Minggu, 31 Mei 2009

“GANGGUAN TUMBUH KEMBANG”

BAB I
PENDAHULUAN


Anak-anak akan menjadi manusia dewasa melalui proses tumbuh kembang, dan perkembangan tumbuh kembang setiap anak tidak sama karena pengaruh banyak hal. Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran?ukuran fisik anak terutama tinggi badannya, sedangkan perkembangan berhubungan dengan bertambahnya berat badan dan status mental yang kesemuanya berkaitan dengan status gizi, keseimbangan cairan serta dipengaruhi oleh pola hidup dan pola lingkungan. Sebagian besar pakar kesehatan mengambil patokan tinggi badan dan berat badan sebagai ukuran kurang gizinya seorang anak atau tidak.
Tahapan pertumbuhan anak akan berlangsung sangat cepat dalam tahun pertama dan berangsur?angsur berkurang secara bertahap sampai usia 3 ? 4 tahun. Pertumbuhan cepat akan terjadi lagi pada usia 12 tahun hingga 16 tahun. Bila mendapat gizi dan makanan yang cukup dan seimbang, ditahun pertama badan bayi akan bertambah 25 cm dalam setahun, sehingga badannya akan menjadi sekitar 75 cm ditahun pertama. Ditahun kedua pertumbuhan berkurang menjadi seki tar 5 cm per tahun.
Formula yang biasa dipakai untuk anak usia 3 tahun adalah :Panjang Badan = 80 + 5x umur ( dlm tahun) mis anak usia 3 thn: panjang badan = 80 cm + (5x3)cm = 95 cm.
Dalam penelitian didapatkan rata rata panjang anak balita: di usia 1 tahun biasanya 1 + kali panjang lahir; Pada usia 4 tahun, panjangnya 2 kali panjang lahir. Berat badan dapat dipakai sebagai parameter perkembangan anak Formula yang dipakai adalah : Berat badan = 8 + (2x usia anak dlm tahun) Kg. Contohnya anak ibu usia 4 tahun maka berat idealnya 8+(2x4)=16 Kg. Kesemua formula kondisi Gizi bayi ? BALITA yang berhubungan dengan tinggi dan berat badan telah dituangkan dalam bentuk Kartu Menuju Sehat (K.M.S) yang tersedia di POSYANDU, PUSKESMAS, praktek dokter anak, dokter umum dan bidan dan dipakai secara meluas disemua negara sesuai rekomendasi WHO (Badan Kesehatan Dunia).
Pada anak seusia 4 tahun, perkembangan motorik menjadi lebih matang, sehingga ia akan banyak meraih dan memegang sesuatu barang. Daya penerimaan dan pemahamannya akan semakin berkembang sehingga ia akan mencapai suatu tingkat dimana ia ingin memeriksa, ingin mencoba, ingin melaksanakan sendiri dan ingin mengetahui nama semua barang yang menarik perhatiannya. Anak mulai memahami perbedaan dirinya dengan dunia luar lebih rinci dan dalam. Kesadaran bahwa ia mahluk individual yang berdiri sendiri mulai tertanam.
Biasanya dia mulai berpikir, mengapa waktu kecil (pada usia 1-3 tahun) semua permintaannya dipenuhi, tetapi sekarang ada permintaannya yang ditolak oleh orang tuanya. Biasanya pertentangan itu akan dimanifestasikan dalam berbagai bentuk perbuatan negatif seperti tidak mau mengikuti perintah orang tua, tidak mau makan, sering ngompol dan berbagai tindakan yang kelihatannya negatif. Kesemuanya akan bermanifestasi sebagai anak kecil yang bandel dan pemberontak, padahal ia sedang mengalami pertentangan dalam dirinya.
Sikap orang tua terutama ibu sangat penting untuk membimbing anaknya, dan untuk itu dibutuhkan kesadaran seorang ibu akan waktu yang dibutuhkan untuk mendidik anak tersebut. Menyerahkan perawatan secara keseluruhan pada seorang pembantu karena si ibu bekerja diluar rumah merupakan tindakan yang menurut saya sangat tidak bijaksana karena pola pikir pengasuh anak yang nantinya akan menjadi panutan anak tersebut. Sikap lingkungan juga sangat mempengaruhi kelakuan sang anak dikemudian hari. <>
Oleh karena itu kenalilah kelakuan anak anda sejak dini. Untuk memantau kondisi gizi anak anda , sebaiknya dipakai Kartu Menuju Sehat sebagai acuannya, dan jangan hanya bersadarkan penglihatan. Disis lain sekarang banyak anak BALITA yang menderita obesitas/terlalu gemuk karena pola makan yang salah, dan akhirnya akan bermuara pada salah satu penyakit yang ada.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian
Pertumbuhan dan perkembangan merupakan suatu proses dari manusia normal mulai janin hingga meninggal. Meskipun pertumbuhan dan perkembangan terjadi sepanjang usia manusia, akan tetapi perkembangan yang signifikan hanya terjadi pada fase janin hingga anak-anak 0 tahun hingga 21 tahun. Pertumbuhan mencakup segala hal yang berhubungan dengan peningkatan jumlah maupun sel dari seluruh sistem dalam tubuh manusia.
Sedangkan perkembangan cenderung ditujukan pada makin matangnya kemampuan aktivitas motorik halus dan kasar, makin meningkatnya kemampuan sosial anak dengan orang maupun lingkungan disekitarnya serta makin banyaknya kemampuan anak dalam menguasai perbendaharaan kata maupun mengertikan dan menyusun suatu tata bahasa yang bisa diterima sesuai dengan lingkungan tempat anak tumbuh. Sebagai contoh anak yang terbiasa berkomunikasi dengan bahasa Jawa maka diharapkan anak bisa mendengar dan berkomunikasi dengan bahasa jawa.
Pertumbuhan ( growth) berkaitan dengan dengan masalah perubahan dalam ukuran fisik seseorang. Sedangkan perkembangan (development) berkaitan dengan pematangan dan penambahan kemampuan (skill) fungsi organ atau individu. Kedua proses ini terjadi secara sinkron pada setiap individu.
Proses tumbuh kembang seseorang merupakan hasil interaksi berbagai faktor yang saling terkait, yaitu ; faktor genetik / keturunan , lingkungan bio-fisiko-psiko-sosial dan perilaku. Proses ini bersifat individual dan unik sehingga memberikan hasil akhir yang berbeda dan ciri tersendiri pada setiap anak.
Penilaian terhadap pertumbuhan seorang anak dapat dinilai melalui pertambahan berat dan tinggi badan dan sampai anak berusia 2 tahun masih dapat digunakan penilaian melalui lingkar kepala yang biasanya dibandingkan dengan usia anak. Beberapa cara penilaian melalui pemeriksaan fisik atau klinikal , pemeriksaan antropometri ( membandingkan tinggi badan terhadap umur, berat badan terhadap umur, lingkaran kepala terhadap umur, lingkar lengan atas terhadap umur ) , contohnya KMS (kartu menuju sehat ) yang membandingkan berat badan terhadap umur , pemeriksaan radiologis, laboratorium, dan analisa diet.
Beberapa faktor yang mempegaruhi pertumbuhan anak :
v Faktor heredo konstitusional ; tergantung ras, genetic, jenis kelamin dan kelainan bawaan
v Faktor hormonal ; insulin , tiroid, hormon sex dan steroid.
v Faktor lingkungan selama dan sesudah lahir ; gizi, trauma, sosio – ekonomi, iklim, aktivitas fisik, penyakit, dll.
Perkiraan berat badan yang dapat mudah dilakukan dalam kilogram adalah berat badan waktu lahir bayi cukup bulan akan kembali pada hari ke 10.Berat badan menjadi 2 kali berat waktu lahir saat usia 5 bulan, menjadi 3 kali berat lahir saat usia satu tahun, dan menjadi 4 kali berat waktu lahir saat usia 2 tahun. Pada masa prasekolah kenaikan berat badan rata– rata 2 kg/ tahun.
Perkiraan tinggi badan dapat pula dilakukan dalam sentimeter yaitu usia 1 tahun 1,5 kali tinggi badan lahir, usia 4 tahun 2 kali tinggi badan lahir, 6 tahun 1,5 kali tinggi badan 1 tahun,.
Kita dapat pula meprediksikan tinggi akhir anak sesuai potensi genetic berdasarkan tinggi badan orang tua dengan asumsi bahwa semuanya tumbuh optimal sesuai potensinya. Rumus yang digunakan ;

TB anak perempuan = ( TB ayah – 13 cm ) + TB ibu
_________________________ ± 8,5 cm
2
TB anak laki-laki = ( TB ibu +13 cm ) + TB ayah
__________________________ ± 8,5 cm
2


Perkembangan bahasa secara normal pada anak dapat dibagi dalam beberapa fase yaitu:
1. Umur 1 tahun : dapat berbicara dua atau tiga kata yang sudah bermakna. Contoh menirukan suara binatang, menyebutkan nama “papa”, “mama”. Dalam berbicara 25 % kata-katanya tidak jelas dan kedengarannya tidak biasa (unfimiliar).
2. Umur 2 tahun : dapat menggunakan 2 sampai 3 phrase serta memiliki perbendaharaan bahasa kurang-lebih 300 kata, serta mampu menggunakan kata “saya”, “milikku”. 50 % kata-kata konteksnya masih belum jelas.
3. Umur 3 tahun : berbicara 4 hingga 5 kalimat serta memiliki sekitar 900 kata. Dapat menggunakan kata siapa, apa, dan dimana dalam menanyakan suatu pertanyaan. 75 % kata-kata dan kalimat jelas.
4. Umur 4-5 tahun ; memiliki 1500 - 2100 kosa kata. Dapat menggunakan grammar dengan benar terutama yang berhubungan dengan waktu. Dapat menggunakan kalimat dengan lengkap baik, kata-kata, kata kerja, kata depan, kata sifat maupun kata sambung. 100 % kata-kata sudah jelas dan beberapa ucapan masih belum sempurna.
5. Umur 5 - 6 tahun ; memiliki 3000 kata, dapat menggabungkan kata jika, sebab, dan mengapa.
Kegagalan yang sering ditemukan pada komunikasi selama perkembangan anak adalah:
a) Kesalahan dalam bahasa
b) Kesalahan dalam mengartikan suatu kata :
c) Kesalahan dalam mengorganisir kata dalam kalimat
d) Kesalahan bentuk kata
e) Kegagalan bicara
f) Gagap
g) Kekurangan dalam artikulasi
h) Kerusakan alat artikulasi
Macam-macam kegagalan bicara yang sering ditemukan pada anak-anak adalah:
Umur 2 tahun ; kesalahan dalam mengartikan kata-kata , kesulitan dalam mengikuti ucapan, gagal dalam berespon terhadap suara.
Umur 3 tahun ; bicara yang tidak jelas, kegagalan menggunakan 2 atau 3 kata, lebih banyak menggunakan vocal dibanding konsonan.
Umur 5 tahun ; Struktur kata tidak benar.

