas “asuhan keperawatan” (askep) yang diberikan yang secara langsung maupun tidak langsung dapat meningkatkan brand kita sebagai perawat profesional. Pemberian Asuhan keperawatan pada tingkat anak, remaja, dewasa, hingga lanjut usia hingga bagaimana kita menerapkan manajemen asuhan keperawatan secara tepat dan ilmiah diharapkan mampu meningkatkan kompetensi perawat khususnya di indonesia
ASUHAN KEPERAWATAN TRAUMA TUMPUL ABDOMEN
A. PENGERTIAN
Trauma tumpul abdomen adalah pukulan / benturan langsung pada rongga abdomen yang mengakibatkan cidera tekanan/tindasan pada isi rongga abdomen, terutama organ padat (hati, pancreas, ginjal, limpa) atau berongga (lambung, usus halus, usus besar, pembuluh – pembuluh darah abdominal) dan mengakibatkan ruptur abdomen. (Temuh Ilmiah Perawat Bedah Indonesia, 13 Juli 200)
B. ETIOLOGI / FAKTOR PENYEBAB
Kecelakaan lalu lintas, penganiayaan, kecelakaan olahraga dan terjatuh dari ketinggian.
C. ANATOMI DAN FISIOLOGI
Abdomen ialah rongga terbesar dalam tubuh. Bentuk lonjong dan meluas dari atas diafragma sampai pelvis dibawah. Rongga abdomen dilukiskan menjadi dua bagian – abdomen yang sebenarnya, yaitu rongga sebelah atas dan yang lebih besar, dan pelvis yaitu rongga sebelah bawah dab kecil.
Batasan – batasan abdomen. Di atas, diafragma, Di bawah, pintu masuk panggul dari panggul besar. Di depan dan kedua sisi, otot – otot abdominal, tulang –tulang illiaka dan iga – iga sebelah bawah. Di belakang, tulang punggung, dan otot psoas dan quadratrus lumborum.
Isi Abdomen. Sebagaian besar dari saluran pencernaan, yaitu lambung, usus halus, dan usus besar. Hati menempati bagian atas, terletak di bawah diafragma, dan menutupi lambung dan bagian pertama usus halus. Kandung empedu terletak dibawah hati. Pankreas terletak dibelakang lambung, dan limpa terletak dibagian ujung pancreas. Ginjal dan kelenjar suprarenal berada diatas dinding posterior abdomen. Ureter berjalan melalui abdomen dari ginjal. Aorta abdominalis, vena kava inferior, reseptakulum khili dan sebagaian dari saluran torasika terletak didalam abdomen.
Pembuluh limfe dan kelenjar limfe, urat saraf, peritoneum dan lemak juga dijumpai dalam rongga ini.
D. PATHOFISIOLOGI
Bila suatu kekuatan eksternal dibenturkan pada tubuh manusia (akibat kecelakaan lalulintas, penganiayaan, kecelakaan olah raga dan terjatuh dari ketinggian), maka beratnya trauma merupakan hasil dari interaksi antara faktor – faktor fisik dari kekuatan tersebut dengan jaringan tubuh. Berat trauma yang terjadi berhubungan dengan kemampuan obyek statis (yang ditubruk) untuk menahan tubuh. Pada tempat benturan karena terjadinya perbedaan pergerakan dari jaringan tubuh yang akan menimbulkan disrupsi jaringan. Hal ini juga karakteristik dari permukaan yang menghentikan tubuh juga penting. Trauma juga tergantung pada elastitisitas dan viskositas dari jaringan tubuh. Elastisitas adalah kemampuan jaringan untuk kembali pada keadaan yang sebelumnya. Viskositas adalah kemampuan jaringan untuk menjaga bentuk aslinya walaupun ada benturan. Toleransi tubuh menahan benturan tergantung pada kedua keadaan tersebut.. Beratnya trauma yang terjadi tergantung kepada seberapa jauh gaya yang ada akan dapat melewati ketahanan jaringan. Komponen lain yang harus dipertimbangkan dalam beratnya trauma adalah posisi tubuh relatif terhadap permukaan benturan. Hal tersebut dapat terjadi cidera organ intra abdominal yang disebabkan beberapa mekanisme :
§ Meningkatnya tekanan intra abdominal yang mendadak dan hebat oleh gaya tekan dari luar seperti benturan setir atau sabuk pengaman yang letaknya tidak benar dapat mengakibatkan terjadinya ruptur dari organ padat maupun organ berongga.
§ Terjepitnya organ intra abdominal antara dinding abdomen anterior dan vertebrae atau struktur tulang dinding thoraks.
§ Terjadi gaya akselerasi – deselerasi secara mendadak dapat menyebabkan gaya robek pada organ dan pedikel vaskuler.
E. DAMPAK MASALAH TERHADAP KLIEN
Setiap musibah yang dihadapi seseorang akan selalu menimbulkan dampak masalah baik bio - psiko- social-spiritual yang dapat mempengaruhi kesehatan dan perubahan pola kehidupan. Dampak dari pre operasi :
a. Dampak pada fisik :
q Pola Pernapasan :
Keadaan ventilasi pernapasan terganggu jika terdapat gangguan / instabilitasi cardiovaskuler, respirasi dan kelainan – kelainan neurologis akibat multiple trauma.
Penyebab yang lain adalah perdarahan didalam rongga abdominal yang menyebabkan distended sehingga menekan diafragma yang akan mempengaruhi ekspansi rongga thoraks.
q Pada sirkulasi
Perdarahan dalam rongga abdomen karena cidera dari oragan – organ abdominal yang padat maupun berongga atau terputusnya pembuluh darah, sehingga tubuh kehilangan darah dalam waktu singkat yang mengakibatkan shock hipovolemik dimana sisa darah tidak cukup mengisi rongga pembuluh darah.
q Perubahan perfusi jaringan
Penurunan perfusi jaringan disebabkan karena suplai darah yang dipompakan jantung ke seluruh tubuh berkurang / tidak mencukupi kesesuaian kebutuhan akibat dari shock hipovolemic.
q Penurunan Volume cairan tubuh.
Perdarahan akut akan mempengaruhi keseimbangan cairan di dalam tubuh, dimana cairan intra celluler (ICF), Extracelluler (ECF) diantaranya adalah cairan yang berada di dalam pembuluh darah (IV) dan cairan yang berada di dalam jaringan di antara sel - sel (ISF) akan mengalami defisit atau hipovolemia.
q Kerusakan Integritas kulit.
Trauma benda tumpul dan tajam akan menimbulkan kerusakan dan terputusnya jaringan kulit atau yang dibagian dalamnya diantaranya pembuluh darah, persyarafan dan otot didaerah trauma.
b. Dampak Psikologis :
Perasaan cemas dan takut akan menyelimuti diri pasien, hal ini disebabkan karena musibah yang dialaminya dan kurangnya informasi tentang tindakan pengobatan dengan jalan pembedahan / operasi.
c. Dampak Sosial :
Mengingat dana yang dibutuhkan untuk tindakan pembedahan tidak sedikit dan harga obat – obatan yang cukup tinggi, hal ini akan mempengaruhi kondisi ekonomi dan membutuhkan waktu yang amat segera (sempit)
ASUHAN KEPERAWATAN TRAUMA TUMPUL ABDOMEN
A. PENGERTIAN
Trauma tumpul abdomen adalah pukulan / benturan langsung pada rongga abdomen yang mengakibatkan cidera tekanan/tindasan pada isi rongga abdomen, terutama organ padat (hati, pancreas, ginjal, limpa) atau berongga (lambung, usus halus, usus besar, pembuluh – pembuluh darah abdominal) dan mengakibatkan ruptur abdomen. (Temuh Ilmiah Perawat Bedah Indonesia, 13 Juli 200)
B. ETIOLOGI / FAKTOR PENYEBAB
Kecelakaan lalu lintas, penganiayaan, kecelakaan olahraga dan terjatuh dari ketinggian.
C. ANATOMI DAN FISIOLOGI
Abdomen ialah rongga terbesar dalam tubuh. Bentuk lonjong dan meluas dari atas diafragma sampai pelvis dibawah. Rongga abdomen dilukiskan menjadi dua bagian – abdomen yang sebenarnya, yaitu rongga sebelah atas dan yang lebih besar, dan pelvis yaitu rongga sebelah bawah dab kecil.
Batasan – batasan abdomen. Di atas, diafragma, Di bawah, pintu masuk panggul dari panggul besar. Di depan dan kedua sisi, otot – otot abdominal, tulang –tulang illiaka dan iga – iga sebelah bawah. Di belakang, tulang punggung, dan otot psoas dan quadratrus lumborum.
Isi Abdomen. Sebagaian besar dari saluran pencernaan, yaitu lambung, usus halus, dan usus besar. Hati menempati bagian atas, terletak di bawah diafragma, dan menutupi lambung dan bagian pertama usus halus. Kandung empedu terletak dibawah hati. Pankreas terletak dibelakang lambung, dan limpa terletak dibagian ujung pancreas. Ginjal dan kelenjar suprarenal berada diatas dinding posterior abdomen. Ureter berjalan melalui abdomen dari ginjal. Aorta abdominalis, vena kava inferior, reseptakulum khili dan sebagaian dari saluran torasika terletak didalam abdomen.
Pembuluh limfe dan kelenjar limfe, urat saraf, peritoneum dan lemak juga dijumpai dalam rongga ini.
D. PATHOFISIOLOGI
Bila suatu kekuatan eksternal dibenturkan pada tubuh manusia (akibat kecelakaan lalulintas, penganiayaan, kecelakaan olah raga dan terjatuh dari ketinggian), maka beratnya trauma merupakan hasil dari interaksi antara faktor – faktor fisik dari kekuatan tersebut dengan jaringan tubuh. Berat trauma yang terjadi berhubungan dengan kemampuan obyek statis (yang ditubruk) untuk menahan tubuh. Pada tempat benturan karena terjadinya perbedaan pergerakan dari jaringan tubuh yang akan menimbulkan disrupsi jaringan. Hal ini juga karakteristik dari permukaan yang menghentikan tubuh juga penting. Trauma juga tergantung pada elastitisitas dan viskositas dari jaringan tubuh. Elastisitas adalah kemampuan jaringan untuk kembali pada keadaan yang sebelumnya. Viskositas adalah kemampuan jaringan untuk menjaga bentuk aslinya walaupun ada benturan. Toleransi tubuh menahan benturan tergantung pada kedua keadaan tersebut.. Beratnya trauma yang terjadi tergantung kepada seberapa jauh gaya yang ada akan dapat melewati ketahanan jaringan. Komponen lain yang harus dipertimbangkan dalam beratnya trauma adalah posisi tubuh relatif terhadap permukaan benturan. Hal tersebut dapat terjadi cidera organ intra abdominal yang disebabkan beberapa mekanisme :
§ Meningkatnya tekanan intra abdominal yang mendadak dan hebat oleh gaya tekan dari luar seperti benturan setir atau sabuk pengaman yang letaknya tidak benar dapat mengakibatkan terjadinya ruptur dari organ padat maupun organ berongga.
§ Terjepitnya organ intra abdominal antara dinding abdomen anterior dan vertebrae atau struktur tulang dinding thoraks.
§ Terjadi gaya akselerasi – deselerasi secara mendadak dapat menyebabkan gaya robek pada organ dan pedikel vaskuler.
E. DAMPAK MASALAH TERHADAP KLIEN
Setiap musibah yang dihadapi seseorang akan selalu menimbulkan dampak masalah baik bio - psiko- social-spiritual yang dapat mempengaruhi kesehatan dan perubahan pola kehidupan. Dampak dari pre operasi :
a. Dampak pada fisik :
q Pola Pernapasan :
Keadaan ventilasi pernapasan terganggu jika terdapat gangguan / instabilitasi cardiovaskuler, respirasi dan kelainan – kelainan neurologis akibat multiple trauma.
Penyebab yang lain adalah perdarahan didalam rongga abdominal yang menyebabkan distended sehingga menekan diafragma yang akan mempengaruhi ekspansi rongga thoraks.
q Pada sirkulasi
Perdarahan dalam rongga abdomen karena cidera dari oragan – organ abdominal yang padat maupun berongga atau terputusnya pembuluh darah, sehingga tubuh kehilangan darah dalam waktu singkat yang mengakibatkan shock hipovolemik dimana sisa darah tidak cukup mengisi rongga pembuluh darah.
q Perubahan perfusi jaringan
Penurunan perfusi jaringan disebabkan karena suplai darah yang dipompakan jantung ke seluruh tubuh berkurang / tidak mencukupi kesesuaian kebutuhan akibat dari shock hipovolemic.
q Penurunan Volume cairan tubuh.
Perdarahan akut akan mempengaruhi keseimbangan cairan di dalam tubuh, dimana cairan intra celluler (ICF), Extracelluler (ECF) diantaranya adalah cairan yang berada di dalam pembuluh darah (IV) dan cairan yang berada di dalam jaringan di antara sel - sel (ISF) akan mengalami defisit atau hipovolemia.
q Kerusakan Integritas kulit.
Trauma benda tumpul dan tajam akan menimbulkan kerusakan dan terputusnya jaringan kulit atau yang dibagian dalamnya diantaranya pembuluh darah, persyarafan dan otot didaerah trauma.
b. Dampak Psikologis :
Perasaan cemas dan takut akan menyelimuti diri pasien, hal ini disebabkan karena musibah yang dialaminya dan kurangnya informasi tentang tindakan pengobatan dengan jalan pembedahan / operasi.
c. Dampak Sosial :
Mengingat dana yang dibutuhkan untuk tindakan pembedahan tidak sedikit dan harga obat – obatan yang cukup tinggi, hal ini akan mempengaruhi kondisi ekonomi dan membutuhkan waktu yang amat segera (sempit)
Minggu, 31 Mei 2009
“RABIES”
BAB I
PENDAHULUAN
Satwa, seperti halnya manusia, tidak terbebas dari penyakit. Ini berlaku bagi satwa piaraan atau satwa liar yang hidup bebas di alam ataupun dalam kandang, seperti di kebun binatang. Berbagai penyakit dapat ditemukan, dari yang patogen hanya terhadap satwa itu sendiri hingga yang dapat menular ke manusia. Dalam dunia kedokteran dikenal istilah penyakit zoonosis, yaitu penyakit yang dapat menular dari satwa kepada manusia dan sebaliknya. Zoonosis dapat disebabkan oleh virus, bakteri, parasit (endoparasit atau ektoparasit), serta jamur. Lebih dari 34 jenis penyakit menular yang dikategorikan zoonosis telah diidentifikasi oleh ahli penyakit hewan.
Zoonosis pada hewan domestik
Penyakit zoonosis dapat ditularkan oleh hewan domestik (yang telah dijinakkan dan dikembangbiakkan sebagai hewan ternak atau hewan piaraan) dan oleh satwa liar. Kasus terbaru yang menghebohkan adalah avian influenza, yang penyebarannya melalui unggas.
Kasus yang tidak kalah penting adalah munculnya antraks di daerah Cileungsi, Bogor, Jawa Barat, yang menyerang kambing dan domba. Penyakit antraks menyerang berbagai jenis hewan, seperti sapi, kambing, domba, babi, kuda, kucing, dan burung unta.
Contoh lainnya adalah rabies, salah satu penyakit zoonosis yang sudah dikenal masyarakat dari zaman dulu dan biasa terjadi pada orang yang terkena gigitan anjing yang positif terhadap penyakit ini. Dulu penyakit tersebut menjadi momok bagi masyarakat, terutama di pedesaan, yang populasi anjing liarnya masih sangat banyak.