B. Etiologi


C. Tanda dan Gejala
D. Prognosis


E. Patofisiologi


F. Pengobatan
G. Pengkajian
Fokus pengkajian pada anak 2- 3 tahun yang mengalami gangguan bicara:
Data Subyektif :
1. Pada anak yang mengalami gangguan bahasa:
§ Umur berapa anak saudara mulai mengucapkan satu kata ?
§ Umur berapa anak saudara mulai bisa menggunakan kata dalam suatu kalimat ?
§ Apakah anak anda mengalami kesulitan dalam mempelajari kata baru ?
§ Apakah anak anda sering menghilangkan kata-kata dalam kalimat yang diucapkan.
§ Siapa yang mengasuh dirumah
§ Bahasa apa yang digunakan bila berkomunikasi di rumah
§ Apakah pernah diajar mengucapkan kata-kata
§ Apakah anak saudara mengalami kesulitan dalam menyususn kata-kata
2. Pada anak yang mengalami gangguan bicara :
§ Apakah anak anda sering gagap dalam mengulang suatu kata
§ Apakah anak anda sering merasa cemas atau bingung jika ingin mengungkapkan suatu ide ?
§ Apakah anda pernah perhatikan anak anda memejamkan mata, menggoyangkan kepala, atau mengulang suatu frase jika diberikan kata-kata baru yang sulit diucapkan ?
§ Apa yang anda lakukan jika hal diatas ditemukan. ?
§ Apakah anak anda pernah/sering mengilangkan bunyi dari suatu kata.
§ Apakah anak anda sering menggunakan akata-kata yang salah tetapi mempunyai bunyi yang hampir sama dalam suatu kata ?
§ Apakah anda kesulitan dalam mengerti kata-kata anak anda ?
§ Apakah orang lain merasa kesulitan dalam mengerti kata-kata anak anda ?
§ Perhatikan riwayat penyakit yang berhubungan dengan gangguan fungsi SSP seperti infeksi antenatal (rubbela syndrome), perinatal (trauma persalinan), post natal (infeksi otak, trauma kepala, tumor intra kranial, konduksi elektrik otak)
Data obyektif :
§ Kemampuan menggunakan kata – kata
§ Masalah khusus dalam berbahasa seperti (menirukan, gagap, hambatan bahasa, malas bicara ).
§ Kemampuan dalam mengaplikasikan bahasa
§ Umur anak
§ Kemampuan membuat kalimat
§ Kemampuan mempertahankan kontak mata
§ Kehilangan pendengaran (kerusakan indera pendengaran)
§ Gangguan bentuk dan fungsi artikulasi
§ Gangguan fungsi neurologis.

H. Diagnosa
Diagnose keperawatan yang muncul pada anak yang mengalami gangguan bicara meliputi:
1. Gangguan komunikasi verbal Sehubungan dengan kurangnya stimulasi bahasa
2. Gangguan komunikasi Sehubungan dengan kerusakan fungsi alat-alat artikulasi
3. Gangguan komunikasi verbal Sehubungan dengan gangguan pendengaran
4. Gangguan komunikasi Sehubungan dengan hambatan bahasa
5. Kecemasan orang tua Sehubungan dengan ketidakmampuan anak berkomunikasi
6. Gangguan komunikasi Sehubungan dengan kecemasan
7. Gangguan komunikasi Sehubungan dengan kurangnya kemampuan memori dan kerusakan sistem saraf pusat.

I. Tindakkan Keperawatan
Diagnose
Tindakan
Rasional
Gangguan komunikasi verbal Sehubungan dengan kurangnya stimulasi bahasa
§ Lakukan latihan komunikasi dengan memperhatikan perkembangan mental anak
§ Lakukan komunikasi secara komprehensif baik verbal maupun non verbal.
§ Berbicara sambil bermain dengan alat untuk mempercepat persepsi anak tentang suatu hal.
§ Berikan lebih banyak kata meskipun anak belum mampu mengucapkan dengan benar.
§ Lakukan sekrening lanjutan dengan mengggunakan Denver Speech Test.
§ Latihan bicara yang sesuai dengan perkembangan anak akan menghindari ekploatasi yang berakibat penekanan fungsi mental anak.
§ Komunikasi yang komprehensif akan memperbanyak jumlah stimulasi yang diterima anak sehingga akan memperkuat memori anak terhadap suatu kata.
§ Bermain akan menigkatkan daya tarik anak sehingga frekwensi dan durasi latihan bisa lebih lama.
Anak lebih suka mendengarkan kata-akat dari pada mengucapkan karena biasanya kesulitan dalam mengucapkan.
Untuk mengetahui jenis dan beratnya gangguan serta keterlambatan dalam berbicara pada anak.
Gangguan komunikasi verbal Sehubungan dengan gangguan pendengaran
- Lakukan latihan komunikasi, dan stimulasi dini dengan benda-benda atau dengan menggunakan bahasa isyarat serta biasakan anak melihat artikulasi orang tua dalam berbicara.
§ Perhatikan kebersihan telinga anak
§ Kolaborasi dengan rehabilitasi untuk penggunaan alat bantu dengar
Agar stimulasi tetap diterima anak sesuai dengan perlembangan mental anak yang didasarkan atas kemampuan penerimaan anak terhadap informasi yang diberikan
§ Ganguan pendengaran sering disebabkan oleh adanya hambatan pendengaran akibat adanya kotoran ditelinga.
§ Alat bantu dengar diharapkan mampu mengatasi hambatan pendengaran pada telinga anak.
Gangguan komunikasi Sehubungan dengan hambatan bahasa
§ Gunakan bahasa yang sederhana dan umum digunakan dalam komunikasi sehar-hari.
§ Gunakan verifikasi bahasa sesuai dengan tingkat kematangan dan pengetahuan anak.
§ Untuk memudahkan pema-haman menghindari stress dan kebingungan anak yang akibat bahasa yang berubah-ubah.
§ Difersifikasi bahasa dapat diberikan jika kemampuan mental anak sudah matang seperti setelah umur 9 tahun, karena perkembangan selsel otak anak sudah mulai maksimal.
Gangguan komunikasi Sehubungan dengan kerusakan fungsi alat-alat tikulasi
§ Stimulasi bahasa dan latihn bicara tetap dilakukan sesuai dengan perkembangan mentak anak.
- Kolaborasi: dengan ahli bedah untuk perbaikan alat-alat artikulasi.
§ Untuk mengindari keter-lambatan perkembangan mental, bahasa maupun bicara ketika alat artikulasi sudah bisa diperbaiki.
§ Perbaikan alat-alat artikulasi hanya bisa dilakukan secara optimal dengan pembedahan.
Kecemasan orang tua Sehubungan dengan ketidakmampuan anak berbicara
§ Gali kebiasaan komunikasi dan stimulasi orang tua terhadap anak.
- Berikan penjelasan tentang kondisi anaknya secara jelas, serta kemungkinan penanganan lanjutan, prognose serta lamanya tindakan atau pengobatan.
§ Untuk dapat menggali efektivitas dan kemampuan serta usaha yang telah dilakukan oleh orang tua, untuk mengindari overlaping tindakan yang berakibat orang tua menjadi bosan.
§ Pengikutsertaan keluarga terhadap perawatan anak secara langsung akan mampu mengurangi tingat kecemasan orang tua terhadap keadaan anaknya.
Gangguan komunikasi Sehubungan dengan kecemasan
§ Hindari bicara pada saat kondisi bising.
§ Lakukan komunikasi dengan posisi lawan bicara setinggi badan anak.
§ Lakukan latihan bicara sambil bermain dengan mainan kesukaan anak.
§ Komunikasi tidak efektif sehingga anak menjadi irritabel.
§ Untuk meningkatkan pandangan mata dan efektivitas komunikasi sehingga anak merasa lebih nyaman.
§ Agar anak lebih tertarik dan tidak lekas bosan.
Gangguan komunikasi Sehubungan dengan kurangnya kemampuan memori dan kerusakan sistem saraf pusat.
§ Lakukan observasi dan pemeriksaan fisik neurologi secara mendetail.
§ Kolaborasi pemeriksaan EEG
§ Untuk mengetahui kemungkinan posisi kelainan dalam otak.
§ Untuk mengetahui kemungkinan kelainan pada SSP anak.

DAFTAR PUSTAKA

Ngastiyah. 2005. Perawatan Anak Sakit. Jakarta: EGC.
http://www.yastroki.or.id/read.php?id=11
http://rusari.wordpress.com/2008/09/11/gangguan-tumbuh-kembang-anak/
http://creasoft.files.wordpress.com/2008/04/kep_tumbang.pdf
http://www.infoibu.com/tipsinfosehat/tumbuhkembang.htm
http://ridwanamiruddin.wordpress.com/2007/05/05/tumbuh-kembang-anak/

“BAYI BERAT LAHIR RENDAH

BAB I
PENDAHULUAN

Setiap pasangan suami-istri tentu mendambakan bayi mereka lahir normal, yaitu berat lahir antara 2.500-4.000 gram, cukup bulan, lahir langsung menangis, dan tidak ada kelainan kongenital (cacat bawaan) yang berat.Namun, ada kalanya keinginan tersebut tidak terwujud, misalnya bayi lahir kurang bulan atau bayi berat lahir rendah (BBLR). Kenyataan ini sebetulnya jangan menjadikan orang tua patah semangat, karena kemajuan teknologi kedokteran dan didukung kemauan keras orang tua yang memiliki BBLR, maka bayi itu dapat bertahan hidup.
BBLR adalah bayi yang lahir dengan berat kurang dari 2.500 gram, tanpa memandang usia kehamilan. BBLR dibedakan menjadi dua bagian: pertama, BBL sangat rendah bila kahir berat lahir kurang dari 1.500 gram, dan kedua, BBLR bila berat lahir antara 1.501-2.499 gram.
Penyebab BBLR sangatlah multifaktorial, antara lain asupan gizi ibu sangat kurang pada masa kehamilan, gangguan pertumbuhan dalam kandungan (janin tumbuh lambat), faktor plasenta, infeksi, kelainan rahim ibu, trauma, dan lainnya.Pada saat persalinan, BBLR mempunyai risiko kurang menyenangka, yaitu asfiksia atau gagal untuk bernapas secara spontan dan teratur saat atau beberapa menit setelah lahir. Hal itu diakibatkan faktor paru yang belum matang. Risiko lainnya adalah hiportemia (suhu tubuh 6,5 167 C). Karena itu, perhatian dan pelayanan atau perawatan BBLR dimulai sejak lahir dan sebaiknya persalinannya ditolong oleh tenaga kesehatan dan dilakukan di puskesmas, rumah sakit, atau rumah sakit bersalin.
Perawatan BBLR
Prinsip penting dalam perawatan BBLR setelah lahir adalah mempertahankan suhu bayi agar tetap normal, pemberian minum, dan pencegahan infeksi. Bayi dengan BBLR juga sangat rentan terjadinya hiportemia, karena tipisnya cadangan lemak di bawah kulit dan masih belum matangnya pusat pengatur panas di otak. Untuk itu, BBLR harus selalu dijaga kehangatan tubuhnya. Cara paling efektif mempertahankan suhu tubuh normal adalah sering memeluk dan menggendong bayi. Ada suatu cara yang disebut metode kangguru atau perawatan bayi lekat, yaitu bayi selalu didekap ibu atau orang lain dengan kontak langsung kulit bayi dengan kulit ibu atau pengasuhnya dengan cara selalu menggendongnya. Cara lain, bayi jangan segera dimandikan sebelum berusia enam jam sesudah lahir , bayi selalu diselimuti dan ditutup kepalanya, serta menggunakan lampu penghangat atau alat pemancar panas.Minum sangat diperlukan BBLR, selain untuk pertumbuhan juga harus ada cadangan kalori untuk mengejar ketinggalan beratnya. Minuman utama dan pertama adalah air susu ibu (ASI) yang sudah tidak diragukan lagi keuntungan atau kelebihannya. Disarankan bayi menyusu ASI ibunya sendiri, terutama untuk bayi prematur. ASI ibu memang paling cocok untuknya, karena di dalamnya terkandung kalori dan protein tinggi serat elektrolit minimal.Namun, refleks menghisap dan menelan BBLR biasanya masih sangat lemah, untuk itu diperlukan pemberian ASI peras yang disendokkan ke mulutnya atau bila sangat terpaksa dengan pipa lambung. Susu formula khusus BBLR bisa diberikan bila ASI tidak dapat diberikan karena berbagai sebab. Kekurangan minum pada BBLR akan mengakibatkan ikterus (bayi kuning)BBLR sangat rentan terhadap terjadinya infeksi sesudah lahir. Karena itu, tangan harus dicuci bersih sebelum dan sesudah memegang bayi, segera membersihkan bayi bila kencing atau buang air besar, tidak mengizinkan menjenguk bayi bila sedang menderita sakit, terutama infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), dan pemberian imunisasi sesuai dengan jadwal.Untuk tumbuh, BBLR harus mendapat asupan nutrien berupa minuman mengandung karbohidrat, protein, lemak, serta vitamin yang lebih dari bayi bukan BBLR. Penting dipertahikan agar zat tersebut betul-betul dapat digunakan hanya untuk tumbuh, tidak dipakai untuk melawan infeksi. Biasanya BBLR dapat mengejar ketinggalannya paling lambat dalam enam bulan pertama.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi
Bayi badan lahir rendah (BBLR) adalah bayi baru lahir yang berat badan lahirnya pada saat kelahiran kurang dari 2500 gram. Dahulu neonatus dengan berat badan lahir kurang dari 2500 gram atau sama dengan 2500gram disebut premature. Pada tahun 1961 oleh WHO semua bayi yang baru lahir dengan berat lahir kurang dari 2500 gram disebut Low Birth Weigth Infants (BBLR). Berdasarkan pengertian di atas maka bayi dengan berat badan lahir rendah dapat dibagi menjadi 2 golongan:
1. Prematuritas murni.
Bayi baru lahir dengan umur kehamilan kurang dari 37 minggu dan mempunyai berat badan sesuai dengan berat badan untuk masa kehamilan atau disebut Neonatus Kurang Bulan Sesuai Masa Kehamilan (NKBSMK).
2. Dismaturitas.
Bayi lahir dengan berat badan kurang dari berat badan seharusnya untuk masa kehamilan, dismatur dapat terjadi dalam paterm, term, dan post term. Dismatur ini dapat juga: Neonatus Kurang Bulan – Kecil untuk Masa Kehamilan (NKB-KMK). Neonatus ukup Bulan-Kecil Masa Kehamilan (NCB-KMK), Neonatus Lebih Bulan-Kecil Masa Kehamilan (NLB-KMK).

B. Etiologi
1. Faktor Ibu
a. Penyakit
Penyakit yang brhubungan langsung dengan kehamilan misalnya: perdarahan antepartum, trauma fisik dan psikoogis, DM, toksemia gravidarum, dan nefritis akut. Hipertensi, kelainan uterus inkopetensi cerviks, infeksi saluran kemih, ketuban pecah dini juga dapat menjadi faktor BBLR.
b. Usia Ibu
Angka kejadian prematuritas tertinggi ialah pada usia <20 tahun, dan multi gravidayang jarak kelahiran terlalu dekat. Kejadian terendah ialah pada usia antara 26-35 tahun.
c. Keadaan social ekonomi
Keadaan ini sangat berparanan terhadap timbulnya prematuritas. Kejadian tertinggi terdapat pada golongan sosial ekonomi rendah. Hal ini disebabkan oleh keadaan gizi yang kurang baik ( malnutrisi ) dan pengawasan antenatal yang kurang demikian pula kejadian prematuritas pada bayi yang lahir dari perkawinan yang tidak sah ternyata lebih tinggi bila dibandingkan dengan bayi yang lahir dari perkawinan yang sah.
d. Sebab lain
Ibu perokok, ibu peminum alcohol dan pecandu obat narkotik.
2. Faktor janin.
Hidramion, kehamilan ganda/kembar, kelainan kromosominfeksi, , cacat bawaan, arteri umbilikalis tunggal, dan polihidramnon,

3. Faktor lingkungan
Tempat tinggal di dataran tinggi radiasi dan zat-zat racun.

C. Patofisiologi
Secara umum bayi BBLR ini berhubungan dengan usia kehamilan yang belum cukup ulan atau premature disamping itu juga disebabkan dismaturitas. Artinya bayi lahir cukup bulan (usia kehamilan 38 minggu), tapi berat badan (BB) lahirnya lebih kecil ketimbang masa kehmilannya, yaitu tidak mencapai 2500 gr. Biasanya hal ini terjadi karena adanya gangguan pertumbuhan bayi sewaktu dalam kandungan yang disebabkan oleh penyakit ibu seperti adanya kelainan plasenta, infeksi, hipertensi dan keadaan-keadaan lain yang menyebabkan suplai makanan ke bayi jadi berkurang.
Gizi yang baik diperlukan seorang ibu hamil agar pertumbuhan janin tidak mengalami hambatan dan selanjutnya akan melahirkan bayi dengan berat normal. Dengan kondisi kesehatan yang baik, system reproduksi normal, tidak menderita sakit, dan tidak ada gangguan gizi pada masa prahamil maupun saat hamil, ibu akan melahirkan bayi lebih besar dan lebih sehat daripada ibu dengan kondisi kehamilan yang sebaliknya. Ibu dengan kondisi kurang gizi kronis pada masa hamil sering malahirkan bayi BBLR, vitalitas yang rendah dan kematian yang tinggi, terlebih lagi bila ibu menderita anemia.
Anemia dapat didefinisikan sebagai kondisi dengan kadar Hb berada dibawah normal. Anemia defisiensi besi merupakan salah satu gangguan yang apling sering terjadi pada masa kehamilan. Ibu hamil pada umumnya mengalami deplesi besi sehingga hanya memberi sedikit besi kepada janin yang dibutuhkan untuk metbolisme besi yang normal. Selanjutnya mereka akan menjadi anemia pada saat kadar hemoglobin ibu turun sampai di bawah 11 gr/dl selama trimester III.
Kekurangan zat besi dapat menimbulkan gangguan atau hambatan pada pertumbuhan janin baik sel tubuh maupun sel otak. Anemia gizi dapat mengakibatkan kematian janin di dalam kandungan, abortus, cacat bawaan, BBLR, anemia pada bayi yang di lahirkan, hal ini menyebabkan morbiditas dan mortalitas ibu dan kematian perinatal secara bermakna lebih tinggi. Pada ibu hamil yang menderita anemia berat dapat meningkatkan resiko morbiditas ibu dan bayi, kemungkinan melahirkan bayi BBLR dan prematur juga lebih besar.

D. Manifestasi klinis
1. Fisik
· Bayi kecil
· Pergerakan kurang dan masih lemah
· Kepala lebih besar dari pada badan
· Berat badan < 2500 gr
2. Kulit dan kelamin
· kulit tipis dan transparan
· lanugo banyak
· rambut halus dan tipis
· genitalia belum sempurna
3. sistem saraf
· reflek moro
· reflek menghisap, menelan, batuk belum sempurna
4. system muskulus skeletal
E. Pemeriksaaan Penunjang
Salah satu pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah dengan analisa gas darah.
F. Komplikasi
Komplikasi dari BBLR diantaranya:
1. Bayi prematur: asfiksia, sindroma gawat nafas neonatus, hipotermia, hipoglikemia, hipokalsemia, hiper-bilirubinemia, pendarahan peri-intraventrikuler, pendarahan paru dan enterokolitis nekrotikan.
2. Bayi kecil masa kehamilan: hipoglikemia, asfiksia, infeksi, aspirasi mekoneum, polisitemia, hiperbilirubinemia dan kelainan kongenital.
G. Penatalaksanaan
1. Prematuritas murni:
a. Berat lahir kurang dari 1500 gram
o Dirawat dalam inkubator, pertahankan suhu tubuh antara 36,5 – 37 C
o Bila tidak ada SGNN dapat diberi minum per oral susu rendah laktosa/ ASI dengan menghisap sendiri atau dengan pipa nasogastik. Bila tidak dapat memenuhi semua kebutuhan peroral, maka diberikan sebanyak yang dapat ditoleransi lambungnya dan sisanya diberikan dengan IVFD.
b. Berat lahir lebih dari 1500 gram
o Tampa asfiksia, tidak ada tanda- tanda SGNN dan reflek isap baik rawat gabung dengan metode kangguru dan langsung diberi ASI / LLM
2. Dismatur
a. Berat lahir kurang dari 1500 gram
o Dirawat dalam inkubator, pertahankan suhu tubuh antara 36,5 – 37 C
o Bila reflek isap baik dan tidak ada SGNN dan reflek isap baik langsung diberi minum LLM/ ASI per oral lebih dini (2 jam setelah lahir). Bila reflek isap kurang diberikan minum melalui pipa nasogastrik.
b. Berat lahir lebih dari 1500 gram
o Tanpa asfiksia, tidak ada tanda- tanda SGNN dan reflek isap baik rawat gabung dan langsung diberi LLM/ ASI lebih dini (2 jam setelah lahir)
3. Bayi dengan masa gestasi kurang dari 37 minggu dan kecil untuk masa kehamilan. Penatalaksanaannya sama dengan bayi prematur dengan berat lahir kurang dari 1500 g.
Tindak lanjut:
1. Observasi ketat tanda- tanda vital dan kemampuan minum serta pertambahan berat badan
2. Awasi komplikasi yang mungkin timbul: hipotermia, hipoglemia, hipocalsemia, polisitemia, hiperbilirubinemia, perdarahan peri-intra ventikuler, perdarahan paru dan enterokolitis nekrotikan dan infeksi.
3. Pastikan komplikasi yang dicurigai dengan pemeriksaan penunjang:USG transontantanela (perdarahan peri-intra ventrikuler)
ü Dextro stick (Hipoglikemia)
ü Hematokrit (Polisitemia)
ü Kadar bilirubin
ü Darah rutin dan CRP (infeksi)
Indikasi pulang:
Bayi sudah dapat minum secara adekuat sesuai dengan kebutuhan dan tidak ada komplikasi

H. Askep Pengkajian
1. Tanda-tanda anatomis:
· Kulit keriput, tipis, penuh lanugo pada dahi, pelipis, telinga dan lengan, lemak jaringan sedikit (tipis).
· Kuku jari tangan dan kaki belum mencapai ujung jari
· Pada bayi laki-laki testis belum turun.
· Pada bayi perempuan labia mayora lebih menonjol.
2. Tanda fisiologis
· Gerakan bayi pasif dan tangis hanya merintih, walaupun lapar bayi tidak menangis, bayi lebih banyak tidur dan lebih malas.
· Suhu tubuh mudah untuk menjadi hipotermi.
Penyebabnya adalah :
ü Pusat pengatur panas belum berfungsi dengan sempurna.
ü Kurangnya lemak pada jaringan subcutan akibatnya mempercepat terjadinya perubahan suhu.
· Kurangnya mobilisasi sehingga produksi panas berkurang
I. Langkah Diagnosis
1. Timbang berat bayi
2. Tentukan masa gestasi (hari pertama haid terakhir, skor Ballard)
3. Tentukan bayi sesuai masa kehamilan atau kecil masa kehamilan dengan menggunakan kurve pertumbuhan dan perkembangan intra uterin dari Battalgia dan Lubchenco (1967)
o Masa gestasi < 37 minggu prematuritas murni
o Masa gestasi > 36 minggu? Dismatur
o Masa gestasi < 37 dan berat lahir kurang untuk masa gestasi tersebut? gabungan keduanya
4. Cari faktor atau penyebab / resiko yang mendasari
J. Diagnosa keperawatan
1. Tidak efektifnya pola nafas b.d imaturitas fungsi paru dan neuromuskuler.
2. Tidak efektifnya termoregulasi b.d imaturitas control dan pengatur suhu tubuh dan berkurangnya lemak sub cutan didalam tubuh.
3. Resiko infeksi b.d defisiensi pertahanan tubuh (imunologi).
4. Resiko gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d ketidakmampuan tubuh dalam mencerna nutrisi (imaturitas saluran cerna).
5. Resiko gangguan integritas kulit b.d tipisnya jaringan kulit, imobilisasi.
6. Kecemasan orang tua b.d situasi krisis, kurang pengetahuan.
F. Rencana asuhan keperawatan
No.
Diagnosa Keperawatan
Tujuan
Perencanaan