Zoonosis pada satwa liar
Cara yang paling mudah untuk melihat berbagai jenis satwa liar adalah ke kebun binatang. Di sanalah kemungkinan paling dekat terjadinya penularan penyakit zoonosis kepada manusia. Interaksi terbesar manusia dengan satwa liar akan terjadi karena pengunjung sering kali memberi makan atau menyentuh satwa di dalam kandang atau berpotret bersama satwa yang ada.
Penyakit zoonosis yang dapat ditularkan oleh satwa liar tersebut tidaklah sedikit. Beberapa penyakit zoonosis yang paling umum menyerang satwa liar di antaranya tuberkulosis, streptococcosis, salmonellosis, rabies, leptospirosis, toksoplasmosis, psittaccosis, taeniasis, dipilidiasis, herpes-B, dan hepatitis. Beberapa penyakit itu pernah dilaporkan menyerang satwa liar yang ada di Indonesia.
Mengapa bisa sampai ke manusia?
Banyak faktor dapat memicu penyakit hinggap pada hewan, bahkan satwa liar yang bebas di alam sekalipun, apalagi dalam kondisi terkurung. Penyakit dapat menyerang terutama pada kondisi satwa yang lemah, stres, lingkungan yang kotor, serta perawatan satwa yang kurang baik.
Ada beberapa metode berbeda untuk mengetahui penularan penyakit zoonosis dari satwa kepada manusia. Pada beberapa kasus, penyakit zoonosis ditularkan melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi dan pada kasus lain dapat dijumpai penularan melalui air minum yang mengandung telur dari parasit yang zoonosis–biasanya pada kasus yang berhubungan dengan cacing pita (taeniasis).
Cara penularan yang lain dapat melalui vektor insekta (serangga), contohnya melalui tungau (flea) atau kutu (tick) yang termakan oleh hewan yang terinfeksi kemudian termakan oleh manusia. Pada prosesnya, serangga tersebut mentransfer organisme infeksius.
Penyakit zoonosis tersebut sering berakibat fatal, baik bagi hewan, satwa itu, maupun bagi manusia. Namun, kita sering tidak mengetahui bahaya yang mengancam apabila terserang penyakit karena terkadang kurang awas dan tidak tahu. Sering kali kita baru menyadari setelah dilakukan pemeriksaan lengkap, seperti halnya pada kasus toksoplasmosis. Penyakit ini tidak cukup hanya didiagnosis berdasarkan gejala klinis yang muncul, tapi baru dapat dipastikan setelah dilakukan pemeriksaan darah dengan metode yang tepat.
Hewan dan manusia memang sebaiknya tidak hidup berdampingan, terkecuali kita sudah memastikan bahwa hewan tersebut dalam status sehat. Berbagai upaya dapat dilakukan untuk mencegah penyakit zoonosis ini, di antaranya dengan vaksinasi, pemeliharaan yang benar, dan lingkungan hewan itu yang harus selalu terjaga kebersihannya. Untuk satwa liar yang sudah keluar dari habitatnya, seperti di kebun binatang, sebaiknya faktor manusia sebagai pengunjung harus lebih berhati-hati dan tidak gegabah untuk bersentuhan dengan satwa yang ada.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi
Penyakit Gila Anjing atau dikenal dengan nama Rabies merupakan suatu penyakit infeksi akut pada susunan syaraf pusat yang disebabkan oleh Virus Rabies yang bersifat Zoonosis, dengan penularan kepada manusia melalui gigitan anjing,kucing dan kera. Penyakit ini bila sudah menunjukan gejala klinis baik pada hewan maupun pada manusia selalu diakhiri dengan kematian, sehingga mengakibatkan rasa cemas dan takut bagi orang-orang yang terkena gigitan.
Rabies adalah penyakit infeksi akut susunan saraf pusat pada manusia dan mamalia yang berakibat fatal. Penyakit in ditandai dengan disfungsi hebat susunan saraf dan hampir selalu berakhir dengan kematian. Penyakit rabies disebabkan oleh virus rabies yang termasuk genus Lyssa-virus , famili Rhabdoviridae dan menginfeksi manusia melalui secret yang terinfeksi pada gigitan binatang. Nama lain rabies ialah hydrophobia, la rage (Perancis), la rabbia (Italia), la rabia (Spanyol), die tollwut (Jerman) atau di Indonesia dikenal sebagai penyakit anjing gila
Rabies(penyakit anjing gila) adalah penyakit infeksi akut pada susunan saraf pusat yang disebabkan oleh virus rabies, dan ditularkan melalui gigitan hewan penular rabies terutama anjing, kucing dan kera.
Penyakit Rabies atau penyakit anjing gila adalah penyakit hewan yang menular yang disebakan oleh virus dan dapat menyerang hewan berdarah panas dan manusia.
Pada hewan yang menderita Rabies, virus ditemukan dengan jumlah banyak pada air liurnya. Virus ini akan ditularkan ke hewan lain atau ke manusia terutama melalui luka gigitan . Oleh karena itu bangsa Karnivora (anjing,kucing, serigala) adalah hewan yang paling utama sebagai penyebar Rabies.
Penyakit Rabies merupakan penyakit Zoonosa yang sangat berbahaya dan ditakuti karena bila telah menyerang manusia atau hewan akan selalu berakhir dengan kematian.
B. Etiologi
Virus rabies merupakan prototipe dari genus Lysa-virus dari famili Rhabdoviridae. Dari genus ada 11 jenis virus yang secara antigenik mirip virus rabies dan menginfeksi manusia adalah virus rabies, Mokola, Duvenhage dan European bat lyssa-virus. Virus rabies termasuk golongan virus RNA. Virus berbentuk peluru dengan ukuran 180 x 75 nm, single stranded RNA, terdiri dari kombinasi nukleo-protein yang berbentuk koil heliks yang tersusun dari fosfoprotein dan polimerasi RNA. Selubung virus terdiri dari lipid, protein matriks dan glikoprotein. Glikoprotein berperan dalam proses melekatnya virus pada sel yang rentan, serta mengandung antigen yang membentuk serum neutralizing antibodi yang memberikan proteksi terhadap virus rabies. Selain itu, spesifisitas antigenik virus itu sendiri juga berlokasi di glikoprotein tersebut. Ini berarti bahwa perbedaan antigen antara virus rabies klasik dan rabies related virus berasosiasi dengan spikesnya. Virus rabies inaktif pada pemanasan dengan temperature 56 derajat celcius waktu paruh kurang dari menit, dan pada kondisi lembab pada temperature 37 derajat celcius dapat bertahan beberapa jam. Virus juga akan mati dengan deterjen, sabun, etanol 45 %, solusi jodium. Virus rabies dan virus lain yang sekeluarga dengan rabies diklasifikasikan menjadi 6 genotipe. Rabies merupakan genotipe 1, Mokola genotipe 3, Duvenhage genotipe 4, dan European bat lyssa-virus genotipe 5 dan 6.
Virus rabies
Virus rabies terdapat dalam air liur hewan yang terinfeksi. Hewan ini menularkan infeksi kepada hewan lainnya atu manusia melalui gigitan dan kadang melalui jilatan. Virus akan masuk melalui saraf-saraf menuju ke medulla spinalis dan otak, dimana mereka berkembangbiak. Selanjutnya virus akan berpindah lagi melalui saraf ke kelenjar liur dan masuk ke dalam air liur.
Banyak hewan yang bisa menularkan rabies kepada manusia. Yang paling sering menjadi sumber dari rabies adalah anjing; hewan lainnya yang juga bisa menjadi sumber penularan rabies adalah kucing, kelelawar, rakun, sigung, rubah.
Rabies pada anjing masih sering ditemukan di Amerika Latin, Afrika dan Asia, karena tidak semua hewan peliharaan mendapatkan vaksinasi untuk penyakit ini. Hewan yang terinfeksi bisa mengalami rabies buas atau rabies jinak. Pada rabies buas, hewan yang terkena tampak gelisah dan ganas, kemudian menjadi lumpuh dan mati. Pada rabies jinak, sejak awal telah terjadi kelumpuhan lokal atau kelumpuhan total.
Meskipun sangat jarang trjadi, rabies bisa ditularkan melalui penghirupan udara yang tercemar. Telah dilaporkan 2 kasus yang terjadi pada penjelajah yang menghirup udara di dalam goa dimana banyak terdapat kelelawar.
C. Transmisi
Infeksi terjadi biasanya melalui kontak dengan binatang seperti anjing, kucing, kera, serigala, kelelawar, dan ditularkan pada manusia melalui gigitan binatang atau kontak virus (saliva binatang) dengan luka pada host ataupun melalui membrane mukosa. Kulit yang utuh merupakan barier pertahanan terhadap infeksi. Transmisi dari manusia ke manusia belum pernah dilaporkan. Infeksi rabies pada manusia terjadi dengan masuknya virus lewat luka pada kulit (garukan, lecet, luka robek) atau mukosa. Paling sering infeksi terjadi melalui gigitan anjing, tetapi bisa juga melalui gigitan kucing, kera, atau binatang lainnya yang terinfeksi (serigala, musang, kelelawar). Cara infeksi yang lain adalah melalui inhalasi dimana dilaporkan terjadinya infeksi rabies pada orang yang mengunjungi gua kelelawar tanpa ada gigitan. Dapat pula kontak virus rabies pada kecelakaan kerja di laboratorium, atau akibat vaksinasi dari virus rabies yang masih hidup. Terjangkitnya infeksi rabies juga dilaporkan pada tindakan transplantasi kornea dari donor yang mungkin terinfeksi rabies.
D. Patogenesis dan Patofisiologi
Setelah virus rabies masuk ke dalam tubuh manusia, selama 2 minggu virus menetap pada tempat masuk dan di jaringan otot di dekatnya virus berkembang biak atau langsung mencapai ujung-ujung serabut saraf perifer tanpa menunjukkan perubahan-perubahan fungsinya. Selubung virus menjadi satu dengan membran plasma dan protein ribonukleus dan memasuki sitoplasma. Beberapa tempat pengikatan adalah reseptor asetil-kolin post-sinaptik pada neuromuscular junction di susunan saraf pusat (SPP). Dari saraf perifer virus menyebar secara sentripetal melalui endoneurium sel-sel Schwan dan melalui aliran aksoplasma mencapai ganglion dorsalis dalam waktu 60-72 jam dan berkembang biak. Selanjutnya virus akan menyebar dengan kecepatan 3 mm/jam ke susunan saraf pusat (medulla spinalis dan otak) melalui cairan serebrospinal. Di otak virus menyebar secara luas dan memperbanyak diri dalam semua bagian neuron, kemudian bergerak ke perifer dalam serabut saraf eferen dan pada saraf volunter maupun saraf otonom. Penyebaran selanjutnya dari SSP ke saraf perifer termasuk serabut saraf otonom, otot skeletal, otot jantung, kelenjar adrenal (medulla), medulla, ginjal, mata, pankreas. Pada tahap berikutnya virus akan terdapat pada kelenjar ludah, kelenjar lakrimalis, sistem respirasi. Virus juga tersebar pada air susu dan urin. Pada manusia hanya dijumpai kelainan pada midbrain dan medulla spinalis pada rabies tipe furious (buas) dan pada medulla spinalis pada tipe paralitik. Perubahan patologi berupa degenerasi sel ganglion, infiltrasi sel mononuclear dan perivaskuler, neuronofagia, dan pembentukan nodul pada glia pada otak dan medula spinalis.
E. Tanda dan Gejala
Gejala-gejala awal berupa demam, malaise umum, mual dan rasa nyeri di tengah tenggorok selama beberapa hari, selain itu pasien juga merasa nyeri, rasa panas disertai semutan pada tempat luka. Kemudian disusul dengan gejala cemas dan reaksi yang berlebihan terhadap rangsang sensorik atau yang dinamakan stimulus-sensitive myoclonus. Tonus otot-otot dan aktivitas simpatik menjadi meninggi dengan gejala-gejala hiperhidrosis, hipersalivasi, hiperlakrimasi dan pupil dilatasi.
Masa inkubasi rabies 95% antara 3-4 bulan, masa inkubasi bisa bervariasi antara 7 hari-7 tahun, hanya 1% kasus dengan inkubasi 1-7 tahun. Karena lamanya inkubasi kadang-kadang pasien tidak dapat mengingat kapan terjadinya gigitan. Pada anak-anak masa inkubasi biasanya lebih pendek daripada orang dewasa. Lamanya masa inkubasi dipengaruhi oleh dalam dan besarnya luka gigitan, lokasi luka gigitan (jauh dekatnya ke system saraf pusat), derajat patogenitas virus dan persarafan daerah luka gigitan. Luka pada kepala inkubasi 25-48 hari, dan pada ekstremitas 46-78 hari.
Pada manusia secara teoritis gejala klinis terdiri dari 4 stadium yang dalam keadaan sebenarnya sulit dipisahkan satu dari yang lainnya, yaitu: gejala prodromal non-spesifik, ensefalitis akut, disfungsi batang otak, koma dan kematian.
a. Stadium Prodormal
Berlangsung 1-4 hari dan biasanya tidak didapatkan gejala spesifik. Umumnya disertai gejala respirasi atau abdominal yang ditandai oleh demam, menggigil, batuk, nyeri menelan, nyeri perut, sakit kepala, malaise, mialgia, mual, muntah, diare dan nafsu makan menurun. Gejala yang lebih spesifik yaitu adanya gatal dan parestesia pada luka bekas gigitan yang sudah sembuh (50%). Stadium ini dapat berlangsung sampai 10 hari, kemudian penyakit akan memasuki gejala neurologik akut yang dapat berupa furious atau paralitik. Mioedema dijumpai pada stadium prodormal dan menetap selama perjalanan penyakit ¹.
b. Stadium Neurologi Akut
Berupa gejala furious atau paralitik. Pada gejala furious penderita menjadi hiperaktif, disorientasi, mengalami halusinasi, atau bertingkah laku aneh. Setelah beberapa jam-hari gejala hiperaktif menjadi intermiten setiap 1-5 menit berupa periode agitasi, ingin lari, menggigit diselingi periode tenang. Keadaan hiperaktif terjadi karena rangsangan dari luar seperti suara, cahaya, tiupan udara dan rangsangan lainnya yang menimbulkan kejang sehingga timbul bermacam-macam fobia terhadap berbagai macam rangsangan tersebut Tanda-tanda klinis lain dapat berupa hiperaktifitas, halusinasi, gangguan kepribadian, meningismus, lesi saraf kranialis, fasikulasi otot dan gerakan-gerakan involunter, fluktuasi suhu badan, dilatasi pupil ¹.
c. Stadium Koma
Apabila tidak terjadi kematian pada stadium neurologik, penderita dapat mengalami koma. Koma dapat terjadi dalam 10 hari setelah gejala rabies tampak dan dapat berlangsung hanya beberapa jam sampai berbulan-bulan tergantung dari penanganan intensif. Pada penderita yang tidak ditangani, penderita dapat segera meninggal setelah terjadi koma
Gejala biasanya mulai timbul dalam waktu 30-50 hari setelah terinfeksi, tetapi masa inkubasinya bervariasi dari 10 hari sampai lebih dari 1 tahun. Masa inkubasi biasanya paling pendek pada orang yang digigit pada kepala atau tempat yang tertutup celana pendek atau bila gigitan terdapat di banyak tempat.
Pada 20% penderita, rabies dimulai dengan kelumpuhan pada tungkai bawah yang menjalar ke seluruh tubuh. Tetapi penyakit ini biasanya dimulai dengan periode yang pendek dari depresi mental, keresahan, tidak enak badan dan demam. Keresahan akan meningkat menjadi kegembiraan yang tak terkendali dan penderita akan mengeluarkan air liur.