1.
Tidak efektifnya pola nafas b.d imaturitas fungsi paru dn neuro muscular
Pola nafas efektif .
Kriteria Hasil :
RR 30-60 x/mnt
Sianosis (-)
Sesak (-)
Ronchi (-)
Whezing (-)
1. Observasi pola Nafas.
2. Observasi frekuensi dan bunyi nafas
3. Observasi adanya sianosis.
4. Monitor dengan teliti hasil pemeriksaan gas darah.
5. Tempatkan kepala pada posisi hiperekstensi.
6. Beri O2 sesuai program dokter
7. Observasi respon bayi terhadap ventilator dan terapi O2.
8. Atur ventilasi ruangan tempat perawatan klien.
9. Kolaborasi dengan tenaga medis lainnya.


2
Tidak efektifnya termoregulasi b.d imaturitas control dan pengatur suhu dan berkurangnya lemak subcutan didalam tubuh.
Suhu tubuh kembali normal.
Kriteria Hasil :
Suhu 36-37 C.
Kulit hangat.
Sianosis (-)
Ekstremitas hangat.
1. Observasi tanda-tanda vital.
2. Tempatkan bayi pada incubator.
3. Awasi dan atur control temperature dalam incubator sesuai kebutuhan.
4. Monitor tanda-tanda Hipertermi.
5. Hindari bayi dari pengaruh yang dapat menurunkan suhu tubuh.
6. Ganti pakaian setiap basah.
7. Observasi adanya sianosis.

3.
Resiko infeksi b.d defisiensi pertahanan tubuh (imunologi)
Infeksi tidak terjadi.
Kriteria Hasil :
1. Suhu 36-37 C
2. Tidak ada tanda-tanda infeksi.
3. Leukosit 5.000 – 10.000
1. Kaji tanda-tanda infeksi.
2. Isolasi bayi dengan bayi lain
3. Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan bayi.
4. Gunakan masker setiap kontak dengan bayi.
5. Cegah kontak dengan orang yang terinfeksi.
6. Pastikan semua perawatan yang kontak dengan bayi dalam keadaan bersih/steril.
7. Kolaborasi dengan dokter.
8. Berikan antibiotic sesuai program.

4.
Resiko gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d ketidakmampuan mencerna nutrisi (Imaturitas saluran cerna)
Nutrisi terpenuhi setelah
Kriteria hasil :
1. Reflek hisap dan menelan baik
2. Muntah (-)
3. Kembung (-)
4. BAB lancar
5. Berat badan meningkat 15 gr/hr
6. Turgor elastis.
1. Observasi intake dan output.
2. Observasi reflek hisap dan menelan.
3. Beri minum sesuai program
4. Pasang NGT bila reflek menghisap dan menelan tidak ada.
5. Monitor tanda-tanda intoleransi terhadap nutrisi parenteral.
6. Kaji kesiapan untuk pemberian nutrisi enteral
7. Kaji kesiapan ibu untuk menyusu.
8. Timbang BB setiap hari.

5
Resiko gangguan integritas kulit b.d tipisnya jaringan kulit, imobilisasi.
Gangguan integritas kulit tidak terjadi
Kriteria hasil :
1. Suhu 36,5-37 C
2. Tidak ada lecet atau kemerahan pada kulit.
3. Tanda-tanda infeksi (-)
1. Observasi vital sign.
2. Observasi tekstur dan warna kulit.
3. Lakukan tindakan secara aseptic dan antiseptic.
4. Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan bayi.
5. Jaga kebersihan kulit bayi.
6. Ganti pakaian setiap basah.
7. Jaga kebersihan tempat tidur.
8. Lakukan mobilisasi tiap 2 jam.
9. Monitor suhu dalam incubator.

6.
Kecemasan orang tua b.d kurang pengetahuan orang tua dan kondisi krisis.
Cemas berkurang
Kriteria hasil :
Orang tua tampak tenang
Orang tua tidak bertanya-tanya lagi.
Orang tua berpartisipasi dalam proses perawatan.
1. Kaji tingkat pengetahuan orang tua
2. Beri penjelasan tentang keadaan bayinya.
3. Libatkan keluarga dalam perawatan bayinya.
4. Berikan support dan reinforcement atas apa yang dapat dicapai oleh orang tua.
5. Latih orang tua tentang cara-cara perawatan bayi dirumah sebelum bayi pulang.







BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
1. BBLR adalah bayi yang lahir dengan berat kurang dari 2.500 gram, tanpa memandang usia kehamilan. BBLR dibedakan menjadi dua bagian: pertama, BBL sangat rendah bila kahir berat lahir kurang dari 1.500 gram, dan kedua, BBLR bila berat lahir antara 1.501-2.499 gram.
2. Penyebab BBLR sangatlah multifaktorial, antara lain asupan gizi ibu sangat kurang pada masa kehamilan, gangguan pertumbuhan dalam kandungan (janin tumbuh lambat), faktor plasenta, infeksi, kelainan rahim ibu, trauma, dan lainnya.
3. Manifestasi Klinis
1. 1. Fisik
· Bayi kecil
· Pergerakan kurang dan masih lemah
· Kepala lebih besar dari pada badan
· Berat badan < 2500 gr
2. Kulit dan kelamin
· kulit tipis dan transparan
· lanugo banyak
· rambut halus dan tipis
· genitalia belum sempurna
3. sistem saraf
· reflek moro
· reflek menghisap, menelan, batuk belum sempurna
4. system muskulus skeletal
1. 4. Salah satu pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah dengan analisa gas darah.
5. Komplikasi yang sering ditemukan adalah asfiksia.
6. Diagnosa keperawatan yang utama yaitu tidak efektifnya pola nafas b.d imaturitas fungsi paru dan neuromuskuler.
DAFTAR PUSTAKA

http://italina89.wordpress.com/2008/05/27/penyakit-pada-bayi-baru-lahir/
http://lensakomunika.blogspot.com/2008/05/askep-bblr.html
http://arie-asuhankeperawatan-arie.blogspot.com/2008/01/berat-bayi-lahir-rendah.html\
http://www.idai.or.id/hottopics/detil.asp?q=71
http://askep.blogspot.com/2008/01/asuhan-keperawatan.html

“ANEMIA”

BAB I
PENDAHULUAN


Anemia adalah keadaan di mana kadar hemoglobin di bawah normal sesuai umur dan jenis kelamin. Pada anak usia di atas 1 tahun hingga masa pubertas dikatakan anemia jika didapatkan kadar hemoglobin kurang dari 11 g/dl. Salah satu penyebab tersering anemia pada anak adalah akibat kekurangan besi.
Besi merupakan bagian dari molekul pembentuk hemoglobin. Jika kadar besi kurang, pembentukan hemoglobin akan berkurang dan pada akhirnya kadar hemoglobin akan menurun. Pada awalnya terjadi penurunan cadangan besi dalam tubuh. Jika asupan besi terus berkurang akan timbul kekurangan besi yang belum memberikan gejala anemia. Namun, jika hal itu berlangsung terus, akan timbul gejala anemia.
Angka kejadian anemia di Indonesia berdasarkan SKRT 1995 pada anak usia kurang dari 5 tahun adalah 40,5 %, dan 47,2% pada usia 5-9 tahun serta 10-14 tahun. Pada usia tersebut bayi masih memiliki cukup cadangan besi dari ibunya yang diberikan selama dalam kandungan. Tetapi setelah usia 6 bulan cadangan besi itu akan semakin menipis, sehingga diperlukan asupan besi tambahan untuk mencegah kekurangan besi.
Penyebab terbesar anemia kekurangan besi ini adalah asupan besi yang tidak adekuat karena makanan yang kurang mengandung besi.
- Susu sapi segar hanya mengandung besi 0,5 mgd sehingga tidak direkomendasikan untuk diberikan pada bayi usia kurang dari 1 tahun. - Zat tannin yang terkandung di dalam teh terbukti dapat menghambat penyerapan besi dalam usus.
- Kelainan usus,
- Perdarahan
- Penyakit diare yang berulang
- Penyakit cacing
- Kebutuhan besi yang meningkat pada bayi premature dan masa pertumbuhan juga merupakan salah satu penyebab dari anemia kekurangan besi.
Kalau kita menjumpai bayi dan anak dengan gejala pusat lesu lekas capai, pusing, nafsu makan menurun, kemampuan bekerja dan belajar menurun, perhatian anak berkurang, sering timbul infeksi serta terjadi gangguan pertumbuhan kita harus memikirkan kemungkinan anemia kekurangan besi pada bayi dan anak tersebut.
Untu itu perlu diperlukan serangkaian pemeriksaan untuk membuktikan adanya penyakit ini, di antaranya pemeriksaan darah lengkap untuk melihat kadar hemoglobin serta nilai indeks sel darah merah, serta pemeriksaan kadar besi dalam serum.
Jika telah terbukti menderita anemia kekurangan besi, pengobatan yang diberikan berupa perbaikan diet dengan pemberian besi. Transfusi darah diberikan jika kadar hemoglobin kurang dari 3 g/dl, atau kurang dari 6 g/dl dengan didapatkan tanda-tanda gagal jantung. Terapi besi biasanya diberikan per oral (diminum). Besi yang biasa diberikan dalam bentuk ferrosulfat dengan dosis 6 mg besi/kg berat badan/hari. Walaupun rasanya kurang enak untuk anak-anak, bentuk besi ini paling mudah diserap oleh tubuh. Terapi besi ini diberikan terus sampai 6-8 minggu setelah mencapai kadar hemoglobin normal.
Yang paling penting diketahui adalah bagaimana cara mencegah terjadinya anemia kekurangan besi, yaitu:
- Pemberian diet yang tepat dan suplementasi besi. Pemberian diet yang dianjurkan antara lain pemberian ASI minimal 6 bulan, menghindari minum susu sapi berlebihan, makan makanan yang mengandung kadar besi tinggi, seperti daging sapi, daging kambing, hati, ikan, kacang-kacangan, dan sayuran berwarna hijau.
- Menambahkan makanan yang dapat meningkatkan penyerapan besi di usus, seperti buah-buahan segar dan sayuran yang banyak mengandung vitamin C - Pemberian suplementasi besi dapat dipenuhi lewat susu formula maupun sereal yang mengandung besi (tron fortified milk formula dan iron fortified infant cereal). Pemberian diet serta suplementasi besi ini diberikan sejak bayi berusia 6 bulan, sedangkan pada bayi prematur dapat dimulai lebih cepat yaitu pada usia beberapa minggu karena kebutuhannya meningkat untuk pertumbuhan.
Zat besi merupakan unsur kelumit (trace element) terpenting bagi manusia. besi dengan konsentrasi tinggi terdapat dalam sel darah merah, yaitu sebagai bagian dari molekul hemoglobin yang menyangkut oksigen dari paru–paru. Hemoglobin akan mengangkut oksigen ke sel–sel yang membutuhkannya untuk metabolisme glukosa, lemak dan protein menjadi energi (ATP). Besi juga merupakan bagian dari sistem enzim dan mioglobin, yaitu molekul yang mirip Hemoglobin yang terdapat di dalam sel–sel otot. Mioglobin akan berkaitan dengan oksigen dan mengangkutnya melalui darah ke sel–sel otot. Mioglobin yang berkaitan dengan oksigen inilah menyebabkan daging dan otot–otot menjadi berwarna merah. Di samping sebagai komponen Hemoglobin dan mioglobin, besi juga merupakan komponen dari enzim oksidase pemindah energi, yaitu : sitokrom paksidase, xanthine oksidase, suksinat dan dehidrogenase, katalase dan peroksidase.
Zat besi dalam tubuh terdiri dari dua bagin, yaitu yang fungsional dan yang reserve (simpanan). Zat besi yang fungsional sebagian besar dalam bentuk Hemoglobin (Hb), sebagian kecil dalam bentuk myoglobin, dan jumlah yang sangat kecil tetapi vitl adalah hem enzim dan non hem enzim
Zat besi yang ada dalam bentuk reserve tidak mempunyai fungsi fisiologi selain daripada sebagai buffer yaitu menyediakan zat besi kalau dibutuhkan untuk kompartmen fungsional. Apabila zat besi cukup dalam bentuk simpanan, maka kebutuhan kan eritropoiesis (pembentukan sel darah merah) dalam sumsum tulang akan selalu terpenuhi. Dalam keadaan normal, jumlah zat besi dalam bentuk reserve ini adalah kurang lebih seperempat dari total zat besi yang ada dalam tubuh. Zat besi yang disimpan sebagai reserve ini, berbentuk feritin dan hemosiderin, terdapat dalam hati, limpa, dan sumsum tulang. Pada keadaan tubuh memerlukan zat besi dalam jumlah banyak,misalnya pada anak yang sedang tumbuh (balita), wanita menstruasi dan wanita hamil, jumlah reserve biasanya rendah.
Pada bayi, anak dan remaja yang mengalami masa pertumbuhan, maka kebutuhan zat besi untuk pertumbuhan perlu ditambahkan kepada jumlah zat besi yang dikeluarkan lewat basal.
Dalam memenuhi kebutuhan akan zat gizi, dikenal dua istilah kecukupan (allowance) dan kebutuhan gizi (requirement). Kecukupan menunjukkan kecukupan rata – rata zat gizi setiap hari bagi hampir semua orang menurut golongan umur, jenis kelamin, ukuran tubuh dan aktifitas untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal. Sedangkan kebutuhan gizi menunjukkan banyaknya zat gizi minimal yang diperlukan masing – masing individu untuk hidup sehat. Dalam kecukupan sudah dihitung faktor variasi kebutuhan antar individu, sehingga kecukupan kecuali energi, setingkat dengan kebutuhan ditambah dua kali simpangan baku. Dengan demikian kecukupan sudah mencakup lebih dari 97,5% populasi (Muhilal et al, 1993).
Pada bayi, anak dan remaja yang mengalami masa pertumbuhan perlu ditambahkan kepada jumlah zat besi yang dikeluarkan lewat basal. Kebutuhan zat besi relatif lebih tinggi pada bayi dan anak daripada orang dewasa apabila dihitung berdasarkan per kg berat badan. Bayi yang berumur dibawah 1 tahun, dan anak berumur 6 – 16 tahun membutuhkan jumlah zat besi sama banyaknya dengan laki – laki dewasa. Tetapi berat badannya dan kebutuhan energi lebih rendah daripada laki – laki dewasa. Untuk dapat memenuhi jumlah zat besi yang dibutuhkan ini, maka bayi dan remaja harus dapat mengabsorbsi zat besi yang lebih banyak per 1000 kcal yang dikonsumsi. Kebutuhan zat besi pada anak balita dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel :1
Kebutuhan Zat Besi Anak Balita
Umur
Kebutuhan
0 – 6 bulan
7 – 12 bulan
1 – 3 tahun
4 – 6 tahun
3 mg
5 mg
8 mg
9 mg
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian
Anemia merupakan kondisi di mana kurangnya konsentrasi sel darah merah atau menurunnya kadar hemoglobin dalam darah di bawah normal, penurunan kadar tersebut banyak dijumpai pada anak karena kurangnya kadar zat besi atau perdarahan, sehingga anemia ini dapat disebut juga sebagai anemia defisiensi zat besi (anemi kurang zat besi), walaupun sebenarnya apabila bayi yang lahir dengan ibu yang non-anemia atau bergizi baik akan membuat bayi tersebut lahir dalam keadaan zat besi yang cukup apabila diberikan ASI yang cukup pula, akan tetapi apabila zat besi yang besi yang sebenarnya cukup tersedia dalam ASI tidak dimanfaatkan oleh ibu dan anak tersebut tidak mendapatkan sumber zat besi yang dapat diperoleh dari susu formula atau makanan yang kaya akan zat besi maka dapat menimbulkan adanya anemia, selain kadar zat besi anemia dapat juga ditimbulkan karena pendarahan seperti pendarahan pada usus atau kehilangan darah pada saluran cerna akibat makanan yang salah, atau pendarahan lain yang jumlahnya berlebihan. (Hidayat,2006)

B. Etiologi
Penelitian di negara berkembang mengemukakan bahwa bayi lahir dari ibu yang menderita anemia kemungkinan akan menderita anemia gizi, mempunyai berat badan lahir rendah, prematur dan meningkatnya mortalitas (Academi of Sciences, 1990).
Penyebab anemia gizi pada bayi dan anak (Soemantri, 1982):
a. Pengadaan zat besi yang tidak cukup
· Cadangan zat besi pada waktu lahir tidak cukup.
1. Berat lahir rendah, lahir kurang bulan, lahir kembar
2. Ibu waktu mengandung menderita anemia kekurangan zat besi yang berat
3. Pada masa fetus kehilangan darah pada saat atau sebelum persalinan seperti adanya sirkulasi fetus ibu dan perdarahan retroplasesta
· Asupan zat besi kurang cukup
b. Absorbsi kurang
Diare menahun
Sindrom malabsorbsi
Kelainan saluran pencernaan
c. Kebutuhan akan zat besi meningkat untuk pertumbuhan, terutama pada lahir kurang bulan dan pada saat akil balik.
d. Kehilangan darah
Perdarahan yang bersifat akut maupun menahun, misalnya pada poliposis rektum, divertkel Meckel
Infestasi parasit, misalnya cacing tambang.

C. Patofisiologi
Zat besi diperlukan untuk hemopoesis (pembentukan darah) dan juga diperlukan oleh berbagai enzim sebagai faktor penggiat. Zat besi yang terdapat dalam enzim juga diperlukan untuk mengangkut elektro (sitokrom), untuk mengaktifkan oksigen (oksidase dan oksigenase). Defisiensi zat besi tidak menunjukkan gejala yang khas (asymptomatik) sehingga anemia pada balita sukar untuk dideteksi.
Tanda-tanda dari anemia gizi dimulai dengan menipisnya simpanan zat besi (feritin) dan bertambahnya absorbsi zat besi yang digambarkan dengan meningkatnya kapasitas pengikatan besi. Pada tahap yang lebih lanjut berupa habisnya simpanan zat besi, berkurangnya kejenuhan transferin, berkurangnya jumlah protoporpirin yang diubah menjadi heme, dan akan diikuti dengan menurunya kadar feritin serum. Akhirnya terjadi anemia dengan cirinya yang khas yaitu rendahnya kadar Rb (Gutrie, 186 :303)
Bila sebagian dari feritin jaringan meninggalkan sel akan mengakibatkan konsentrasi feritin serum rendah. Kadar feritin serum dapat menggambarkan keadaan simpanan zat besi dalam jaringan. Dengan demikian kadar feritin serum yang rendah akan menunjukkan orang tersebut dalam keadaan anemia gizi bila kadar feritin serumnya <12 ng/ml. Hal yang perlu diperhatikan adalah bila kadar feritin serum normal tidak selalu menunjukkan status besi dalam keadaan normal. Karena status besi yang berkurang lebih dahulu baru diikuti dengan kadar feritin.
Diagnosis anemia zat gizi ditentukan dengan tes skrining dengan cara mengukur kadar Hb, hematokrit (Ht), volume sel darah merah (MCV), konsentrasi Hb dalam sel darah merah (MCH) dengan batasan terendah 95% acuan (Dallman,1990)

D. Manifestasi Klinis
Rasa lemah, letih, hilang nafsu makan, menurunya daya konsentras dan sakit kepala atau pening adalah gejala awal anemia. Pada kasus yang lebih parah, sesak nafas disertai gejala lemah jantung dapat terjadi. Untuk memastikan, diagnosa perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium, diantaranya dilakukan penentuan kadar hemoglobin atau hematokrit dalam darah (Kardjati Sakit, 1985).

E. Pengkajian Keperawatan
Pada pengkajian anak dengan anemia pada umumnya didapati tanda dan gejala seperti adanya kelemahan otot, mudah lelah seperti sring beristirahat, napas pendek, kulit pucat, pika, kemudian adanya gangguan pada sistemdaraf seperti adnya sakit kepala, pusing, kunang-kunang, peka terhadap rangsangan, menurunnya lapang pandang (kabur), apatis, apabila sudah berat terjadi perfusi perifer yang buruk, kulit lembap, dan dingin, menurunnya tekanan darah serta adanya peningkatan frekuensi jantung
Pengkajian terhadap faktor penyebab didapati adanya riwayat diet yang salah (kurang kadar Fe), makan pasta, makan tanah, dan lain-lain atau kurangnya komposisi makanan seperti banyak makanan sayuran akan tetapi kurang daging; adanya faktor pertumbuhan yang cepat tidak diimbangi dengan kebutuhan Fe yang banyak; adanya gangguam penyerapan Feakibat berbagai penyakit seperti usus; kemudian akibat pendarahan yang hebat yang menyebabkan kehilangan sel darah merah atau kadar Hbakan menurun; dan lain hal sehingga memicu terganggunnya kadar Fe dalam darah. Pada pemeriksaan fisik, didapati adanya penurunan perfusi perifer, penurunan tekanan darah, dan frekuensi jantung. Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan kadar Hb dan jumlah eritrosit menurun, kadar MCV, MCH, dan MCHC menurun, kadar besi serum menurun, feritin serum darah menurun atau rendah kurang dari 10-12 mikrogram/L dan free erythrocyte porphyrin meningkat.