Kejang otot tenggorokan dan pita suara bisa menyebankan rasa sakit luar biasa. Kejang ini terjadi akibat adanya gangguan daerah otak yang mengatur proses menelan dan pernafasan. Angin sepoi-sepoi dan mencoba untuk minum air bisa menyebabkan kekejangan ini. Oleh karena itu penderita rabies tidak dapat minum. Karena hal inilah, maka penyakit ini kadang-kadang juga disebut hidrofobia (takut air).
Sesudah masa tunas / inkubasi selama 10 hari sampai dengan 7 bulan, orang yang tertular dapat mengalami / menderita penyakit ini dengan gejala-gejala sebagai berikut :
· Diawali dengan demam ringan atau sedang, sakit kepala, tak nafsu makan, lemah, mual, muntah dan perasaan yang abnormal pada daerah sekitar gigitan (anjing/binatang liar tsb).
· Gejala di atas kemudian dengan cepat diikuti hiperestesi dan hipereksitasi mental serta neuromuskular, diikuti dengan kaku kuduk dan kejang-kejang otot-otot yang berfungsi dalam proses menelan dan pernafasan. Sedikit rangsangan berupa cahaya, suara, bau ataupun sedikit cairan dapat menimbulkan reflex kejang-kejang tersebut.
· Keadaan tersebut selanjutnya berkembang menjadi kekejangan umum dan kematianpun umumnya terjadi pada tahap ini.
Tanda-Tanda Penyakit Rabies Pada Hewan Dan Manusia
Pada anjing dan kucing, penyakit Rabies dibedakan menjadi 2 bentuk , yaitu bentuk diam (Dumb Rabies) dan bentuk ganas (Furious Rabies).
1. Tanda - tanda Rabies bentuk diam :
· Terjadi kelumpuhan pada seluruh bagian tubuh.
· Hewan tidak dapat mengunyah dan menelan makanan, rahang bawah tidak dapat dikatupkan dan air liur menetes berlebihan.
· Tidak ada keinginan menyerang atau mengigit. Hewan akan mati dalam beberapa jam.
2. Tanda-tanda Rabies bentuk ganas:
· Hewan menjadi agresif dan tidak lagi mengenal pemiliknya.
· Menyerang orang, hewan, dan benda-benda yang bergerak.
· Bila berdiri sikapnya kaku, ekor dilipat diantara kedua paha belakangnya .
· Anak anjing menjadi lebih lincah dan suka bermain , tetapi akan menggigit bila dipegang dan akan menjadi ganas dalam beberapa jam.
Tanda-Tanda Rabies Pada Manusia :
· Rasa takut yang sangat pada air, dan peka terhadap cahaya, udara, dan suara.
· Airmata dan air liur keluar berlebihan .
· Pupil mata membesar.
· Bicara tidak karuan, selalu ingin bergerak dan nampak kesakitan.
· Selanjutnya ditandai dengan kejang-kejang lalu lumpuh dan akhirnya meninggal dunia.
F. Diagnosis
Virus rabies dapat disimpan pada suhu -20˚C (freezer) dalam bentuk otak mencit segar yang direndam dalam Dulbecco’s modified eagle medium (DMEM) yang mengandung 2% foetal bovine serum (FBS) serta dalam bentuk supernatan. Tersedianya control virus positif rabies galur CVS, pemeriksaan dengan metode FAT harus dilakukan seakurat mungkin dengan memperhatikan prosedur kerja yang benar yaitu tekhnik pembuatan ulas, pencucian, pemakaian kontrol virus rabies positif dan kontrol rabies negative.
G. Penanganan dan Pengobatan
Tindakan Terhadap Hewan Yang Menggigit
Anjing, kucing dan kera yang menggigit manusia atau hewan lainnya harus dicurigai menderita Rabies. Terhadap hewan tersebut harus diambil tindakan sebagai berikut :
a. Bila hewan tersebut adalah hewan peliharaan atau ada pemiliknya , maka hewan tersebut harus ditangkap dan diserahkan ke Dinas Peternakan setempat untuk diobservasi selama 14 hari. Bila hasil observasi negatif Rabies maka hewan tersebut harus mendapat vaksinasi Rabies sebelum diserahkan kembali kepada pemiliknya.
b. Bila hewan yang menggigit adalah hewan liar (tidak ada pemiliknya) maka hewan tersebut harus diusahakan ditangkap hidup dan diserahkan kepada Dinas Peternakan setempat untuk diobservasi dan setelah masa observasi selesai hewan tersebut dapat dimusnahkan atau dipelihara oleh orang yang berkenan , setelah terlebih dahulu diberi vaksinasi Rabies.
c. Bila hewan yang menggigit sulit ditangkap dan terpaksa harus dibunuh, maka kepala hewan tersebut harus diambil dan segera diserahkan ke Dinas Peternakan setempat untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium.
Tindakan Terhadap Orang Yang Digigit (Korban)
a. Segera cuci luka gigitan dengan air bersih dan sabun atau detergen selama 5 - 10 menit kemudian bilas dengan air yang mengalir , lalu keringkan dengan kain bersih atau kertas tissue.
b. Luka kemudian diberi obat luka yang tersedia (misalnya obat merah) lalu dibalut longgar dengan pembalut yang bersih.
c. Penderita atau korban secepatnya dibawa ke Puskesmas atau Rumah Sakit terdekat untuk mendapat perawatan lebih lanjut.
Tindakan Terhadap Anjing , Kucing, atau Kera Yang Dipelihara
a. Menempatkan hewan peliharaan dalam kandang yang baik dan sesuai dan senantiasa memperhatikan kebersihan kandang dan sekitarnya.
b. Menjaga kesehatan hewan peliharaan dengan memberikan makanan yang baik , pemeliharaan yang baik dan melaksanakan Vaksinasi Rabies secara teratur setiap tahun ke Dinas Peternakan atau Dokter Hewan Praktek.
c. Memasang rantai pada leher anjing bila anjing tidak dikandangkan atau sedang diajak berjalan-jalan.
Pemberian vaksin anti rabies (VAR) atau VAR disertai dengan serum anti rabies (SAR) harus didasarkan atas tindakan tajam dengan mempertimbangkan hasil-hasil penemuan di bawah ini:
a. Anamnesis:- kontak/jilatan/gigitan - kejadian di daerah tertular/terancam/bebas - didahului tindakan provokatif/tidak - hewan yang menggigit menunjukkan gejala rabies - hewan yang menggigit mati, tapi masih diragukan menderita rabies - penderita luka gigitan pernah di VAR, kapan ? - hewan yang menggigit pernah di VAR, kapan ?
b. Pemeriksaan fisik:- identifikasi luka gigitan (status lokalis)
c. Lain-lain: - temuan pada waktu observasi hewan - hasil pemeriksaan spesimen dari hewan - petunjuk WHO
Jika ada indikasi pengobatan Pasteur, terhadap luka resiko rendah diberi VAR saja. Yang termasuk luka tidak berbahaya adalah jilatan pada kulit luka, garukan atau lecet (erosi atau ekskoriasi), luka kecil di sekitar tangan, badan dan kaki. Terhadap luka resiko tinggi, selain VAR juga diberi SAR. Yang termasuk luka berbahaya adalah jilatan atau luka pada mukosa, luka di atas daerah bahu (muka, kepala, leher), luka pada jari tangan atau kaki, genetalia, luka yang lebar atau dalam dan luka yang banyak (multipel)
Untuk kontak (dengan air liur atau saliva hewan tersangka atau hewan rabies atau penderita rabies) tapi tidak ada luka, kontak tak langsung, tidak ada kontak, tidak perlu diberikan pengobatan. Kontak dengan air liur pada kulit luka yang tidak berbahaya, diberikan VAR. Sementara untuk kulit dengan luka berbahaya diberikan VAR dan SAR.
Sementara itu, perawatan rabies pada manusia bisa dilakukan, antara lain:
a. Penderita dirujuk ke Rumah Sakit
b. Sebelum dirujuk, penderita di infus dengan cairan Ringer Laktat (NACl 0,9%) atau cairan infus lainnya, jika perlu diberikan anti konvulsan dan sebaiknya penderita difiksasi selama perjalanan. Waspada terhadap tindak-tanduk penderita yang tidak rasional, kadang-kadang maniakal disertai dengan saat-saat responsif.
c. Di rumah sakit, penderita harus dirawat di ruang isolasi.
d. Tindakan medik dan pemberian obat-obat simptomatis dan supportif termasuk anti biotik bila diperlukan.
e. Untuk menghindari adanya kemungkinan penularan dari penderita, sewaktu menangani kasus rabies pada manusia, dokter, paramedis, anggota keluarga memakai sarung tangan, kaca mata dan masker, serta sebaiknya dilakukan fiksasi penderita pada tempat tidur.
Jadi, virus rabies dapat ditangkal dengan melakukan vaksinasi seperti vaksin Rab Avert. Pada manusia, vaksin ini rutin diberikan kepada orang-orang yang pekerjaannya beresiko tinggi seperti dokter hewan, pawang binatang, peneliti khusus hewan dan lainnya. Orang yang akan bepergian ke daerah-daerah yang dianggap beresiko tinggi dianjurkan untuk mendapat vaksin ini sebelum bepergian. Untuk orang yang tiba-tiba digigit atau dicakar hewan pembawa virus rabies ini akan mendapat serangkaian vaksinasi Human Deploid Cell dan Human Rabies Immune Globulin.
Karena anjing, kucing dan musang dan terinfeksi virus rabies, hal terpenting adalah mencegah kuman rabies masuk ke dalam tubuh dengan memberikan vaksinasi kepada hewan-hewan peliharaan yang tinggal bersama kita. Kita juga harus melaporkan hewan-hewan liar yang berkeliaran di sekitar lingkungan rumah kepada pihak yang berwenang. Untuk itu, jangan sembarangan membiarkan anak anda untuk menyentuh, membelai-belai atau memberi makan hewan yang ditemuinya di jalan.
Jika seorang anak tergigit hewan, cepat cuci area yang terluka dengan sabun dan air selama sepuluh menit dan tutup lukanya dengan plester. Lalu pergi ke dokter terdekat untuk mengetahui apakah terkena infeksi rabies atau tidak. Hal lain yang dapat dilakukan adalah memberitahukan pihak yang berwenang mengurus hewan-hewan liar, untuk menangkapnya agar dilakukan pemeriksaan terhadap hewan itu, apakah membawa virus rabies atau tidak.
Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk pencegahan dan pemberantasan rabies adalah:
a. Anjing peliharaan, tidak boleh dibiarkan lepas berkeliaran, harus didaftarkan ke Kantor Kepala Desa atau Kelurahan atau Petugas Dinas Peternakan setempat.
b. Anjing harus diikat dengan rantai yang panjangnya tidak boleh lebih dari 2 meter.
c. Anjing yang hendak dibawa keluar halaman harus diikat dengan rantai tidak lebih dari 2 meter dan moncongnya harus menggunakan berangus (beronsong).
d. Pemilik anjing wajib untuk menvaksinasi rabies.
e. Anjing liar atau anjing yang diliarkan harus segera dilaporkan kepada petugas Dinas Peternakan atau Pos Kesehatan Hewan untuk diberantas / dimusnahkan.
f. Kurangi sumber makanan di tempat terbuka Untuk mengurangi anjing liar atau anjing yang diliarkan.
g. Daerah yang terbebas dari penyakit rabies, harus mencegah masuknya anjing, kucing, kera dan hewan sejenisnya dari daerah tertular rabies.
h. Masyarakat harus waspada terhadap anjing yang diliarkan dan segera melaporkannya kepada Petugas Dinas Peternakan atau Posko Rabies.
Biasanya, binatang pembawa rabies akan mempunyai gejala, seperti hewan menjadi garang atau ganas (furious rabies) atau hewan menjadi tenang (dum rabies ). Penanganannya:
a. Hewan yang telah menggigit manusia harus diusahakan tertangkap dan jangan dibunuh, laporkan kepada petugas Dinas Peternakan, Pos Kesehatan Hewan atau diserahkan langsung kepada Dinas Peternakan setempat untuk dilakukan observasi selama 14 hari.
b. Hewan yang telah menggigit manusia dan tertangkap tetapi terpaksa dibunuh atau mati, kepalanya harus diserahkan kepada Dinas Peternakan setempat sebagai bahan pemeriksaan laboratorium.
Ada juga beberapa tips yang bisa dilakukan, jika kita terkena gigitan hewan:
a. Kompres dengan es
Gigitan nyamuk bisa dirawat dengan kompres es, menurut seorang dokter. Ia mengatakan, es mengurangi bengkak yang terjadi dan menghilangkan rasa sakit dan gatal. Ia menyarankan mengompres gigitan itu selama 20 menit setiap beberapa jam. Saran yang sama juga berlaku bagi gigitan laba-laba yang tidak beracun, yang juga bisa menyebabkan gatal.
b. Coba cara klasik
Waktu kecil, biasanya ibu anda menggunakan cairan kalamin untuk menyembuhkan gatal akibat gigitan nyamuk. Obat ini itu banyak dijual di toko
dan lebih ekonomis dibanding hidrokortison.
c. Obat anti histamin
Obat umum yang mengandung anti histamin juga bisa mengobati bekas gigitan yang gatal, karena gatal adalah reaksi alergi ringan. Anti histamin yang merupakan obat anti alergi ini tentu saja tidak boleh digunakan orang yang sensitif, wanita hamil, orang yang alergi pada bahan obat ini, atau orang yang obatnya bertentangan dengan obat ini. Tanyalah dokter atau apoteker terlebih dahulu bila anda tidak yakin.
d. Kenali tanda-tanda reaksi parah
Gigitan laba-laba beracun bisa menyebabkan reaksi alergi yang parah, sehingga anda perlu hati-hati mengenali reaksi alerginya sebelum terlambat. Tanda-tanda anafilaksis atau reaksi alergi yang parah ialah: sulit bernafas, bentol-bentol di seluruh badan, dan kehilangan kesadaran. Orang yang mengalami tanda-tanda ini harus secepatnya dibawa ke rumah sakit. Dokter biasanya merawat pasien anafilaksis dengan menggunakan steroid, adrenalin, dan antihistamin.
e. Jangan panik bila tergigit kutu busuk
Penyakit 'lyme' yang diakibatkan oleh kutu busuk dan bisa menyebabkan demam, kedinginan, sakit kepala, dan komplikasi lain baru-baru ini mendapatkan banyak perhatian. Tetapi tidak semua kutu busuk mengakibatkan penyakit ini dan tidak semua kutu busuk yang mengakibatkan lyme akan menularkannya kepada anda bila tergigit. Biasanya, seekor kutu busuk harus berada di kulit selama 24 sampai 48 jam agar bisa memindahkan organisme yang menyebabkan penyakit lyme itu. Sebaiknya anda memeriksa diri setiap hari bila anda berada di tempat yang mungkin didiami kutu-busuk. Jika anda mengambil kutu ini dari kulit anda (dengan menggunakan petunjuk berikut), anda disarankan mengawetkannya di botol kecil berisi alkohol, sehingga bila infeksi yang mencurigakan berkembang, kutu itu bisa diteliti terhadap kemungkinan membawa penyakit lyme. Anda tidak perlu menemui dokter kecuali menderita bengkak atau merah-merah di sekitar gigitan (tanda infeksi), gatal-gatal berbentuk lingkaran (biasanya gejala penyakit lyme ), demam, atau gatal-gatal pada kulit.
f. Ambil kutu busuk dengan hati-hati
Untuk mengambil kutu busuk dari kulit anda, jepit bagian mulut serangga ini dengan jepitan sedekat mungkin ke kulit anda, lalu pelan-pelan angkat lurus ke atas. Jangan mencoba menjepit bagian badan atau kepala, karena bagian ini bisa putus dan mulutnya tertinggal di bawah kulit anda. Gunakan penjepit tadi untuk menghilangkan bagian-bagian lain dari kutu itu lalu sapukan antiseptik, seperti alkohol atau salep antibiotik, ke bekas gigitan.
g. Hentikan perdarahan
Jika gigitan binatang menyebabkan perdarahan hebat, tekan daerah itu dengan telapak tangan. Jika lukanya besar, ikatkan sapu tangan, handuk, atau t-shirt erat-erat di sekitar daerah luka untuk memberi tekanan pada daerah tersebut (tidak terlalu erat sehingga menghalangi sirkulasi). Jangan gerakkan daerah tersebut. Bila gigitan itu terdapat pada bagian kaki, angkat kaki sehingga berada di atas lokasi jantung. Temui dokter secepatnya.