F. Diagnosis/Masalah Keperawatan
Diagnosis atau masalah keperawatan yang terjadi pada anak dengan anemia kuranf besi adalah sebagai berikut:
1. Intoleransi aktivitas
2. Kurang nutrisi (kurang dari kebutuhan)
3. Ansietas/cemas

G. Rencana Tindakan Keperawatan
Intoleransi aktivitas
Masalah intoleransi aktivitas disebabkan oleh adanya kelemahan secara umum dan adanya penurunan pengiriman kadar oksigen ke dalam jaringan. Untuk mengatasi masalah tersebut maka rencana yang dapat dilakukan adalah mempertahankan aktivitas atau memberikan istirahat yang cukup dan memperlancar pengiriman oksigen ke jaringan sehingga aktivitas dapat ditoleransi, sehingga harapannya kondisi pernapasan cukup normal.
Tindakan:
1. Monitor tanda fisik seperti adanya takikardi, palpitasi, takipne, dispne pusing, perubahan warna kulit, dan lain-lain.
2. Bantu aktivitas dalam batas toleransi.
3. Berikan aktivitas bermain, pengalihan untuk mencegah kebosanan dan meningkatkan istirahat.
4. Pertahankan posisi fowler dan berikan oksigen suplemen.
5. Monitor tanda vital dalam keadaan istirahat.
· Kurang nutrisi (kurang dari kebutuhan)
Masalah kekurangan nutrisi dapat disebabkan karena adanya ketidakadekuatan masukan kadar Fe atau kurang pengetahuan keluarga tentang pentingnya kebutuhan kadar Fe dan juga dapat disebabkan karena gangguan penyakit atau pertumbuhan.
Tindakan:
1. Berikan nutrisi yang kaya zat besi (Fe) seperti makanan daging, kacang, gandum, sereal kering yang diperkaya besi.
2. Berikan susu suplemen setelah makan padat.
3. Berikan preparat besi peroral fero sulfat, fero fumarat, fero suksinat, fero glukonat, dan berikan antara waktu makan untuk meningkatkan absorpsi, berikan bersama jus buah.
4. Ajarkan cara mencegah perubahan warna gigi akibat minum atau makan zat besi dengan cara berkumur setelah minum obat, minum preparat dengan air atau jus jeruk.
5. Berikan multivitamin.
6. Jangan berikan preparat Fe bersama susu.
7. kaji feses karena pemberian yang cukup akan mengubah feses menjadi hijau gelap.
8. Monitor kadar Hb, atau tanda klinis lain.
9. Anjurkan makanan beserta air untuk mengurangi konstipasi.
10. Tingkatkan asupan daging dan tambahkan padi-padian serta sayuran hijau dalam diet.
· Ansietas/Cemas
Masalah ansietas atau kecemasan pada anak sering terjadi akobat kondisi tubuhnya, karena adanya prosedur diagnosis atau juga tindakan tranfusi, untuk itu diperlukan keterlibatan keluarga dalam menurunkan stres emosional.
Tindakan:
1. Libatkan orang tua bersama anak dalam persiapan prosedur diagnosis.
2. Jelaskan tujuan pemberian komponen darah.
3. Antisipasi peka rangsang anak, kerewelan dengan membantu aktivitas anak.
4. Dorong anak untuk mengekspresikan perasaan.
5. Berikan darah, sel darah, atau trombosit sesuai dengan ketentuan, dengan harapan anak mau menerima.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
1. Anemia defisiensi besi (Anemia Gizi) adalah suatu keadaan kadar hemoglobin di dalam darah leih rendah daripada nilai normal. Untuk balita kadar Hb Normal adalah 12 g/dl. Adapun kebutuhan zat besi pada anak adalah sekitar 5 – 9 mmg/hari.
2. Menurut SKRT 1995 prevalensi Anemia Gizi pada Balita yaitu 40,1% hal ini tergolong tingkat yang perlu mendapat perhatian lebih dari pemerintah dan masyarakat.
3. Penyebab anemia Gizi pada balita sangat banyak diantaranya: Pengadaan zat besi yang tidak cukup seperti cadangan besi yang tidak cukup. Selain itu absorbsi
4. yang kurang karena diare ataupun infestasi cacing yang memperberat anemia. Faktor-faktor lain turut pula mempengaruhi seperti faktor sosial ekonomi, pendidikan, pola makan, fasilitas kesehatan dan faktor budaya.
5. Pengaruh Anemia pada balita diantaranya adalah penurunan kekebalan tubuh dimana terjadi penurunan kemampuan sel humural dan seluler di dalam tubuh. Hal ini mengakibatkan balita mudah terkena infeksi. Terhadap fungsi kognitif terjadi pula penurunan sehingga kecerdasan anak berkurang, kurang atensi (perhatian) dan prestasi belajar terganggu. Hal ini akan melemahkan keadaan anak sebagai generasi penerus.
6. Strategi penanggulangan anemia gizi meliputi strategi operasional KIE, strategi operasioanl Suplementasi, Strategi penanggulangan anemia gizi secara tuntas hanya mungkin kalau intervensi dilakukan terhadap sebab langsung maupun sebab mendasar.
7. Mengingat balita adalah penentu dari tinggi rendahnya kualitas pemuda dan bangsa kelak maka penanganan sedini mungkin sangatlah berarti bagi kelangsungan pembangunan.
DAFTAR PUSTAKA

Hidayat, A. Aziz Alimul. 2006. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. Jakarta: Salemba Medika.
Price, Sylvia Anderson. 2005. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jakarta: EGC.



“ASUHAH KEPERAWATAN HIPEREMESIS GRAVIDARUM”

BAB I
PENDAHULUAN

Hiperemesis gravidarum adalah muntah yang terjadi sampai umur kehamilan 20 minggu, muntah begitu hebat dimana segala apa yang dimakan dan diminum dimuntahkan sehingga mempengaruhi keadaan umum dan pekerjaan sehari-hari, berat badan menurun, dehidrasi, dan terdapat aseton dalam urin bukan karena penyakit seperti appendisitis, pielititis, dan sebagainya.(1)
Mual dan muntah merupakan gejala yang wajar ditemukan pada kehamilan triwulan pertama. Biasanya mual dan muntah terjadi pada pagi hari sehingga sering dikenal dengan morning sickness. Sementara setengah dari wanita hamil mengalami morning sickness, 1,5 – 2 % mengalami hiperemesis gravidarum, suatu kondisi yang lebih serius. Hiperemesis gravidarum sendiri adalah mual dan muntah hebat dalam masa kehamilan yang dapat menyebabkan kekurangan cairan, penurunan berat badan, atau gangguan elektrolit sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari dan membahayakan janin di dalam kandungan. Pada umumnya HG terjadi pada minggu ke 6 - 12 masa kehamilan, yang dapat berlanjut sampai minggu ke 16 – 20 masa kehamilan.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi
Mual (nausea) dan muntah (emesis gravidarum) adalah gejala yang wajar dan sering kedapatan pada kehamilan trimester I. Mual biasanya terjadi pada pagi hari, tetapi dapat pula timbul setiap saat dan malam hari. Gejala-gejala ini kurang lebih terjadi 6 minggu setelah hari pertama hari terakhir dan berlangsung selama kurang lebih 10 minggu.
Mual dan muntah terjadi pada 60-80% primi gravida dan 40-60% multi gravida. Satu diantara seribu kehamilan, gejala-gejala ini menjadi lebih berat. Perasaan mual ini disebabkan oleh karena meningkatnya kadar hormone estrogen dan HCG dalam serum. Pengaruh fisiologik kenaikan hormone ini belum jelas, mungkin karena system saraf pusat atau pengosongan lambung yang berkurang. Pada umumnya wanita dapat menyesuaikan dengan keadaan ini, meskipun demikian gejala mual dan muntah yang berat dapat berlangsung sampai 4 bulan. Pekerjaan sehari-hari menjadi terganggu dan keadaan umum menjadi buruk. Keadaan inilah yang disebut hiperemesis gravidarum. Keluhan gejala dan perubahan fisiologis menentukan berat ringannya penyakit.

B. Etiologi
Penyebab hiperemesis gravidarum belum diketahui secara pasti. Tidak ada bukti bahwa penyakit ini disebabkan oleh factor toksik; juga tidak ditemukan kelainan biokimia. Perubahan-perubahan anatomic pada otak, jantung, hati dan susunan saraf, disebabkan oleh kekurangan vitamin serta zat-zat lain akibat inanisi. Beberapa factor predisposisi dan factor lain yang telah ditemukan oleh beberapa penulis sebagai berikut.
1. Faktor predisposisi yang sering dikemukakan adalah primigravida, mola hidatidosa dan kehamilan ganda. Frekuensi yang tinggi pada mola hidatidosa dan kehamilan ganda menimbulkan dugaan bahwa factor hormone memegang peranan, karena pada kedua keadaan tersebut hormone khorionik gonadotropin dibentuk berlebihan.
2. Masuknya vili khoralis dalam sirkulasi maternal dan perubahan metabolic akibat hamil serta resistensi yang menurun dari pihak ibu terhadap perubahan ini merupakan factor organic.
3. Alergi. Sebagai salah satu respons dari jaringan ibu terhadap anak, juga disebut sebagai salah satu factor organic.
4. Faktor psikologik memegang peranan yang penting pada penyakit ini, rumah tangga yang retak, kehilangan pekerjaan, takut terhadap kehamilan dan persalinan, takut terhadap tanggung jawab sebagai ibu, dapat menyebabkan konflik mental yang dapat memperberat mual dan muntah sebagai ekspresi tidak sadar terhadap keengganan menjadi hamil atau sebagai pelarian kesukaran hidup.
Hubungan psikologik dengan hiperemesis gravidarum belum diketahui secara pasti. Tidak jarang dengan memberikan suasana baru, sudah dapat membantu mengurangi frekuensi muntah.
· Faktor risiko terjadinya hiperemesis gravidarum diantaranya adalah :
· Level hormon ß-hCG yang tinggi. Hormon ini meningkat cepat pada triwulan pertama kehamilan dan dapat memicu bagian dari otak yang mengontrol mual dan muntah
· Peningkatan level estrogen. Mempengaruhi bagian otak yang mengontrol mual dan muntah
· Perubahan saluran cerna. Selama kehamilan, saluran cerna terdesak karena memberikan ruang untuk perkembangan janin. Hal ini dapat berakibat refluks asam (keluarnya asam dari lambung ke tenggorokan) dan lambung bekerja lebih lambat menyerap makanan sehingga menyebabkan mual dan muntah
· Faktor psikologis. Stress dan kecemasan dapat memicu terjadinya morning sickness
· Diet tinggi lemak. Risiko HG meningkat sebanyak 5 kali untuk setiap penambahan 15 g lemak jenuh setiap harinya
· Helicobacter pylori. Penelitian melaporkan bahwa 90% kasus kehamilan dengan HG juga terinfeksi dengan bakteri ini, yang dapat menyebabkan luka pada lambung
C. Patologi
Bedah mayat pada wanita yang meninggal akibat hiperemesis gravidarum menunjukkan kelainan-kelainan pada berbagai alat dalam tubuh, yang juga dapat ditemukan pada malnutrisi oleh bermacam sebab.
1. Hati. Pada hiperemesis gravidarum tanpa komplikasihanya ditemukan degenerasi lemak tanpa nekrosis; degenerasi lemak tersebut terletak sentrilobuler. Kelainan lemak ini nampaknya tidak menyebabkan kematian dan dianggap sebagai akibat muntah yang terus menerus. Dapat ditambahkan bahwa separoh penderita yang meninggal karena hiperemesis gravidarum menunjukkan gambaran mikroskopik hati yang normal.
2. Jantung. Jantung menjadi lebih kecil daripada biasa dan beratnya artrofi; ini sejalan dengan lamanya penyakit, kadang-kadang ditemukan perdarahan sub-endokardial.
3. Otak. Adakalanya terdapat bercak-bercak perdarahan pada otak dan kelainan seperti pada ensefalopati Wernicke dapat dijumpai (dilatasi kapiler dan perdarahan kecil-kecil di daerah korpora mamilaria ventrikel ketiga dan keempat).
4. Ginjal. Ginjal tampak pucat dan degenerasi lemak dapat ditemukan pada tubuli kontorti,