Jangan merawat lubang gigitan seperti sebuah goresan. Sebuah gigitan yang meninggalkan goresan tetapi tidak menembus kulit bisa langsung dicuci dengan sabun dan air, lalu diolesi dengan krim antibiotik atau salep. Tidak demikian untuk gigitan yang menembus atau melubangi kulit. Jenis ini memerlukan perawatan dokter. Anda perlu melihat apakah binatang itu sakit atau tidak. Perhatikan binatang itu. Pada binatang liar, jika ia diam saja (misalnya anda bisa mendekati seekor tupai dan memberinya makanan), maka pasti ada sesuatu pada binatang itu. Binatang itu sakit. Anda bisa menghubungi dokter atau dokter hewan untuk memastikan apakah ada wabah rabies pada binatang rumah atau liar di daerah anda.
h. Dapatkan suntikan anti tetanus
Jika anda tergigit binatang liar atau binatang peliharaan dan gigitan itu menembus kulit, anda disarankan menemui dokter untuk mengetahui apakah anda perlu suntikan anti tetanus atau tidak (biasanya tergantung pada jenis luka dan waktu suntikan tetanus terakhir anda). Gigitan hewan dan manusia mudah sekali terinfeksi karena semua makhluk ini memiliki banyak bakteri yang hidup di mulutnya. Juga perlu diperhatikan tanda-tanda infeksi, seperti bengkak dan warna merah.
i. Jangan tergigit
Mungkin jalan terbaik untuk merawat gigitan adalah, sebelum tergigit, hindari binatang liar walaupun mendekat pada anda dan jangan menyentuh ular, laba-laba, lebah dan apapun yang kelihatannya membahayakan. Kebanyakan binatang dan serangga tidak akan menyerang jika tidak diganggu. Binatang yang kelihatannya jinak pun, seperti tupai, bisa membawa kutu yang menimbulkan penyakit. Obat anti serangga juga bisa menghindarkan anda dari
gigitan bila anda lama berada di luar rumah.
j. Kenali fauna di daerah anda
Kenali fauna yang hidup di daerah anda, sehingga anda tahu apa yang perlu dihindari. Misalnya, anda hidup di daerah yang terdapat wabah rabies pada binatang peliharaan. Juga, anda perlu tahu apakah ada ular, laba-laba beracun maupun kalajengking yang hidup di sekitar anda.
Himbuan Kepada Masyarakat
Bantulah Petugas Dinas Peternakan dalam menekan jumlah anjing/kucing liar atau yang tidak bertuan dilingkungan/tempat tinggal masing-masing.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
1. Penyakit zoonosis yang dapat ditularkan oleh satwa liar tersebut tidaklah sedikit. Beberapa penyakit zoonosis yang paling umum menyerang satwa liar di antaranya tuberkulosis, streptococcosis, salmonellosis, rabies, leptospirosis, toksoplasmosis, psittaccosis, taeniasis, dipilidiasis, herpes-B, dan hepatitis.
2. Penyakit Gila Anjing atau dikenal dengan nama Rabies merupakan suatu penyakit infeksi akut pada susunan syaraf pusat yang disebabkan oleh Virus Rabies yang bersifat Zoonosis, dengan penularan kepada manusia melalui gigitan anjing,kucing dan kera.
3. Virus rabies terdapat dalam air liur hewan yang terinfeksi. Hewan ini menularkan infeksi kepada hewan lainnya atu manusia melalui gigitan dan kadang melalui jilatan. Virus akan masuk melalui saraf-saraf menuju ke medulla spinalis dan otak, dimana mereka berkembangbiak. Selanjutnya virus akan berpindah lagi melalui saraf ke kelenjar liur dan masuk ke dalam air liur.
4. Gejala biasanya mulai timbul dalam waktu 30-50 hari setelah terinfeksi, tetapi masa inkubasinya bervariasi dari 10 hari sampai lebih dari 1 tahun. Masa inkubasi biasanya paling pendek pada orang yang digigit pada kepala atau tempat yang tertutup celana pendek atau bila gigitan terdapat di banyak tempat.
5. Perjalanan penyakit Rabies pada anjing dan kucing dibagi dalam 3 fase (tahap):
a. Fase Prodormal
b. Fase Eksitasi
c. Fase Paralisa
6. Bila seseorang menderita rabies tindakan yang pertama kali adalah :
· Mencari luka gigitan secepatnya dengan sabun atau deterjen selama 10-15 menit.
· Kemudian luka dicuci dengan air bersih dan diberi alcohol 70% atau yodium tincture.
· Penderita segera di bawa ke Puskesmas atau Rumah Sakit terdekatDAFTAR PUSTAKA
http://www.tempointeraktif.com/hg/narasi/2004/03/28/nrs,20040328-02,id.html
http://www.anjingkita.com/wmview.php?ArtID=754
http://portalkomunikasi.jabarprov.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=197&Itemid=1
http://www.geocities.com/mitra_sejati_2000/rabies.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Rabies
http://209.85.175.104/search?q=cache:LRCI4dOc4yoJ:fkuii.org/tiki-download_wiki_attachment.php%3FattId%3D1207%26page%3DTriana%2520Amalia+definisi+rabies&hl=id&ct=clnk&cd=1&gl=id
PENDAHULUAN
Satwa, seperti halnya manusia, tidak terbebas dari penyakit. Ini berlaku bagi satwa piaraan atau satwa liar yang hidup bebas di alam ataupun dalam kandang, seperti di kebun binatang. Berbagai penyakit dapat ditemukan, dari yang patogen hanya terhadap satwa itu sendiri hingga yang dapat menular ke manusia. Dalam dunia kedokteran dikenal istilah penyakit zoonosis, yaitu penyakit yang dapat menular dari satwa kepada manusia dan sebaliknya. Zoonosis dapat disebabkan oleh virus, bakteri, parasit (endoparasit atau ektoparasit), serta jamur. Lebih dari 34 jenis penyakit menular yang dikategorikan zoonosis telah diidentifikasi oleh ahli penyakit hewan.
Zoonosis pada hewan domestik
Penyakit zoonosis dapat ditularkan oleh hewan domestik (yang telah dijinakkan dan dikembangbiakkan sebagai hewan ternak atau hewan piaraan) dan oleh satwa liar. Kasus terbaru yang menghebohkan adalah avian influenza, yang penyebarannya melalui unggas.
Kasus yang tidak kalah penting adalah munculnya antraks di daerah Cileungsi, Bogor, Jawa Barat, yang menyerang kambing dan domba. Penyakit antraks menyerang berbagai jenis hewan, seperti sapi, kambing, domba, babi, kuda, kucing, dan burung unta.
Contoh lainnya adalah rabies, salah satu penyakit zoonosis yang sudah dikenal masyarakat dari zaman dulu dan biasa terjadi pada orang yang terkena gigitan anjing yang positif terhadap penyakit ini. Dulu penyakit tersebut menjadi momok bagi masyarakat, terutama di pedesaan, yang populasi anjing liarnya masih sangat banyak.
Zoonosis pada satwa liar
Cara yang paling mudah untuk melihat berbagai jenis satwa liar adalah ke kebun binatang. Di sanalah kemungkinan paling dekat terjadinya penularan penyakit zoonosis kepada manusia. Interaksi terbesar manusia dengan satwa liar akan terjadi karena pengunjung sering kali memberi makan atau menyentuh satwa di dalam kandang atau berpotret bersama satwa yang ada.
Penyakit zoonosis yang dapat ditularkan oleh satwa liar tersebut tidaklah sedikit. Beberapa penyakit zoonosis yang paling umum menyerang satwa liar di antaranya tuberkulosis, streptococcosis, salmonellosis, rabies, leptospirosis, toksoplasmosis, psittaccosis, taeniasis, dipilidiasis, herpes-B, dan hepatitis. Beberapa penyakit itu pernah dilaporkan menyerang satwa liar yang ada di Indonesia.
Mengapa bisa sampai ke manusia?
Banyak faktor dapat memicu penyakit hinggap pada hewan, bahkan satwa liar yang bebas di alam sekalipun, apalagi dalam kondisi terkurung. Penyakit dapat menyerang terutama pada kondisi satwa yang lemah, stres, lingkungan yang kotor, serta perawatan satwa yang kurang baik.
Ada beberapa metode berbeda untuk mengetahui penularan penyakit zoonosis dari satwa kepada manusia. Pada beberapa kasus, penyakit zoonosis ditularkan melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi dan pada kasus lain dapat dijumpai penularan melalui air minum yang mengandung telur dari parasit yang zoonosis–biasanya pada kasus yang berhubungan dengan cacing pita (taeniasis).
Cara penularan yang lain dapat melalui vektor insekta (serangga), contohnya melalui tungau (flea) atau kutu (tick) yang termakan oleh hewan yang terinfeksi kemudian termakan oleh manusia. Pada prosesnya, serangga tersebut mentransfer organisme infeksius.
Penyakit zoonosis tersebut sering berakibat fatal, baik bagi hewan, satwa itu, maupun bagi manusia. Namun, kita sering tidak mengetahui bahaya yang mengancam apabila terserang penyakit karena terkadang kurang awas dan tidak tahu. Sering kali kita baru menyadari setelah dilakukan pemeriksaan lengkap, seperti halnya pada kasus toksoplasmosis. Penyakit ini tidak cukup hanya didiagnosis berdasarkan gejala klinis yang muncul, tapi baru dapat dipastikan setelah dilakukan pemeriksaan darah dengan metode yang tepat.
Hewan dan manusia memang sebaiknya tidak hidup berdampingan, terkecuali kita sudah memastikan bahwa hewan tersebut dalam status sehat. Berbagai upaya dapat dilakukan untuk mencegah penyakit zoonosis ini, di antaranya dengan vaksinasi, pemeliharaan yang benar, dan lingkungan hewan itu yang harus selalu terjaga kebersihannya. Untuk satwa liar yang sudah keluar dari habitatnya, seperti di kebun binatang, sebaiknya faktor manusia sebagai pengunjung harus lebih berhati-hati dan tidak gegabah untuk bersentuhan dengan satwa yang ada.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi
Penyakit Gila Anjing atau dikenal dengan nama Rabies merupakan suatu penyakit infeksi akut pada susunan syaraf pusat yang disebabkan oleh Virus Rabies yang bersifat Zoonosis, dengan penularan kepada manusia melalui gigitan anjing,kucing dan kera. Penyakit ini bila sudah menunjukan gejala klinis baik pada hewan maupun pada manusia selalu diakhiri dengan kematian, sehingga mengakibatkan rasa cemas dan takut bagi orang-orang yang terkena gigitan.
Rabies adalah penyakit infeksi akut susunan saraf pusat pada manusia dan mamalia yang berakibat fatal. Penyakit in ditandai dengan disfungsi hebat susunan saraf dan hampir selalu berakhir dengan kematian. Penyakit rabies disebabkan oleh virus rabies yang termasuk genus Lyssa-virus , famili Rhabdoviridae dan menginfeksi manusia melalui secret yang terinfeksi pada gigitan binatang. Nama lain rabies ialah hydrophobia, la rage (Perancis), la rabbia (Italia), la rabia (Spanyol), die tollwut (Jerman) atau di Indonesia dikenal sebagai penyakit anjing gila
Rabies(penyakit anjing gila) adalah penyakit infeksi akut pada susunan saraf pusat yang disebabkan oleh virus rabies, dan ditularkan melalui gigitan hewan penular rabies terutama anjing, kucing dan kera.
Penyakit Rabies atau penyakit anjing gila adalah penyakit hewan yang menular yang disebakan oleh virus dan dapat menyerang hewan berdarah panas dan manusia.
Pada hewan yang menderita Rabies, virus ditemukan dengan jumlah banyak pada air liurnya. Virus ini akan ditularkan ke hewan lain atau ke manusia terutama melalui luka gigitan . Oleh karena itu bangsa Karnivora (anjing,kucing, serigala) adalah hewan yang paling utama sebagai penyebar Rabies.
Penyakit Rabies merupakan penyakit Zoonosa yang sangat berbahaya dan ditakuti karena bila telah menyerang manusia atau hewan akan selalu berakhir dengan kematian.
B. Etiologi
Virus rabies merupakan prototipe dari genus Lysa-virus dari famili Rhabdoviridae. Dari genus ada 11 jenis virus yang secara antigenik mirip virus rabies dan menginfeksi manusia adalah virus rabies, Mokola, Duvenhage dan European bat lyssa-virus. Virus rabies termasuk golongan virus RNA. Virus berbentuk peluru dengan ukuran 180 x 75 nm, single stranded RNA, terdiri dari kombinasi nukleo-protein yang berbentuk koil heliks yang tersusun dari fosfoprotein dan polimerasi RNA. Selubung virus terdiri dari lipid, protein matriks dan glikoprotein. Glikoprotein berperan dalam proses melekatnya virus pada sel yang rentan, serta mengandung antigen yang membentuk serum neutralizing antibodi yang memberikan proteksi terhadap virus rabies. Selain itu, spesifisitas antigenik virus itu sendiri juga berlokasi di glikoprotein tersebut. Ini berarti bahwa perbedaan antigen antara virus rabies klasik dan rabies related virus berasosiasi dengan spikesnya. Virus rabies inaktif pada pemanasan dengan temperature 56 derajat celcius waktu paruh kurang dari menit, dan pada kondisi lembab pada temperature 37 derajat celcius dapat bertahan beberapa jam. Virus juga akan mati dengan deterjen, sabun, etanol 45 %, solusi jodium. Virus rabies dan virus lain yang sekeluarga dengan rabies diklasifikasikan menjadi 6 genotipe. Rabies merupakan genotipe 1, Mokola genotipe 3, Duvenhage genotipe 4, dan European bat lyssa-virus genotipe 5 dan 6.
Virus rabies
Virus rabies terdapat dalam air liur hewan yang terinfeksi. Hewan ini menularkan infeksi kepada hewan lainnya atu manusia melalui gigitan dan kadang melalui jilatan. Virus akan masuk melalui saraf-saraf menuju ke medulla spinalis dan otak, dimana mereka berkembangbiak. Selanjutnya virus akan berpindah lagi melalui saraf ke kelenjar liur dan masuk ke dalam air liur.
Banyak hewan yang bisa menularkan rabies kepada manusia. Yang paling sering menjadi sumber dari rabies adalah anjing; hewan lainnya yang juga bisa menjadi sumber penularan rabies adalah kucing, kelelawar, rakun, sigung, rubah.
Rabies pada anjing masih sering ditemukan di Amerika Latin, Afrika dan Asia, karena tidak semua hewan peliharaan mendapatkan vaksinasi untuk penyakit ini. Hewan yang terinfeksi bisa mengalami rabies buas atau rabies jinak. Pada rabies buas, hewan yang terkena tampak gelisah dan ganas, kemudian menjadi lumpuh dan mati. Pada rabies jinak, sejak awal telah terjadi kelumpuhan lokal atau kelumpuhan total.