D. Patofisiologi
Ada yang menyatakan bahwa, perasaan mual adalah akibat dari meningkatnya kadar estrogen, oleh karena keluhan ini terjadi pada trimester pertama. Pengaruh fisiologik hormone estrogen ini tidak, mungkin berasal dari system saraf pusat atau akibat berkurangnya pengosongan lambung. Penyesuaian terjadi pada kebanyakan wanita hamil, meskipun demikian mual dan muntah dapat berlangsung berbulan-bulan.
Hiperemesis gravidarum yang merupakan komplikasi mual dan muntah pada hamil muda, bila terjadi terus menerus dapat menyebabkan dehidrasi dan tidak imbangnya elektrolit dengan alkalosis hipokloremik. Belum jelas mengapa gejala-gejala ini hanya terjadi pada sebagian kecil wanita, tetapi factor psikologik merupakan factor utama, di samping pengaruh hormonal. Yang jelas, wanita yang sebelum kehamilan sudah menderita lembung spastic dengan gejala tak suka makan dan mual, akan mengalami emesis gravidarum yang lebih berat.
Hiperemesis gravidarum ini dapat mengakibatkan cadangan kerbohidrat dan lemak habis terpakai untuk keperluan energi. Karena oksidasi lemak yang tak sempurna, terjadilah ketosis dengan tertimbunnya asam aseton-asetik, asam hidroksi butirik dan aseton dalam darah. Kekurangan cairan yang diminum dan kehilangan cairan karena muntah menyebabkan dehidrasi, sehingga cairan ekstraseluler dan plasma berkurang. Natrium dan khlorida darah turun, demikian pula khlorida air kemih. Selain itu dehidrasi menyebabkan hemokonsentrasi, sehingga aliran darah ke jaringan berkurang. Hal ini menyebabkan jumlah zat makanan dan oksigen ke jaringan mengurang pula dan tertimbunnya zat metabolic yang toksik. Kekurangan kalium sebagai akibat dari muntah dan bertambahnya ekskresi lewat ginjal, menambah frekuensi muntah-muntah yang lebih banyak, dapat merusak hati, dan terjadilah lingkaran setan yang sulit dipatahkan.Di samping dehidrasi dan terganggunya keseimbangan elektrolit, dapat pula terjadi robekan pada selaput lender esophagus dan lambung (Sindroma Mallory-Weiss), dengan akibat peradangan gastrointestinal. Pada umumnya robekan ini ringan dan perdarahan dapat berhenti sendiri. Jarang sampai diperlukan transfuse atau tindakan operatif.

E. Gejala dan tanda
Batas jelas antara mual yang masih fisiologik dalam kehamilan dengan hiperemesis gravidarum tidak ada; tetapi bila keadaan umum penderita terpengaruh, sebaiknya ini dianggap sebagai hiperemesis gravidarum. Hiperemesis gravidarum, menurut berat ringannya gejala dapat dibagi ke dalam 3 tingkatan.
Tingkatan I. Muntah terus menerus yang mempengaruhi keadaan umum penderita, ibu merasa lemah, nafsu makan tidak ada, berat badan menurun dan merasa nyeri pada epigastrium. Nadi meningkat sekitar 100 per menit, tekanan darah sistolik menurun, turgor kulit mengurang, lidah mongering dan mata cekung.
Tingkatan II. Penderita tampak lebih lemah dan apatis, turgor kulit lebih mengurang, lidah mongering dan nampak kotor, nadi kecil dan cepat, suhu kadang-kadang naik dan mata sedikit ikteris. Berat badan turun dan mata menjadi cekung, tensi turun, hemokonsentrasi, oliguria dan konstipasi. Aseton dapat tercium dalam hawa pernapasan, karena mempunyai aroma yang khas dan dapat pula ditemukan dalam kencing.
Tingkat III. Keadaan umumlebih parah, muntah berhenti, kesadaran menurun dari somnolen sampai koma, nadi kecil dan cepat; suhu meningkat dan tensi menurun. Komplikasi fatal terjadi pada susunan saraf yang dikenal sebagai ensefalopati Wernicke, dengan gejala; nistagamus, diplopia dan perubahan mental. Keadaan ini adalah akibat sangat kekurangan zat makanan, termasuk vitamin B kompleks. Timbulnya ikterus menunjukkan adanya payah hati.

F. Pengelolaan dan penatalaksanaan
Pencegahan terhadap hiperemesis gravidarum perlu dilaksanakan dengan jalan memberikan penerapan tentang kehamilan dan persalinan sebagai suatu proses yang fisiologik, memberikan keyakinan bahwa mual dan kadang-kadang muntah merupakan gejala yang fisiologik pada kehamilan muda dan akan hilang setelah kehamilan 4 bulan, menganjurkan mengubah makan sehari-hari dengan makanan dalam rumah kecil, tetapi lebih sering. Waktu bangun pagi jangan segera turun dari tempat tidur, tetapi dianjurkan untuk makan roti kering atau biscuit dengan the hangat. Makanan yang berminyak dan berbau lemak sebaiknya dihindarkan. Makanan dan minuman seyogyanya disajikan dalam keadaan panas atau sangat dingin. Defekasi yang teratur hendaknya dapat dijamin, menghindarkan kekurangan karbohidrat merupakan factor yang penting, oleh karenanya dianjurkan makanan yang banyak mengandung gula.
1. Obat-obatan
Apabila dengan cara tersebut di atas keluhan dan gejala tidak mengurang maka diperlukan pengobatan. Tetapi perlu diingat untuk tidak memberikan obat yang teratogen. Sedativa yang sering diberikan adalah phenoberbital. Vitamin yang dianjurkan adalah vitamin B1 dan B6. Anti histaminika juga dianjurkan, seperti dramamin, avomin. Pada keadaan lebih berat diberikan antiemetik seperti disiklomin hidrokhloride atau khlorpromasin. Penanganan hiperemesis gravidium yang lebih berat perlu dikelola di rumah sakit.
2. Isolasi
Penderita disendirikan dalam kamar yang tenang, tetapi cerah dan peredaran udara yang baik. Catat cairan yang keluar dan masuk. Hanya dokter dan perawat yang boleh masuk ke dalam kamar penderita, sampai muntah berhenti dan penderita mau makan. Tidak diberikan makanan/minum dan selama 24 jam. Kadang-kadang dengan isolasi saja gejala-gejala akan berkurang atau hilang tanpa pengobatan.
3. Terapi psikologik
Perlu diyakinkan kepada penderita bahwa penyakit dapat disembuhkan, hilangkan rasa takut oleh karena kehamilan, kurangi pekerjaan serta menghilangkan masalah dan konflik, yang kiranya dapat menjadi latar belakang penyakit ini.
4. Cairan parenteral
Berikan cairan parenteral yang cukup elektrolit, karbohidrat dan protein dengan glukosa 5% dalam cairan garam fisiologik sebanyak 2-3 liter sehari. Bila perlu dapat ditambah kalium dan vitamin, khususnya vitamin Bkompleks dan vitamin C dan bila ada kekurangan protein, dapat diberikan pulas asam amino secara intravena.
Dibuat daftar control cairan yang masuk dan yang dikeluarkan. Air kencing perlu diperiksa sehari-hari terhadap protein, aseton, khlorida dan bilirubin. Suhu dan nadi diperiksa setiap 4 jam dan tekanan darah 3 kali sehari. Dilakukan pemeriksaan hematokrit pada permulaan dan seterusnya menurut keperluan. Bila selama 24 jam penderita tidak muntah dan keadaan umum bertambah baik dapat dicoba untuk memberikan minuman, dan lambat laun minum dapat ditambah dengan makanan yang tidak cair. Dengan penanganan di atas, pada umumnya gejala-gejala akan berkurang dan keadaan akan bertambah baik.
5. Penghentian kehamilan
Pada sebagian kecil kasus keadaan tidak menjadi baik, bahkan mundur. Usahakan mengadakan pemeriksaan medik dan psikiatrik bila keadaan memburuk. Delirium, kebutaan, takhikardi, ikterus, anuria dan perdarahan merupakan manifestasi komplikasi organic. Dalam keadaan demikian perlu dipertimbangkan untuk mengakhiri kehamilan. Keputusan untuk melakukan abortus terapeutik sering sulit diambil, oleh karena di satu pihak tidak boleh dilakukan terlalu cepat, tetapi dilain pihak tidak boleh menunggu sampai terjadi gejala ireversibel pada organ vital.
Pencegahan hiperemesis gravidarum perlu dilaksanakan dengan jalan memberikan penerapan tentang kehamilan dan persalinan sebagai suatu proses yang fisiologik, keyakinan bahwa mual, muntah, kadang-kadang merupakan gejala fisiologik pada kehamilan muda yang akan hilang pada kehamilan 4 bulan. Menganjurkan mengubah makanan sehari-hari dengan makanan dalam jumlah kecil tapi sering, waktu bangun pagi jangan segera turun dari tempat tidur tetapi dianjurkan untuk makan roti kering atau biscuit dengan teh hangat. Makan yang berminyak dan berbau menyengat sebaiknya dihindari. Makan dan minuman sebaiknya disajikan dalam keadaan hangat atau sangat dingin
Konsep pengobatan psikologik
1. Isolasi pengobatan psikologis
Dengan isolasi di ruangan dapat meringankan wanita hamil karena perubahan suasana dari lingkungan rumah tangga. Petugas dapat memberikan informasi, komunikasi, edukasi tentang berbagai masalah berkaitan dengan kehamilan
2. Pemberian cairan pengganti
Dalam keadaan darurat diberikan cairan pengganti sehingga keadaan dehidrasi dapat diatasi. Cairan pengganti yang dapat diberikan adalah glukosa 5% sampai 10%dengan keuntungan dapat mengganti cairan yang hilang. Dalam cairan ditambahkan vitamin C.B komplek atau kalium yang diperlukan untuk kelancaran metabolisme
3. Terapi psikologik
Perlu diyakinkan pada penderita bahwa penyakit dapat disembuhkan. Hilangnya rasa takut oleh karena kehamilan, kurangi pekerjaan sserta menghilangkan masalah dan konflik yang kiranya dapat menjadi latar belakang penyakit ini
4. Obat-obat yang dapat diberikan
a. Sedativa ringan - Phenobarbital (luminal) 30 mg - Valium b. Anti alergi - Anti histamine - Dramamin - Avomin c. Obat anti mual – muntah - Mediamer B6 - Emetrolen - Stimetil - Avopregd. Vitamin - Terutama vitamin B komplek - Vitamin C
5. Menghentikan kehamilan
Pada berbagai kasus pengobatan tidak berhasil malah terjadi kemandulan dan keadaan semakin memburuk, sehingga diperlukan pertimbangan untuk mengakiri kehamilannya, keadaan yang perlu dipertimbangkan gugur kandungan diantaranya: a. Gangguan kejiwaan - Delirium - Apatis, samnolewn sampai koma - Terjadi gangguan jiwa ensefalopati wernikeb. Gangguan penglihatan - Perdarahan retina - Kemunduran penglihatanc. Gangguan faal - Hati dalam bentuk icterus - Ginjal dalam bentuk anuria - Jantung dalam pembuluh darah terjadi nadi meningkat - Tekanan darah menurun

G. Prognosis
Dengan penanganan yang baik prognosis hiperemesis gravidarum sangat memuaskan. Penyakit ini biasanya dapat membatasi diri, namun demikian pada tingkatan yang berat, penyakit ini dapat mengancam jiwa ibu dan janin.