Meskipun sangat jarang trjadi, rabies bisa ditularkan melalui penghirupan udara yang tercemar. Telah dilaporkan 2 kasus yang terjadi pada penjelajah yang menghirup udara di dalam goa dimana banyak terdapat kelelawar.
C. Transmisi
Infeksi terjadi biasanya melalui kontak dengan binatang seperti anjing, kucing, kera, serigala, kelelawar, dan ditularkan pada manusia melalui gigitan binatang atau kontak virus (saliva binatang) dengan luka pada host ataupun melalui membrane mukosa. Kulit yang utuh merupakan barier pertahanan terhadap infeksi. Transmisi dari manusia ke manusia belum pernah dilaporkan. Infeksi rabies pada manusia terjadi dengan masuknya virus lewat luka pada kulit (garukan, lecet, luka robek) atau mukosa. Paling sering infeksi terjadi melalui gigitan anjing, tetapi bisa juga melalui gigitan kucing, kera, atau binatang lainnya yang terinfeksi (serigala, musang, kelelawar). Cara infeksi yang lain adalah melalui inhalasi dimana dilaporkan terjadinya infeksi rabies pada orang yang mengunjungi gua kelelawar tanpa ada gigitan. Dapat pula kontak virus rabies pada kecelakaan kerja di laboratorium, atau akibat vaksinasi dari virus rabies yang masih hidup. Terjangkitnya infeksi rabies juga dilaporkan pada tindakan transplantasi kornea dari donor yang mungkin terinfeksi rabies.
D. Patogenesis dan Patofisiologi
Setelah virus rabies masuk ke dalam tubuh manusia, selama 2 minggu virus menetap pada tempat masuk dan di jaringan otot di dekatnya virus berkembang biak atau langsung mencapai ujung-ujung serabut saraf perifer tanpa menunjukkan perubahan-perubahan fungsinya. Selubung virus menjadi satu dengan membran plasma dan protein ribonukleus dan memasuki sitoplasma. Beberapa tempat pengikatan adalah reseptor asetil-kolin post-sinaptik pada neuromuscular junction di susunan saraf pusat (SPP). Dari saraf perifer virus menyebar secara sentripetal melalui endoneurium sel-sel Schwan dan melalui aliran aksoplasma mencapai ganglion dorsalis dalam waktu 60-72 jam dan berkembang biak. Selanjutnya virus akan menyebar dengan kecepatan 3 mm/jam ke susunan saraf pusat (medulla spinalis dan otak) melalui cairan serebrospinal. Di otak virus menyebar secara luas dan memperbanyak diri dalam semua bagian neuron, kemudian bergerak ke perifer dalam serabut saraf eferen dan pada saraf volunter maupun saraf otonom. Penyebaran selanjutnya dari SSP ke saraf perifer termasuk serabut saraf otonom, otot skeletal, otot jantung, kelenjar adrenal (medulla), medulla, ginjal, mata, pankreas. Pada tahap berikutnya virus akan terdapat pada kelenjar ludah, kelenjar lakrimalis, sistem respirasi. Virus juga tersebar pada air susu dan urin. Pada manusia hanya dijumpai kelainan pada midbrain dan medulla spinalis pada rabies tipe furious (buas) dan pada medulla spinalis pada tipe paralitik. Perubahan patologi berupa degenerasi sel ganglion, infiltrasi sel mononuclear dan perivaskuler, neuronofagia, dan pembentukan nodul pada glia pada otak dan medula spinalis.
E. Tanda dan Gejala
Gejala-gejala awal berupa demam, malaise umum, mual dan rasa nyeri di tengah tenggorok selama beberapa hari, selain itu pasien juga merasa nyeri, rasa panas disertai semutan pada tempat luka. Kemudian disusul dengan gejala cemas dan reaksi yang berlebihan terhadap rangsang sensorik atau yang dinamakan stimulus-sensitive myoclonus. Tonus otot-otot dan aktivitas simpatik menjadi meninggi dengan gejala-gejala hiperhidrosis, hipersalivasi, hiperlakrimasi dan pupil dilatasi.
Masa inkubasi rabies 95% antara 3-4 bulan, masa inkubasi bisa bervariasi antara 7 hari-7 tahun, hanya 1% kasus dengan inkubasi 1-7 tahun. Karena lamanya inkubasi kadang-kadang pasien tidak dapat mengingat kapan terjadinya gigitan. Pada anak-anak masa inkubasi biasanya lebih pendek daripada orang dewasa. Lamanya masa inkubasi dipengaruhi oleh dalam dan besarnya luka gigitan, lokasi luka gigitan (jauh dekatnya ke system saraf pusat), derajat patogenitas virus dan persarafan daerah luka gigitan. Luka pada kepala inkubasi 25-48 hari, dan pada ekstremitas 46-78 hari.
Pada manusia secara teoritis gejala klinis terdiri dari 4 stadium yang dalam keadaan sebenarnya sulit dipisahkan satu dari yang lainnya, yaitu: gejala prodromal non-spesifik, ensefalitis akut, disfungsi batang otak, koma dan kematian.
a. Stadium Prodormal
Berlangsung 1-4 hari dan biasanya tidak didapatkan gejala spesifik. Umumnya disertai gejala respirasi atau abdominal yang ditandai oleh demam, menggigil, batuk, nyeri menelan, nyeri perut, sakit kepala, malaise, mialgia, mual, muntah, diare dan nafsu makan menurun. Gejala yang lebih spesifik yaitu adanya gatal dan parestesia pada luka bekas gigitan yang sudah sembuh (50%). Stadium ini dapat berlangsung sampai 10 hari, kemudian penyakit akan memasuki gejala neurologik akut yang dapat berupa furious atau paralitik. Mioedema dijumpai pada stadium prodormal dan menetap selama perjalanan penyakit ¹.
b. Stadium Neurologi Akut
Berupa gejala furious atau paralitik. Pada gejala furious penderita menjadi hiperaktif, disorientasi, mengalami halusinasi, atau bertingkah laku aneh. Setelah beberapa jam-hari gejala hiperaktif menjadi intermiten setiap 1-5 menit berupa periode agitasi, ingin lari, menggigit diselingi periode tenang. Keadaan hiperaktif terjadi karena rangsangan dari luar seperti suara, cahaya, tiupan udara dan rangsangan lainnya yang menimbulkan kejang sehingga timbul bermacam-macam fobia terhadap berbagai macam rangsangan tersebut Tanda-tanda klinis lain dapat berupa hiperaktifitas, halusinasi, gangguan kepribadian, meningismus, lesi saraf kranialis, fasikulasi otot dan gerakan-gerakan involunter, fluktuasi suhu badan, dilatasi pupil ¹.
c. Stadium Koma
Apabila tidak terjadi kematian pada stadium neurologik, penderita dapat mengalami koma. Koma dapat terjadi dalam 10 hari setelah gejala rabies tampak dan dapat berlangsung hanya beberapa jam sampai berbulan-bulan tergantung dari penanganan intensif. Pada penderita yang tidak ditangani, penderita dapat segera meninggal setelah terjadi koma
Gejala biasanya mulai timbul dalam waktu 30-50 hari setelah terinfeksi, tetapi masa inkubasinya bervariasi dari 10 hari sampai lebih dari 1 tahun. Masa inkubasi biasanya paling pendek pada orang yang digigit pada kepala atau tempat yang tertutup celana pendek atau bila gigitan terdapat di banyak tempat.
Pada 20% penderita, rabies dimulai dengan kelumpuhan pada tungkai bawah yang menjalar ke seluruh tubuh. Tetapi penyakit ini biasanya dimulai dengan periode yang pendek dari depresi mental, keresahan, tidak enak badan dan demam. Keresahan akan meningkat menjadi kegembiraan yang tak terkendali dan penderita akan mengeluarkan air liur.
Kejang otot tenggorokan dan pita suara bisa menyebankan rasa sakit luar biasa. Kejang ini terjadi akibat adanya gangguan daerah otak yang mengatur proses menelan dan pernafasan. Angin sepoi-sepoi dan mencoba untuk minum air bisa menyebabkan kekejangan ini. Oleh karena itu penderita rabies tidak dapat minum. Karena hal inilah, maka penyakit ini kadang-kadang juga disebut hidrofobia (takut air).
Sesudah masa tunas / inkubasi selama 10 hari sampai dengan 7 bulan, orang yang tertular dapat mengalami / menderita penyakit ini dengan gejala-gejala sebagai berikut :
· Diawali dengan demam ringan atau sedang, sakit kepala, tak nafsu makan, lemah, mual, muntah dan perasaan yang abnormal pada daerah sekitar gigitan (anjing/binatang liar tsb).
· Gejala di atas kemudian dengan cepat diikuti hiperestesi dan hipereksitasi mental serta neuromuskular, diikuti dengan kaku kuduk dan kejang-kejang otot-otot yang berfungsi dalam proses menelan dan pernafasan. Sedikit rangsangan berupa cahaya, suara, bau ataupun sedikit cairan dapat menimbulkan reflex kejang-kejang tersebut.
· Keadaan tersebut selanjutnya berkembang menjadi kekejangan umum dan kematianpun umumnya terjadi pada tahap ini.
Tanda-Tanda Penyakit Rabies Pada Hewan Dan Manusia
Pada anjing dan kucing, penyakit Rabies dibedakan menjadi 2 bentuk , yaitu bentuk diam (Dumb Rabies) dan bentuk ganas (Furious Rabies).
1. Tanda - tanda Rabies bentuk diam :
· Terjadi kelumpuhan pada seluruh bagian tubuh.
· Hewan tidak dapat mengunyah dan menelan makanan, rahang bawah tidak dapat dikatupkan dan air liur menetes berlebihan.
· Tidak ada keinginan menyerang atau mengigit. Hewan akan mati dalam beberapa jam.
2. Tanda-tanda Rabies bentuk ganas:
· Hewan menjadi agresif dan tidak lagi mengenal pemiliknya.
· Menyerang orang, hewan, dan benda-benda yang bergerak.
· Bila berdiri sikapnya kaku, ekor dilipat diantara kedua paha belakangnya .
· Anak anjing menjadi lebih lincah dan suka bermain , tetapi akan menggigit bila dipegang dan akan menjadi ganas dalam beberapa jam.
Tanda-Tanda Rabies Pada Manusia :
· Rasa takut yang sangat pada air, dan peka terhadap cahaya, udara, dan suara.
· Airmata dan air liur keluar berlebihan .
· Pupil mata membesar.
· Bicara tidak karuan, selalu ingin bergerak dan nampak kesakitan.
· Selanjutnya ditandai dengan kejang-kejang lalu lumpuh dan akhirnya meninggal dunia.
F. Diagnosis
Virus rabies dapat disimpan pada suhu -20˚C (freezer) dalam bentuk otak mencit segar yang direndam dalam Dulbecco’s modified eagle medium (DMEM) yang mengandung 2% foetal bovine serum (FBS) serta dalam bentuk supernatan. Tersedianya control virus positif rabies galur CVS, pemeriksaan dengan metode FAT harus dilakukan seakurat mungkin dengan memperhatikan prosedur kerja yang benar yaitu tekhnik pembuatan ulas, pencucian, pemakaian kontrol virus rabies positif dan kontrol rabies negative.
G. Penanganan dan Pengobatan
Tindakan Terhadap Hewan Yang Menggigit
Anjing, kucing dan kera yang menggigit manusia atau hewan lainnya harus dicurigai menderita Rabies. Terhadap hewan tersebut harus diambil tindakan sebagai berikut :
a. Bila hewan tersebut adalah hewan peliharaan atau ada pemiliknya , maka hewan tersebut harus ditangkap dan diserahkan ke Dinas Peternakan setempat untuk diobservasi selama 14 hari. Bila hasil observasi negatif Rabies maka hewan tersebut harus mendapat vaksinasi Rabies sebelum diserahkan kembali kepada pemiliknya.
b. Bila hewan yang menggigit adalah hewan liar (tidak ada pemiliknya) maka hewan tersebut harus diusahakan ditangkap hidup dan diserahkan kepada Dinas Peternakan setempat untuk diobservasi dan setelah masa observasi selesai hewan tersebut dapat dimusnahkan atau dipelihara oleh orang yang berkenan , setelah terlebih dahulu diberi vaksinasi Rabies.
c. Bila hewan yang menggigit sulit ditangkap dan terpaksa harus dibunuh, maka kepala hewan tersebut harus diambil dan segera diserahkan ke Dinas Peternakan setempat untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium.
Tindakan Terhadap Orang Yang Digigit (Korban)
a. Segera cuci luka gigitan dengan air bersih dan sabun atau detergen selama 5 - 10 menit kemudian bilas dengan air yang mengalir , lalu keringkan dengan kain bersih atau kertas tissue.
b. Luka kemudian diberi obat luka yang tersedia (misalnya obat merah) lalu dibalut longgar dengan pembalut yang bersih.
c. Penderita atau korban secepatnya dibawa ke Puskesmas atau Rumah Sakit terdekat untuk mendapat perawatan lebih lanjut.
Tindakan Terhadap Anjing , Kucing, atau Kera Yang Dipelihara
a. Menempatkan hewan peliharaan dalam kandang yang baik dan sesuai dan senantiasa memperhatikan kebersihan kandang dan sekitarnya.
b. Menjaga kesehatan hewan peliharaan dengan memberikan makanan yang baik , pemeliharaan yang baik dan melaksanakan Vaksinasi Rabies secara teratur setiap tahun ke Dinas Peternakan atau Dokter Hewan Praktek.
c. Memasang rantai pada leher anjing bila anjing tidak dikandangkan atau sedang diajak berjalan-jalan.
Pemberian vaksin anti rabies (VAR) atau VAR disertai dengan serum anti rabies (SAR) harus didasarkan atas tindakan tajam dengan mempertimbangkan hasil-hasil penemuan di bawah ini:
a. Anamnesis:- kontak/jilatan/gigitan - kejadian di daerah tertular/terancam/bebas - didahului tindakan provokatif/tidak - hewan yang menggigit menunjukkan gejala rabies - hewan yang menggigit mati, tapi masih diragukan menderita rabies - penderita luka gigitan pernah di VAR, kapan ? - hewan yang menggigit pernah di VAR, kapan ?
b. Pemeriksaan fisik:- identifikasi luka gigitan (status lokalis)
c. Lain-lain: - temuan pada waktu observasi hewan - hasil pemeriksaan spesimen dari hewan - petunjuk WHO
Jika ada indikasi pengobatan Pasteur, terhadap luka resiko rendah diberi VAR saja. Yang termasuk luka tidak berbahaya adalah jilatan pada kulit luka, garukan atau lecet (erosi atau ekskoriasi), luka kecil di sekitar tangan, badan dan kaki. Terhadap luka resiko tinggi, selain VAR juga diberi SAR. Yang termasuk luka berbahaya adalah jilatan atau luka pada mukosa, luka di atas daerah bahu (muka, kepala, leher), luka pada jari tangan atau kaki, genetalia, luka yang lebar atau dalam dan luka yang banyak (multipel)
Untuk kontak (dengan air liur atau saliva hewan tersangka atau hewan rabies atau penderita rabies) tapi tidak ada luka, kontak tak langsung, tidak ada kontak, tidak perlu diberikan pengobatan. Kontak dengan air liur pada kulit luka yang tidak berbahaya, diberikan VAR. Sementara untuk kulit dengan luka berbahaya diberikan VAR dan SAR.
Sementara itu, perawatan rabies pada manusia bisa dilakukan, antara lain:
a. Penderita dirujuk ke Rumah Sakit
b. Sebelum dirujuk, penderita di infus dengan cairan Ringer Laktat (NACl 0,9%) atau cairan infus lainnya, jika perlu diberikan anti konvulsan dan sebaiknya penderita difiksasi selama perjalanan. Waspada terhadap tindak-tanduk penderita yang tidak rasional, kadang-kadang maniakal disertai dengan saat-saat responsif.
c. Di rumah sakit, penderita harus dirawat di ruang isolasi.
d. Tindakan medik dan pemberian obat-obat simptomatis dan supportif termasuk anti biotik bila diperlukan.
e. Untuk menghindari adanya kemungkinan penularan dari penderita, sewaktu menangani kasus rabies pada manusia, dokter, paramedis, anggota keluarga memakai sarung tangan, kaca mata dan masker, serta sebaiknya dilakukan fiksasi penderita pada tempat tidur.
Jadi, virus rabies dapat ditangkal dengan melakukan vaksinasi seperti vaksin Rab Avert. Pada manusia, vaksin ini rutin diberikan kepada orang-orang yang pekerjaannya beresiko tinggi seperti dokter hewan, pawang binatang, peneliti khusus hewan dan lainnya. Orang yang akan bepergian ke daerah-daerah yang dianggap beresiko tinggi dianjurkan untuk mendapat vaksin ini sebelum bepergian. Untuk orang yang tiba-tiba digigit atau dicakar hewan pembawa virus rabies ini akan mendapat serangkaian vaksinasi Human Deploid Cell dan Human Rabies Immune Globulin.
Karena anjing, kucing dan musang dan terinfeksi virus rabies, hal terpenting adalah mencegah kuman rabies masuk ke dalam tubuh dengan memberikan vaksinasi kepada hewan-hewan peliharaan yang tinggal bersama kita. Kita juga harus melaporkan hewan-hewan liar yang berkeliaran di sekitar lingkungan rumah kepada pihak yang berwenang. Untuk itu, jangan sembarangan membiarkan anak anda untuk menyentuh, membelai-belai atau memberi makan hewan yang ditemuinya di jalan.
Jika seorang anak tergigit hewan, cepat cuci area yang terluka dengan sabun dan air selama sepuluh menit dan tutup lukanya dengan plester. Lalu pergi ke dokter terdekat untuk mengetahui apakah terkena infeksi rabies atau tidak. Hal lain yang dapat dilakukan adalah memberitahukan pihak yang berwenang mengurus hewan-hewan liar, untuk menangkapnya agar dilakukan pemeriksaan terhadap hewan itu, apakah membawa virus rabies atau tidak.
Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk pencegahan dan pemberantasan rabies adalah:
a. Anjing peliharaan, tidak boleh dibiarkan lepas berkeliaran, harus didaftarkan ke Kantor Kepala Desa atau Kelurahan atau Petugas Dinas Peternakan setempat.
b. Anjing harus diikat dengan rantai yang panjangnya tidak boleh lebih dari 2 meter.
c. Anjing yang hendak dibawa keluar halaman harus diikat dengan rantai tidak lebih dari 2 meter dan moncongnya harus menggunakan berangus (beronsong).
d. Pemilik anjing wajib untuk menvaksinasi rabies.
e. Anjing liar atau anjing yang diliarkan harus segera dilaporkan kepada petugas Dinas Peternakan atau Pos Kesehatan Hewan untuk diberantas / dimusnahkan.
f. Kurangi sumber makanan di tempat terbuka Untuk mengurangi anjing liar atau anjing yang diliarkan.
g. Daerah yang terbebas dari penyakit rabies, harus mencegah masuknya anjing, kucing, kera dan hewan sejenisnya dari daerah tertular rabies.
h. Masyarakat harus waspada terhadap anjing yang diliarkan dan segera melaporkannya kepada Petugas Dinas Peternakan atau Posko Rabies.
Biasanya, binatang pembawa rabies akan mempunyai gejala, seperti hewan menjadi garang atau ganas (furious rabies) atau hewan menjadi tenang (dum rabies ). Penanganannya:
a. Hewan yang telah menggigit manusia harus diusahakan tertangkap dan jangan dibunuh, laporkan kepada petugas Dinas Peternakan, Pos Kesehatan Hewan atau diserahkan langsung kepada Dinas Peternakan setempat untuk dilakukan observasi selama 14 hari.
b. Hewan yang telah menggigit manusia dan tertangkap tetapi terpaksa dibunuh atau mati, kepalanya harus diserahkan kepada Dinas Peternakan setempat sebagai bahan pemeriksaan laboratorium.
Ada juga beberapa tips yang bisa dilakukan, jika kita terkena gigitan hewan:
a. Kompres dengan es
Gigitan nyamuk bisa dirawat dengan kompres es, menurut seorang dokter. Ia mengatakan, es mengurangi bengkak yang terjadi dan menghilangkan rasa sakit dan gatal. Ia menyarankan mengompres gigitan itu selama 20 menit setiap beberapa jam. Saran yang sama juga berlaku bagi gigitan laba-laba yang tidak beracun, yang juga bisa menyebabkan gatal.
b. Coba cara klasik
Waktu kecil, biasanya ibu anda menggunakan cairan kalamin untuk menyembuhkan gatal akibat gigitan nyamuk. Obat ini itu banyak dijual di toko
dan lebih ekonomis dibanding hidrokortison.
c. Obat anti histamin
Obat umum yang mengandung anti histamin juga bisa mengobati bekas gigitan yang gatal, karena gatal adalah reaksi alergi ringan. Anti histamin yang merupakan obat anti alergi ini tentu saja tidak boleh digunakan orang yang sensitif, wanita hamil, orang yang alergi pada bahan obat ini, atau orang yang obatnya bertentangan dengan obat ini. Tanyalah dokter atau apoteker terlebih dahulu bila anda tidak yakin.
d. Kenali tanda-tanda reaksi parah
Gigitan laba-laba beracun bisa menyebabkan reaksi alergi yang parah, sehingga anda perlu hati-hati mengenali reaksi alerginya sebelum terlambat. Tanda-tanda anafilaksis atau reaksi alergi yang parah ialah: sulit bernafas, bentol-bentol di seluruh badan, dan kehilangan kesadaran. Orang yang mengalami tanda-tanda ini harus secepatnya dibawa ke rumah sakit. Dokter biasanya merawat pasien anafilaksis dengan menggunakan steroid, adrenalin, dan antihistamin.
e. Jangan panik bila tergigit kutu busuk
Penyakit 'lyme' yang diakibatkan oleh kutu busuk dan bisa menyebabkan demam, kedinginan, sakit kepala, dan komplikasi lain baru-baru ini mendapatkan banyak perhatian. Tetapi tidak semua kutu busuk mengakibatkan penyakit ini dan tidak semua kutu busuk yang mengakibatkan lyme akan menularkannya kepada anda bila tergigit. Biasanya, seekor kutu busuk harus berada di kulit selama 24 sampai 48 jam agar bisa memindahkan organisme yang menyebabkan penyakit lyme itu. Sebaiknya anda memeriksa diri setiap hari bila anda berada di tempat yang mungkin didiami kutu-busuk. Jika anda mengambil kutu ini dari kulit anda (dengan menggunakan petunjuk berikut), anda disarankan mengawetkannya di botol kecil berisi alkohol, sehingga bila infeksi yang mencurigakan berkembang, kutu itu bisa diteliti terhadap kemungkinan membawa penyakit lyme. Anda tidak perlu menemui dokter kecuali menderita bengkak atau merah-merah di sekitar gigitan (tanda infeksi), gatal-gatal berbentuk lingkaran (biasanya gejala penyakit lyme ), demam, atau gatal-gatal pada kulit.
f. Ambil kutu busuk dengan hati-hati
Untuk mengambil kutu busuk dari kulit anda, jepit bagian mulut serangga ini dengan jepitan sedekat mungkin ke kulit anda, lalu pelan-pelan angkat lurus ke atas. Jangan mencoba menjepit bagian badan atau kepala, karena bagian ini bisa putus dan mulutnya tertinggal di bawah kulit anda. Gunakan penjepit tadi untuk menghilangkan bagian-bagian lain dari kutu itu lalu sapukan antiseptik, seperti alkohol atau salep antibiotik, ke bekas gigitan.
g. Hentikan perdarahan
Jika gigitan binatang menyebabkan perdarahan hebat, tekan daerah itu dengan telapak tangan. Jika lukanya besar, ikatkan sapu tangan, handuk, atau t-shirt erat-erat di sekitar daerah luka untuk memberi tekanan pada daerah tersebut (tidak terlalu erat sehingga menghalangi sirkulasi). Jangan gerakkan daerah tersebut. Bila gigitan itu terdapat pada bagian kaki, angkat kaki sehingga berada di atas lokasi jantung. Temui dokter secepatnya.
Jangan merawat lubang gigitan seperti sebuah goresan. Sebuah gigitan yang meninggalkan goresan tetapi tidak menembus kulit bisa langsung dicuci dengan sabun dan air, lalu diolesi dengan krim antibiotik atau salep. Tidak demikian untuk gigitan yang menembus atau melubangi kulit. Jenis ini memerlukan perawatan dokter. Anda perlu melihat apakah binatang itu sakit atau tidak. Perhatikan binatang itu. Pada binatang liar, jika ia diam saja (misalnya anda bisa mendekati seekor tupai dan memberinya makanan), maka pasti ada sesuatu pada binatang itu. Binatang itu sakit. Anda bisa menghubungi dokter atau dokter hewan untuk memastikan apakah ada wabah rabies pada binatang rumah atau liar di daerah anda.
h. Dapatkan suntikan anti tetanus
Jika anda tergigit binatang liar atau binatang peliharaan dan gigitan itu menembus kulit, anda disarankan menemui dokter untuk mengetahui apakah anda perlu suntikan anti tetanus atau tidak (biasanya tergantung pada jenis luka dan waktu suntikan tetanus terakhir anda). Gigitan hewan dan manusia mudah sekali terinfeksi karena semua makhluk ini memiliki banyak bakteri yang hidup di mulutnya. Juga perlu diperhatikan tanda-tanda infeksi, seperti bengkak dan warna merah.
i. Jangan tergigit
Mungkin jalan terbaik untuk merawat gigitan adalah, sebelum tergigit, hindari binatang liar walaupun mendekat pada anda dan jangan menyentuh ular, laba-laba, lebah dan apapun yang kelihatannya membahayakan. Kebanyakan binatang dan serangga tidak akan menyerang jika tidak diganggu. Binatang yang kelihatannya jinak pun, seperti tupai, bisa membawa kutu yang menimbulkan penyakit. Obat anti serangga juga bisa menghindarkan anda dari
gigitan bila anda lama berada di luar rumah.
j. Kenali fauna di daerah anda
Kenali fauna yang hidup di daerah anda, sehingga anda tahu apa yang perlu dihindari. Misalnya, anda hidup di daerah yang terdapat wabah rabies pada binatang peliharaan. Juga, anda perlu tahu apakah ada ular, laba-laba beracun maupun kalajengking yang hidup di sekitar anda.
Himbuan Kepada Masyarakat
Bantulah Petugas Dinas Peternakan dalam menekan jumlah anjing/kucing liar atau yang tidak bertuan dilingkungan/tempat tinggal masing-masing.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
1. Penyakit zoonosis yang dapat ditularkan oleh satwa liar tersebut tidaklah sedikit. Beberapa penyakit zoonosis yang paling umum menyerang satwa liar di antaranya tuberkulosis, streptococcosis, salmonellosis, rabies, leptospirosis, toksoplasmosis, psittaccosis, taeniasis, dipilidiasis, herpes-B, dan hepatitis.
2. Penyakit Gila Anjing atau dikenal dengan nama Rabies merupakan suatu penyakit infeksi akut pada susunan syaraf pusat yang disebabkan oleh Virus Rabies yang bersifat Zoonosis, dengan penularan kepada manusia melalui gigitan anjing,kucing dan kera.
3. Virus rabies terdapat dalam air liur hewan yang terinfeksi. Hewan ini menularkan infeksi kepada hewan lainnya atu manusia melalui gigitan dan kadang melalui jilatan. Virus akan masuk melalui saraf-saraf menuju ke medulla spinalis dan otak, dimana mereka berkembangbiak. Selanjutnya virus akan berpindah lagi melalui saraf ke kelenjar liur dan masuk ke dalam air liur.
4. Gejala biasanya mulai timbul dalam waktu 30-50 hari setelah terinfeksi, tetapi masa inkubasinya bervariasi dari 10 hari sampai lebih dari 1 tahun. Masa inkubasi biasanya paling pendek pada orang yang digigit pada kepala atau tempat yang tertutup celana pendek atau bila gigitan terdapat di banyak tempat.
5. Perjalanan penyakit Rabies pada anjing dan kucing dibagi dalam 3 fase (tahap):
a. Fase Prodormal
b. Fase Eksitasi
c. Fase Paralisa
6. Bila seseorang menderita rabies tindakan yang pertama kali adalah :
· Mencari luka gigitan secepatnya dengan sabun atau deterjen selama 10-15 menit.
· Kemudian luka dicuci dengan air bersih dan diberi alcohol 70% atau yodium tincture.
· Penderita segera di bawa ke Puskesmas atau Rumah Sakit terdekatDAFTAR PUSTAKA
http://www.tempointeraktif.com/hg/narasi/2004/03/28/nrs,20040328-02,id.html
http://www.anjingkita.com/wmview.php?ArtID=754
http://portalkomunikasi.jabarprov.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=197&Itemid=1
http://www.geocities.com/mitra_sejati_2000/rabies.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Rabies
http://209.85.175.104/search?q=cache:LRCI4dOc4yoJ:fkuii.org/tiki-download_wiki_attachment.php%3FattId%3D1207%26page%3DTriana%2520Amalia+definisi+rabies&hl=id&ct=clnk&cd=1&gl=id
"Gigantisme"
BAB I
PENDAHULUAN
Kelenjar hipofisis merupakan struktur kompleks pada dasar otak, terletak dalam sela tursika, di rongga dinding tulang sphenoid dan terbentuk sejak awal perkembangan embrional dari penyatuan dua tonjolanektodrmal yang berongga. Kantung Rathke, suatu invaginasi dari atap daerah mulut primitive yang meluas ke atas menuju dasr otak dan bersatu dengan tonjolan dasar ventrikel ketiga yang akan menjadi neurohipofisis. Kelenjar hipofisis manusia dewasa terdiri dari lobus posterior atau neurohipofisis sebagai lanjutan dari hipotalamus, dan lobus anterior atau adenohipofisis yang berhubungan dengan hipotalamus melalui tangkai hipofisis. Suatu struktur vascular, yaitu system portal hipotalamo-hipofisis, juga menghubungkan hipotalamus dengan bagian anterior kelenjar hipofisis. Melalui system vaskular ini hormone pelepasan dari hipotalamus dapat mencapai sel-sel kelenjar hipofisis untuk mempermudah pelepasan hormone.
Bagian anterior kelenjar hipofisis mempunyai banyak fungsi dan karena memiliki kemampuan dalam mengatur fungsi-fungsi dari kelenjar endokrin lain, maka bagian anterior kelenjar hipofisis ini dikenal juga dengan nama kelenjar utama (master gland). Sel-sel hipofisis anterior merupakan sel-sel yang khusus menyekresi hormone-hormon tertentu. Tujuh macam hormone dan peranan metabolik fisiologinya telah diketahui g\dengan baik. Hormone-hormon tersebut adalah adenocorticotropic hormone (ACTH), melanocyte-stimulating hormone (MSH), thyroid-stimylating hormone (FSH), luteinizing hormone (LH), growth hormone (GH), dan prolactin (PRL). Bebrapa hormone ini (ACTH, MSH, GH dan prolaktin) merupakan polipeptida, sedangkan hormone yang lainnya (TSH, FSH, dan LH) merupakan gllikoprotein. Penelitian morfologis menemukan bahwa setiap hormone disintesis oleh satu jenis sel tertentu. Dapat dikatakan bahwa bagian anterior kelenjar hipofisis sesungguhnya merupakan gabungan dari beberapa kelenjar yang berdiri sendiri-sendiri, yang semuanya berada di bawah pengawasan hipotalamus.
Lobus posterior kelenjar hipofisis atau neurohipofisis terutama berfungsi untuk mengatur keseimbangan cairan. Vasopressin atau hormone antidiuretik (ADH) terutama disintesis dalam nucleus supraoptik dan paraventrikular hipotalamus dan disimpan dalam neurohipofisis.
GH, prolaktin dan MSH mempunyai pengaruh metabolic langsung pada jaringan sasaran. Sebaliknya ACTH, TSH, FSH, dan LH fungsi utamanya adalah mengatur sekresi kelenjar-kelenjar endokrin lainnya, karena itu dikenal sebagai hormone-hormon tropik,
GH atau somatotropin mempunyai pengaruh metabolic utama, baik pada anak-anak …………………….
BAB II
PEMBAHASAN
A. Gigantisme
1. Pengertian Gigantisme
Gigantisme adalah kondisi seseorang yang kelebihan pertumbuhan, dengan tinggi dan besar yang diatas normal. Gigantisme disebabkan oleh kelebihan jumlah hormon pertumbuhan. Tidak terdapat definisi tinggi yang merujukan orang sebagai "raksasa." tinggi dewasa.
2. Penyebab Gigantisme
Gigantisme disebabkan oleh sekresi GH yang berlebihan. Keadaan ini dapat diakibatkan tumor hipofisis yang menyekresi GH atau karena kelainan hipotalamus yang mengarah pada pelepasan GH secara berlebihan. Gigantisme dapat terjadi bila keadaan kelebihan hormone pertumbuhan terjadi sebelum lempeng epifisis tulang menutup atau masih dalam masa pertumbuhan. Penyebab kelebihan produksi hormone pertumbuhan terutama adalah tumor pada sel-sel somatrotop yang menghasilkan hormone pertumbuhan.
3. Ciri-ciri gigantisme
Manusia dikatakan berperawakan raksasa (gigantisme) apabila tinggi badan mencapai dua meter atau lebih. Ciri utama gigantisme adalah perawakan yang tinggi hingga mencapai 2 meter atau lebih dengan proporsi tubuh yang normal. Hal ini terjdi karena jaringan lunak seperti otot dan lainnya tetap tumbuh. gigantisme dapat disertai gangguan penglihatan bila tumor membesar hingga menekan khiasma optikum yang merupakan jalur saraf mata. Ciri-ciri manusia Gigantisme dapat dilihat pada gambar 1.
Gambar 1. manusia gigantisme
4. Gigantisme dan Akromegali
Gigantisme adalah suatu kelainan yang disebabkan karena sekresi yang berlebih dari GH, bila kelebihan GH terjadi selama masa anak-anak dan remaja, maka pertumbuhan longitudinal pasien sangat cepat, dan pasien sangat cepat akan menjadi seorang raksasa. Setelah pertumbuhan somatic selesai, hipersekresi GH tidak akan menimbulkan gigantisme, tetapi menyebabkan penebalan tulang-tulang dan jaringan lunak. kelebihan hormone pertumbuhan ini terjadi setelah masa pertumbuhan lewat atau lempeng epifisis menutup. Hal ini akan menimbulkan penebalan tulang terutama pada tulang akral tanpa diikuti pertumbuhan jaringan lunak disekitarnya yang disebut akromegali. Penebalan tulang terutama pada wajah dan anggota gerak. Akibat penonjolan tulang rahang dan pipi, bentuk wajah menjadi kasar secara perlahan dan tampak seperti monyet.
Tangan dan kaki membesar dan jari-jari tangan kaki dan tangan sangat menebal. Tangan tidak saja menjadi lebih besar, tetapi bentuknya akan makin menyerupai persegi empat (seperti sekop) dengan jari-jari tangan lebih bulat dan tumpul. Penderita mungkin membutuhkan ukuran sarung tangan yang lebih besar. Kaki juga menjadi lebih besar dan lebih lebar, dan penderita menceritakan mereka harus mengubah ukuran sepatunya. Pembesaran ini biasanya disebabkan oleh pertumbuhan dan penebalan tulang dan peningkatan pertumbuhan jaringan lunak. Sering terjadi gangguan saraf perifer akibat penekanan saraf oleh jaringan yang menebal. Dan karena hormone pertumbuhan mempengaruhi metabolisme beberapa zat penting tubuh, penderita sering mengalami problem metabolisme termasuk diabetes mellitus.
Selain itu, perubahan bentuk raut wajah dapat membantu diagnosis pada inspeksi. Raut wajah menajdi makin kasar, sinus paranasalis dan sinus frontalis membesar. Bagian frontal menonjol, tonjolan supraorbital menjadi semakin nyata, dan terjadi deformitas mandibula disertai timbulnya prognatisme (rahang yang menjorok ke depan) dan gigi-geligi tidak dapat menggigit. Pembesaran mandibula menyebabkan gigi-gigi renggang. Lidah juga membesar, sehingga penderita sulit berbicara. Suara menjadi lebih dalam akibat penebalan pita suara.
Deformitas tulang belakang karena pertumbuhan tulang yang berlebihan, mengakibatkan timbulnya nyeri di punggung dan perubahan fisologik lengkung tulang belakang. Pemeriksaan radiografik tengkorak pasien akromegali mnunjukkan perubahan khas disertai pembesaran sinus paranasalis, penebalan kalvarium, deformitas mandibula (yang menyerupai bumerang), dan yang paling penting ialah penebalan dan destruksi sela tursika yang menimbulkan dugaan adanya tumor hipofisis.
Bila akromegali berkaitan dengan tumor hipofisis, maka pasien mungkin mengalami nyeri kepala bitemporal dan gangguan penglihatan disertai hemianopsia bitemporal akibat penyebaran supraseral tumor tersebut, dan penekanan kiasma optikum.
Pasien dengan akromegali memiliki kadar basal GH dan IGF-1 yang tinggi dan juga dapat diuji dengan pemberian glukosa oral. Pada subjek yang normal, induksi hiperglikemia dengan glukosa akan menekan kadar GH. Sebaliknya, pada pasien, akromegali atau gigantisme kadar GH gagal ditekan. CT scan dan MRI pada sela tursika memperlihatkan mikroadonema hipofisis, serta makroadonema yang meluas ke luar sel mencakup juga sisterna di atas sela, dan daerah sekitar sela, atau sinus sphenoid.
5. Pengobatan Gigantisme dan Akromegali
Pengobatan akromegali atau gigantisme lebih kompleks. Iradiasi hipofisis, pembedahan kelenjar hipofisis untuk mengangkat tumor hipofisis, atau kombinasi keduanya, dapat mengakibatkan penurunan atau perbaikan penyakit. Pengobatan medis dengan menggunakan ocreotide, suatu analog somatostatin, juga tersedia. Ocreotide dapat menurunkan supresi kadar GH dan IGF-1, mengecilkan ukuran tumor, dan memperbaiki gambaran klinis.
Terapi yang paling tepat untuk kelebihan hormone pertumbuhan tak lain adalah pengangkatan tumor pada hipofisis sedini mungkin untuk mencegah efek negative darinya.
B. Kretinisme
1. Pengertian Kretinisme
Kretinisme adalah suatu kelainan hormonal pada anak-anak. Ini terjadi akibat kurangnya hormon tiroid. Penderita kelainan ini mengalami kelambatan dalam perkembangan fisik maupun mentalnya. Kretinisme dapat diderita sejak lahir atau pada awal masa kanak-kanak.
2. Penyebab Kretinisme
Kretinisme yaitu perawakan pendek akibat kurangnya hormone tiroid dalam tubuh. Hormone tiroid diproduksi oleh kelenjar tiroid (gondok) terutama sel folikel tiroid. Penyebab paling sering dari kekurangan hormone tiroid adalah akibat kurangnya bahan baku pembuat. Bahan baku terpenting untuk produksi hormone tiroid adalah yodium yang biasanya terdapat pada garam yang beryodium. Kretinisme dapat terjadi bila kekurangan berat unsur yodium terjadi selama masa kehamilan hingga tiga tahun pertama kehidupan bayi. Hormone tiroid bekerja sebagai penentu utama laju metabolic tubuh keseluruhan, pertumbuhan dan perkembangan tubuh serta fungsi saraf. Sebenarnya gangguan pertumbuhan timbul karena kadar tiroid yang rendah mempengaruhi produksi hormone pertumbuhan, hanya saja ditambah gangguan lain terutama pada susunan saraf pusat dan saraf perifer. Bila kurangnya hormone tiroid terjadi sejak janin, maka gejalanya adalah Defisiensi mental (IQ rendah) disertai salah satu gejala atau keduanya yaitu:
· gangguan pendengaran (kedua telinga dan nada tinggi) dan gangguan wicara, gangguan cara berjalan (seperti orang kelimpungan) ,mata juling, cara berjalan yang khas, kurangnya massa tulang, terlambatnya perkembangan masa pubertas dll.
· cebol dan hipotiroidisme.
Bila kekurangan hormone tiroid akibat kurangnya yodium terjadi pada masa kanak-kanak atau masa pertumbuhan, maka hanya terjadi perawakan yang pendek tanpa retardasi mental. Penderita biasanya kurus dan mukanya tetap menua sesuai umur disertai cara berjalan yang khas.
Kekurangan hormone tiroid dapat menyebabkan perawakan pendek tetapi kelebihan hormone tiroid tidak menambahn tinggi badan tetapi menyebabkan penyakit lain yaitu hipertiroidisme.
Penyakit lain yang mirip dengan kretinisme adalah mongolisme dan kekurangan hormon tiroid akibat kurangnya hormon perangsang kelenjar tersebut (TSH-thyroid stimulating hormone). TSH diproduksi oleh kelenjar hipofisis. Bedanya, pada mongolisme, ditemukan kelainan genetik yang menjadi penyebabnya. Hormon tiroid pada penderitanya tetap normal. Kekurangan hormon TSH dapat diketahui dari pemeriksaan kadar hormon yang dihasilkan kelenjar hipofisis.
Perawakan pendek juga dapat disebabkan oleh factor di luar hormonal diatas yaitu :
a. Sindrom Acushing
b. Pseudihipoparatiroidisme
c. Perawakan pendek konstitusional
d. Perawakan pendek genetic
e. Retardasi pertumbuhan dalam janin
f. Sindroma-sindroma dengan salah satu gejala perawakan pendek misalnya sindroma turner dll
g. Penyakit-penyakit kronis yang menyebabkan malnutrisi dalam perkembangan penyakitnya.
3. Ciri-ciri Kretinisme
Ciri-ciri penderita kretinisme sangat khas. Cirinya antara lain bentuk tubuhnya pendek dengan proporsi yang tak normal. Ciri lainnya adalah lidahnya besar dan lebar, pangkal hidungnya datar, rambutnya kasar dan kering, kulitnya kusam, serta otot-ototnya lembek. Anak-anak penderita kretin ini biasanya mengalami gangguan pencernaan, pendengaran, dan kemampuan berbicara. Bila kelainan ini terjadi sebelum usia dua tahun, biasanya anak mengalami keterbelakangan mental untuk selamanya. Bila munculnya kelainan ini pada umur setelah dua tahun, anak hanya mengalami kelambatan pertumbuhan dan perkembangan fisik. Selain itu, bila tulang diperiksa dengan rontgen, pada anak kretin ditemukan kelainan yang sangat khas, yaitu umur tulang lebih muda daripada umur yang seharusnya. Ditambah lagi, pertumbuhan tulang tungkai terganggu.
4. Pengobatan Kretinisme
Kelainan ini diobati dengan pemberian hormon tiroid. Hormon diberikan tiap hari secara terus-menerus. Bila kelainan muncul sebelum usia dua tahun, pengobatan ini tak dapat memperbaiki keterbelakangan mental yang ditimbulkannya.
C. Pengaruh gigantisme dan kretinisme dalam kehidupan sehari-hari
Terlepas dari postur tubuh yang cebol ataupun raksasa, mereka dapat berfungsi dan memiliki keturunan layaknya manusia pada umumnya kecuali pada kretinisme dengan retardasi mental yang kurang dapat berfungsi normal. Perawakan yang pendek maupun tinggi berlebih ini tidak diturunkan kecuali yang terkait genetic. Sehingga bila asupan bahan baku cukup dan tidak ada tumor pada hipofisis maka diharapkan keturunan yang dihasilkan akan normal-normal saja. (Hygiena Kumala Suci).
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Kesimpulan dari makalah ini yaitu:
1. Gigantisme adalah kondisi seseorang yang kelebihan pertumbuhan, dengan tinggi dan besar yang diatas normal. Gigantisme disebabkan oleh kelebihan jumlah hormon pertumbuhan.
2. Ciri utama gigantisme adalah perawakan yang tinggi hingga mencapai 2 meter atau lebih dengan proporsi tubuh yang normal.
3. Kretinisme adalah suatu kelainan hormonal pada anak-anak. Ini terjadi akibat kurangnya hormon tiroid. Penderita kelainan ini mengalami kelambatan dalam perkembangan fisik maupun mentalnya. Kretinisme dapat diderita sejak lahir atau pada awal masa kanak-kanak.
4. Kretinisme yaitu perawakan pendek akibat kurangnya hormone tiroid dalam tubuh. Hormone tiroid diproduksi oleh kelenjar tiroid (gondok) terutama sel folikel tiroid. Penyebab paling sering dari kekurangan hormone tiroid adalah akibat kurangnya bahan baku pembuat.
5. Cirin kretinisme antara lain bentuk tubuhnya pendek dengan proporsi yang tak normal. Ciri lainnya adalah lidahnya besar dan lebar, pangkal hidungnya datar, rambutnya kasar dan kering, kulitnya kusam, serta otot-ototnya lembek. Anak-anak penderita kretin ini biasanya mengalami gangguan pencernaan, pendengaran, dan kemampuan berbicara.
6. Terlepas dari postur tubuh yang cebol ataupun raksasa, mereka dapat berfungsi dan memiliki keturunan layaknya manusia pada umumnya kecuali pada kretinisme dengan retardasi mental yang kurang dapat berfungsi normal.
DAFTAR PUSTAKA
Price, Sylvia A. dan Lorraine M. Wilson. 2005. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jakarta: EGC.
http://202.155.15.208/suplemen/indeks_suplemen.asp?PageIndex=5&mid=2&kat_id=105&kat_id1=150&kat_id2=190
http://www.purwakarta.go.id/tahu.php?beritaID=52
http://id.wikipedia.org/wiki/Gigantisme
PENDAHULUAN
Kelenjar hipofisis merupakan struktur kompleks pada dasar otak, terletak dalam sela tursika, di rongga dinding tulang sphenoid dan terbentuk sejak awal perkembangan embrional dari penyatuan dua tonjolanektodrmal yang berongga. Kantung Rathke, suatu invaginasi dari atap daerah mulut primitive yang meluas ke atas menuju dasr otak dan bersatu dengan tonjolan dasar ventrikel ketiga yang akan menjadi neurohipofisis. Kelenjar hipofisis manusia dewasa terdiri dari lobus posterior atau neurohipofisis sebagai lanjutan dari hipotalamus, dan lobus anterior atau adenohipofisis yang berhubungan dengan hipotalamus melalui tangkai hipofisis. Suatu struktur vascular, yaitu system portal hipotalamo-hipofisis, juga menghubungkan hipotalamus dengan bagian anterior kelenjar hipofisis. Melalui system vaskular ini hormone pelepasan dari hipotalamus dapat mencapai sel-sel kelenjar hipofisis untuk mempermudah pelepasan hormone.
Bagian anterior kelenjar hipofisis mempunyai banyak fungsi dan karena memiliki kemampuan dalam mengatur fungsi-fungsi dari kelenjar endokrin lain, maka bagian anterior kelenjar hipofisis ini dikenal juga dengan nama kelenjar utama (master gland). Sel-sel hipofisis anterior merupakan sel-sel yang khusus menyekresi hormone-hormon tertentu. Tujuh macam hormone dan peranan metabolik fisiologinya telah diketahui g\dengan baik. Hormone-hormon tersebut adalah adenocorticotropic hormone (ACTH), melanocyte-stimulating hormone (MSH), thyroid-stimylating hormone (FSH), luteinizing hormone (LH), growth hormone (GH), dan prolactin (PRL). Bebrapa hormone ini (ACTH, MSH, GH dan prolaktin) merupakan polipeptida, sedangkan hormone yang lainnya (TSH, FSH, dan LH) merupakan gllikoprotein. Penelitian morfologis menemukan bahwa setiap hormone disintesis oleh satu jenis sel tertentu. Dapat dikatakan bahwa bagian anterior kelenjar hipofisis sesungguhnya merupakan gabungan dari beberapa kelenjar yang berdiri sendiri-sendiri, yang semuanya berada di bawah pengawasan hipotalamus.
Lobus posterior kelenjar hipofisis atau neurohipofisis terutama berfungsi untuk mengatur keseimbangan cairan. Vasopressin atau hormone antidiuretik (ADH) terutama disintesis dalam nucleus supraoptik dan paraventrikular hipotalamus dan disimpan dalam neurohipofisis.
GH, prolaktin dan MSH mempunyai pengaruh metabolic langsung pada jaringan sasaran. Sebaliknya ACTH, TSH, FSH, dan LH fungsi utamanya adalah mengatur sekresi kelenjar-kelenjar endokrin lainnya, karena itu dikenal sebagai hormone-hormon tropik,
GH atau somatotropin mempunyai pengaruh metabolic utama, baik pada anak-anak …………………….
BAB II
PEMBAHASAN
A. Gigantisme
1. Pengertian Gigantisme
Gigantisme adalah kondisi seseorang yang kelebihan pertumbuhan, dengan tinggi dan besar yang diatas normal. Gigantisme disebabkan oleh kelebihan jumlah hormon pertumbuhan. Tidak terdapat definisi tinggi yang merujukan orang sebagai "raksasa." tinggi dewasa.
2. Penyebab Gigantisme
Gigantisme disebabkan oleh sekresi GH yang berlebihan. Keadaan ini dapat diakibatkan tumor hipofisis yang menyekresi GH atau karena kelainan hipotalamus yang mengarah pada pelepasan GH secara berlebihan. Gigantisme dapat terjadi bila keadaan kelebihan hormone pertumbuhan terjadi sebelum lempeng epifisis tulang menutup atau masih dalam masa pertumbuhan. Penyebab kelebihan produksi hormone pertumbuhan terutama adalah tumor pada sel-sel somatrotop yang menghasilkan hormone pertumbuhan.
3. Ciri-ciri gigantisme
Manusia dikatakan berperawakan raksasa (gigantisme) apabila tinggi badan mencapai dua meter atau lebih. Ciri utama gigantisme adalah perawakan yang tinggi hingga mencapai 2 meter atau lebih dengan proporsi tubuh yang normal. Hal ini terjdi karena jaringan lunak seperti otot dan lainnya tetap tumbuh. gigantisme dapat disertai gangguan penglihatan bila tumor membesar hingga menekan khiasma optikum yang merupakan jalur saraf mata. Ciri-ciri manusia Gigantisme dapat dilihat pada gambar 1.
Gambar 1. manusia gigantisme
4. Gigantisme dan Akromegali
Gigantisme adalah suatu kelainan yang disebabkan karena sekresi yang berlebih dari GH, bila kelebihan GH terjadi selama masa anak-anak dan remaja, maka pertumbuhan longitudinal pasien sangat cepat, dan pasien sangat cepat akan menjadi seorang raksasa. Setelah pertumbuhan somatic selesai, hipersekresi GH tidak akan menimbulkan gigantisme, tetapi menyebabkan penebalan tulang-tulang dan jaringan lunak. kelebihan hormone pertumbuhan ini terjadi setelah masa pertumbuhan lewat atau lempeng epifisis menutup. Hal ini akan menimbulkan penebalan tulang terutama pada tulang akral tanpa diikuti pertumbuhan jaringan lunak disekitarnya yang disebut akromegali. Penebalan tulang terutama pada wajah dan anggota gerak. Akibat penonjolan tulang rahang dan pipi, bentuk wajah menjadi kasar secara perlahan dan tampak seperti monyet.
Tangan dan kaki membesar dan jari-jari tangan kaki dan tangan sangat menebal. Tangan tidak saja menjadi lebih besar, tetapi bentuknya akan makin menyerupai persegi empat (seperti sekop) dengan jari-jari tangan lebih bulat dan tumpul. Penderita mungkin membutuhkan ukuran sarung tangan yang lebih besar. Kaki juga menjadi lebih besar dan lebih lebar, dan penderita menceritakan mereka harus mengubah ukuran sepatunya. Pembesaran ini biasanya disebabkan oleh pertumbuhan dan penebalan tulang dan peningkatan pertumbuhan jaringan lunak. Sering terjadi gangguan saraf perifer akibat penekanan saraf oleh jaringan yang menebal. Dan karena hormone pertumbuhan mempengaruhi metabolisme beberapa zat penting tubuh, penderita sering mengalami problem metabolisme termasuk diabetes mellitus.
Selain itu, perubahan bentuk raut wajah dapat membantu diagnosis pada inspeksi. Raut wajah menajdi makin kasar, sinus paranasalis dan sinus frontalis membesar. Bagian frontal menonjol, tonjolan supraorbital menjadi semakin nyata, dan terjadi deformitas mandibula disertai timbulnya prognatisme (rahang yang menjorok ke depan) dan gigi-geligi tidak dapat menggigit. Pembesaran mandibula menyebabkan gigi-gigi renggang. Lidah juga membesar, sehingga penderita sulit berbicara. Suara menjadi lebih dalam akibat penebalan pita suara.
Deformitas tulang belakang karena pertumbuhan tulang yang berlebihan, mengakibatkan timbulnya nyeri di punggung dan perubahan fisologik lengkung tulang belakang. Pemeriksaan radiografik tengkorak pasien akromegali mnunjukkan perubahan khas disertai pembesaran sinus paranasalis, penebalan kalvarium, deformitas mandibula (yang menyerupai bumerang), dan yang paling penting ialah penebalan dan destruksi sela tursika yang menimbulkan dugaan adanya tumor hipofisis.
Bila akromegali berkaitan dengan tumor hipofisis, maka pasien mungkin mengalami nyeri kepala bitemporal dan gangguan penglihatan disertai hemianopsia bitemporal akibat penyebaran supraseral tumor tersebut, dan penekanan kiasma optikum.
Pasien dengan akromegali memiliki kadar basal GH dan IGF-1 yang tinggi dan juga dapat diuji dengan pemberian glukosa oral. Pada subjek yang normal, induksi hiperglikemia dengan glukosa akan menekan kadar GH. Sebaliknya, pada pasien, akromegali atau gigantisme kadar GH gagal ditekan. CT scan dan MRI pada sela tursika memperlihatkan mikroadonema hipofisis, serta makroadonema yang meluas ke luar sel mencakup juga sisterna di atas sela, dan daerah sekitar sela, atau sinus sphenoid.
5. Pengobatan Gigantisme dan Akromegali
Pengobatan akromegali atau gigantisme lebih kompleks. Iradiasi hipofisis, pembedahan kelenjar hipofisis untuk mengangkat tumor hipofisis, atau kombinasi keduanya, dapat mengakibatkan penurunan atau perbaikan penyakit. Pengobatan medis dengan menggunakan ocreotide, suatu analog somatostatin, juga tersedia. Ocreotide dapat menurunkan supresi kadar GH dan IGF-1, mengecilkan ukuran tumor, dan memperbaiki gambaran klinis.
Terapi yang paling tepat untuk kelebihan hormone pertumbuhan tak lain adalah pengangkatan tumor pada hipofisis sedini mungkin untuk mencegah efek negative darinya.
B. Kretinisme
1. Pengertian Kretinisme
Kretinisme adalah suatu kelainan hormonal pada anak-anak. Ini terjadi akibat kurangnya hormon tiroid. Penderita kelainan ini mengalami kelambatan dalam perkembangan fisik maupun mentalnya. Kretinisme dapat diderita sejak lahir atau pada awal masa kanak-kanak.
2. Penyebab Kretinisme
Kretinisme yaitu perawakan pendek akibat kurangnya hormone tiroid dalam tubuh. Hormone tiroid diproduksi oleh kelenjar tiroid (gondok) terutama sel folikel tiroid. Penyebab paling sering dari kekurangan hormone tiroid adalah akibat kurangnya bahan baku pembuat. Bahan baku terpenting untuk produksi hormone tiroid adalah yodium yang biasanya terdapat pada garam yang beryodium. Kretinisme dapat terjadi bila kekurangan berat unsur yodium terjadi selama masa kehamilan hingga tiga tahun pertama kehidupan bayi. Hormone tiroid bekerja sebagai penentu utama laju metabolic tubuh keseluruhan, pertumbuhan dan perkembangan tubuh serta fungsi saraf. Sebenarnya gangguan pertumbuhan timbul karena kadar tiroid yang rendah mempengaruhi produksi hormone pertumbuhan, hanya saja ditambah gangguan lain terutama pada susunan saraf pusat dan saraf perifer. Bila kurangnya hormone tiroid terjadi sejak janin, maka gejalanya adalah Defisiensi mental (IQ rendah) disertai salah satu gejala atau keduanya yaitu:
· gangguan pendengaran (kedua telinga dan nada tinggi) dan gangguan wicara, gangguan cara berjalan (seperti orang kelimpungan) ,mata juling, cara berjalan yang khas, kurangnya massa tulang, terlambatnya perkembangan masa pubertas dll.
· cebol dan hipotiroidisme.
Bila kekurangan hormone tiroid akibat kurangnya yodium terjadi pada masa kanak-kanak atau masa pertumbuhan, maka hanya terjadi perawakan yang pendek tanpa retardasi mental. Penderita biasanya kurus dan mukanya tetap menua sesuai umur disertai cara berjalan yang khas.
Kekurangan hormone tiroid dapat menyebabkan perawakan pendek tetapi kelebihan hormone tiroid tidak menambahn tinggi badan tetapi menyebabkan penyakit lain yaitu hipertiroidisme.
Penyakit lain yang mirip dengan kretinisme adalah mongolisme dan kekurangan hormon tiroid akibat kurangnya hormon perangsang kelenjar tersebut (TSH-thyroid stimulating hormone). TSH diproduksi oleh kelenjar hipofisis. Bedanya, pada mongolisme, ditemukan kelainan genetik yang menjadi penyebabnya. Hormon tiroid pada penderitanya tetap normal. Kekurangan hormon TSH dapat diketahui dari pemeriksaan kadar hormon yang dihasilkan kelenjar hipofisis.
Perawakan pendek juga dapat disebabkan oleh factor di luar hormonal diatas yaitu :
a. Sindrom Acushing
b. Pseudihipoparatiroidisme
c. Perawakan pendek konstitusional
d. Perawakan pendek genetic
e. Retardasi pertumbuhan dalam janin
f. Sindroma-sindroma dengan salah satu gejala perawakan pendek misalnya sindroma turner dll
g. Penyakit-penyakit kronis yang menyebabkan malnutrisi dalam perkembangan penyakitnya.
3. Ciri-ciri Kretinisme
Ciri-ciri penderita kretinisme sangat khas. Cirinya antara lain bentuk tubuhnya pendek dengan proporsi yang tak normal. Ciri lainnya adalah lidahnya besar dan lebar, pangkal hidungnya datar, rambutnya kasar dan kering, kulitnya kusam, serta otot-ototnya lembek. Anak-anak penderita kretin ini biasanya mengalami gangguan pencernaan, pendengaran, dan kemampuan berbicara. Bila kelainan ini terjadi sebelum usia dua tahun, biasanya anak mengalami keterbelakangan mental untuk selamanya. Bila munculnya kelainan ini pada umur setelah dua tahun, anak hanya mengalami kelambatan pertumbuhan dan perkembangan fisik. Selain itu, bila tulang diperiksa dengan rontgen, pada anak kretin ditemukan kelainan yang sangat khas, yaitu umur tulang lebih muda daripada umur yang seharusnya. Ditambah lagi, pertumbuhan tulang tungkai terganggu.
4. Pengobatan Kretinisme
Kelainan ini diobati dengan pemberian hormon tiroid. Hormon diberikan tiap hari secara terus-menerus. Bila kelainan muncul sebelum usia dua tahun, pengobatan ini tak dapat memperbaiki keterbelakangan mental yang ditimbulkannya.
C. Pengaruh gigantisme dan kretinisme dalam kehidupan sehari-hari
Terlepas dari postur tubuh yang cebol ataupun raksasa, mereka dapat berfungsi dan memiliki keturunan layaknya manusia pada umumnya kecuali pada kretinisme dengan retardasi mental yang kurang dapat berfungsi normal. Perawakan yang pendek maupun tinggi berlebih ini tidak diturunkan kecuali yang terkait genetic. Sehingga bila asupan bahan baku cukup dan tidak ada tumor pada hipofisis maka diharapkan keturunan yang dihasilkan akan normal-normal saja. (Hygiena Kumala Suci).
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Kesimpulan dari makalah ini yaitu:
1. Gigantisme adalah kondisi seseorang yang kelebihan pertumbuhan, dengan tinggi dan besar yang diatas normal. Gigantisme disebabkan oleh kelebihan jumlah hormon pertumbuhan.
2. Ciri utama gigantisme adalah perawakan yang tinggi hingga mencapai 2 meter atau lebih dengan proporsi tubuh yang normal.
3. Kretinisme adalah suatu kelainan hormonal pada anak-anak. Ini terjadi akibat kurangnya hormon tiroid. Penderita kelainan ini mengalami kelambatan dalam perkembangan fisik maupun mentalnya. Kretinisme dapat diderita sejak lahir atau pada awal masa kanak-kanak.
4. Kretinisme yaitu perawakan pendek akibat kurangnya hormone tiroid dalam tubuh. Hormone tiroid diproduksi oleh kelenjar tiroid (gondok) terutama sel folikel tiroid. Penyebab paling sering dari kekurangan hormone tiroid adalah akibat kurangnya bahan baku pembuat.
5. Cirin kretinisme antara lain bentuk tubuhnya pendek dengan proporsi yang tak normal. Ciri lainnya adalah lidahnya besar dan lebar, pangkal hidungnya datar, rambutnya kasar dan kering, kulitnya kusam, serta otot-ototnya lembek. Anak-anak penderita kretin ini biasanya mengalami gangguan pencernaan, pendengaran, dan kemampuan berbicara.
6. Terlepas dari postur tubuh yang cebol ataupun raksasa, mereka dapat berfungsi dan memiliki keturunan layaknya manusia pada umumnya kecuali pada kretinisme dengan retardasi mental yang kurang dapat berfungsi normal.
DAFTAR PUSTAKA
Price, Sylvia A. dan Lorraine M. Wilson. 2005. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jakarta: EGC.
http://202.155.15.208/suplemen/indeks_suplemen.asp?PageIndex=5&mid=2&kat_id=105&kat_id1=150&kat_id2=190
http://www.purwakarta.go.id/tahu.php?beritaID=52
http://id.wikipedia.org/wiki/Gigantisme
Langganan:
Postingan (Atom)