H. Diagnosis
Diagnosis hiperemesis gravidarum biasanya tidak sukar. Harus ditentukan adanya kehamilan muda dan muntah yang terus menerus, sehingga mempengaruhi keadaan umum. Namun demikian harus dipikirkan kehamilan muda dengan penyakit pielonefritis, hepatitis, ulkus ventrikuli dan tumor serebri yang dapat pula memberikan gejala muntah.
Hiperemesis gravidarum yang terus menerus dapat menyebabkan kekurangan makanan yang dapat mempengaruhi perkembangan janin, sehingga pengobatan perlu segera diberikan.
Diagnosa Keperawatan yang muncul
1. Gangguan Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan pengeluaran nutrisi yang berlebihan dan intake kurang
Tujuan :
a. Menjelaskan komponen diet seimbang prenatal, memberikan makanan yang mengandung vitamin, mineral, protein dan besi
b. Mengikuti diet yang dianjurkan
c. Mengkonsumsi suplemen zat besi/ vitamin sesuai resep
d. Menunjukkan penambahan berat badan yang sesuai (biasanya 1,5 kg pada akhir trimester pertama)
Intervensi
a. Tunjukkan keadekuatan kebiasaan asupan nutrisi dulu/ sekarang dengan menggunakan batasan 24 jam. Perhatikan kondisi rambut, kulit dan kuku.
b. Dapatkan riwayat kesehatan, cacat usia (khususnya kurang dari 17 tahun, lebih dari 35 tahun)
c. Pastikan tingkat pengetahuan tentang kebutuhan nutrisi
d. Berikan informasi tertulis / verbal yang terpat tentang diet pra natal dan suplemen vitamin / zat besi setiap hari
e. Evaluasi motivasi/ sikap dengan mendengar keterangan klien dan meminta umpan balik tentang informasi yang diberikan
f. Tanyakan keyakinan berkenaan dengan diet sesuai dengan budaya dan hal – hal tabu selama kehamilan
g. Perhatikan adanya pika/ ngidam. Kaji pilihan bahwa bukan makanan dan tingkat motivasi untuk memakannya
h. Timbang berat badan klien; pastikan berat badan pregravida biasanya. Berikan inforamasi tentang penambahan prenatal yang optimum
i. Tinjau ulang frekuensi dan beratnya mual/ muntah
j. Kesampingkan muntah pernisiosa (hiperemesis gravidarum )
k. Pantau kadar hemoglobin (Hb, Hematokrit)
l. Tes urine terhadap aseton, albumin dan glukosa
m. Ukur pembesaran uterus
n. Buat rujukan yang perlu sesuai dengan indikasi (misal pada ahli diet, pelayanan sosial)
o. Rujuk pada program makanan wanita, bayi, anak-anak dengan tepat
2. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan kehilangan cairan
Tujuan :
a. Mengidentifikasi dan melakukan tindakan untuk menurunkan frekuensi dan keparahan mual/ muntah
b. Mengkonsumsi cairan dengan jumlah yang sesuai setiap hari
c. Mengidentifikasi tanda-tanda dan gejala dehidrasi yang memerlukan tindakan
Intervensi
d. Tentukan frekuensi / beratnya mual/ muntah
e. Tinjau ulang riwayat kemungkinan masalah medis lain (misalnya ulkus peptikum, gastritis,kolesistitis)
f. Anjurkan klien mempertahankan masukan/ keluaran, tes urine dan penurunan berat badan setiap hari.
g. Kaji suhu dan turgor kulit, membrane mukosa, tekanan darah (TD), suhu, masukan/ keluaran, dan berat jenis urine
h. Timbang berat badan klien dan bandingkan dengan standar
i. Anjurkan peningkatan masukan minimal berkarbonat, makan enam kali sehari dengan jumlah yang sedikit dan makanan tinggi karbohidrat (misalnya popcorn, roti kering sebelum bangun tidur.
3. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan tubuh, penurunan metabolisme sel
Tujuan :
a. Melaporkan peningkatan rasa sejahtera/ tingkat energi
b. Mendemonstrasikan peningkatan aktivitas fisik yang dapat diukur
Intervensi
a. Pantau respon fisiologis terhadap aktifitas, misal : perubahan tekanan darah, atau frekuensi denyut jantung/ pernafasan
b. Buat tujuan aktifitas realistis dengan pasien
c. Rencanakan perawatan untuk memungkinkan periode istirahat. Jadwalkan aktifitas untuk periode bila pasien mempunyai banyak energi. Libatkan pasien/ orang terdekat dalam perencanaan jadwal
d. Dorong pasien untuk melakukan kapanpun. Misal : perawatan diri, bangun dari kursi, berjalan
e. Berikan latihan rentang gerak pasif/ aktif pada pasien yang terbaring di tempat tidur
f. Pertahankan tempat tidur pada posisi rendah, singkirkan perabotan, bantu ambulasi
g. Berikan oksigen suplemen sesuai indikasi
h. Rujuk pada therapi fisik/ okupasi

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut :
1. Hiperemesis gravidarum adalah mual muntah yang berlebihan pada wanita hamil sampai mengganggu pekerjaan sehari-hari karena keadaan umum pasien memburuk.
2. Penyebab Hiperemesis gravidarum secara pasti belum diketahui, faktor predisposisinya antara lain ; peningkatan kadar HCG, faktor organik, dan faktor endokrin lainnya.
3. Secara patologik menunjukkan adanya kelainan-kelainan dalam berbagai alat tubuh seperti hati, jantung, otak dan ginjal
4. Hiperemesis gravidarum dapat mengakibatkan dehidrasi, kekurangan energi, tertimbun zat metabolik toksik, terganggunya keseimbangan elektrolit dan perdarahan gastrointestinal
5. Hiperemesis gravidarum terbagi dalam 3 tingkatan yaitu ringan, sedang dan berat
6. Penanganan Hiperemesis gravidarum pada tahap awal adalah pencegahan yaitu dengan memberikan konseling untuk menghadapi kehamilan dan komplikasinya
7. Terapi yang diberikan pada kasus Hiperemesis gravidarum adalah terapi obat-obatan, terapi psikologik, terapi parenteral dan isolasi. Apabila keadaan tetap memburuk terminasi kehamilan perlu dipertimbangkan.
8. Diagnosa dari hiperemesis gravidarum yaitu:
· Gangguan Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan pengeluaran nutrisi yang berlebihan dan intake kurang
· Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan kehilangan cairan
· Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan tubuh, penurunan metabolisme sel

DAFTAR PUSTAKA

Wiknjosastro, Hanifa. 2006. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.
http://sobatbaru.blogspot.com/2009/02/hiperemesis-gravidarum.html
http://cakmoki.blogsome.com/2006/09/22/
http://72.14.235.132/search?q=cache:7025mVtBN0QJ:ikextx.weebly.com/uploads/4/6/9/3/469349/hiperemesis_gravidarum.ppt+definisi+hiperemesis+gravidarum&cd=1&hl=id&ct=clnk&gl=id
http://www.klikdokter.com/illness/detail/22
http://perpus-akmr.blog.co.uk/2008/02/27/hiperemesis-gravidarum-3786624/

GANGGUAN PIKIR, BENTUK, ISI DAN ARUS PIKIR

GANGGUAN PIKIR, BENTUK, ISI DAN ARUS PIKIR

Proses berpikir itu meliputi proses pertimbangan (“judgment”), pemahaman (”comprehension”), ingatan serta penalaran (“reasoning”). Proses berpikir yang normal mengandung arus idea, symbol dan asosiasi yang terarah kepada tujuan dan yang dibangkitkan oleh suatu masalah atau tugas dan yang menghantarkan kepada suatu penyelesaian yang berorientasi kepada kenyataan.
Berbagai macam factor mempengaruhi proses berpikir itu, umpamanya factor somatic (gangguan otak, kelelahan), factor psikologik (gangguan emosi, psikosa) dan factor social (kegaduhan dan keadaan sosial yang lain) yang sangat mempengaruhi perhatian atau konsentrasi si individu. Kita dapat membedakan tiga aspek proses berpikir yaitu: bentuk pikiran, arus pikiran dan isi pikiran, ditambah dengan pertimbangan.
Gangguan bentuk pikiran,
Dalam kategori ganggauan bentuk pikiran termasuk semua penyimpangan dari pemikiran rasional, logik, dan terarah kepada tujuan.
1. Dereisme atau pikiran dereistik, titik berat pada tidak adanya sangkut paut terjadi antara proses mental individu dan pengalamannya yang sedang berjalan. Proses mentalnya tidak sesuai dengan atau tidak mengikuti kenyataan, logika, atau pengalaman. Umpamanya seorang kepala kantor pemerintah pernah mengatakan, “Seorang pegawai negeri dan seorang warga negara yang baik harus kebal korupsi, biarpun gajinya tidak cukup, biarpun keluarganya menderita; bila tidak tahan silakan keluar…”, atau seorang lain lagi, “Kita harus memberantas perjudian dan pelacuran, karena hal-hal itu merupakan ‘exploitation de I’home parr I’home’; adalah ‘homo homini lupus’ adalah ‘machiavellisme’; karena itu kita harus mengikis habis segala bentuknya, tanpa kecuali…”.
2. Pikiran otistik; menandakan bahwa penyebab distorsi arus asosiasi ialah dari dalam pasien itu sendiri dalam bentuk lamunan, fantasi, waham atau halusinasi. Cara berpikir seperti ini hanya akan memuaskan keinginannya yang tak terpenuhi tanpa memperdulikan keadaan sekitarnya; hidup dalam alam pikirannya sendiri. Kadang-kadang istilah ini dipakai juga untuk pikiran dereistik.
3. Bentuk pikiran yang non-realistik: bentuk pikiran yang sama sekali tidak berdasarkan kenyataan, umapamanya: menyelidiki sesuatu yang spektakuler dan revolusioner bila ditemui; mengambil kesimpulan yang aneh serta tidak masuk akal (merupakan gejala yang menonjol pada skizoprenia hebefrenik di samping tingkah laku kekanak-kanakan). Dibedakan dari pikiran dereistik dan otistik tapi kadang-kadang ketiga gangguan bentuk pikiran ini dijadikan satu dengan salah satu istilah itu.
Gangguan arus pikiran
Gangguan arus pikiran yaitu tentang cara dan lajunya proses asosiasi dalam pemikiran yang timbul dalam berbagai jenis:
1. Perseverasi: berulang-ulang menceritakan suatu idea, pikiran atau tema secara berlebihan. Seoraqng penulis pernah mendengar seorang pasien berkata,”Nanti besok saya pulang, ya saya sudah kangen rumah, besok saya sudah berada di rumah, sudah makan enak di rumah sendiri, ya pak dokter, satu hari lagi nanti saya sudah bisa tidur di rumah, besok ayah akan datang mengambil saya pulang…”.
2. Asosiasi longgar: mengatakan hal-hal yang tidak ada hubungannya satu sama lain, umpama, “saya mau makan. Semua orang dapat berjalan”. Bila ekstrim, maka akan terjadi inkoherensi. Asosiasi yang sabgat longgar dapat silihat dari ucapan seorang penderita seperti berikut ini, “….Saya yang menjalankan mobil kita harus membikin tenaga nuklir dan harus minum es krim…”.
3. Inkoherensi: gangguan dalam bentuk bicara, sehingga satu kalimat pun sudah sukar ditangkap atau diikuti maksudnya. Suatu waham yang aneh mungkin diterangkan secara incoherent. Inkoherensi itu boleh dikatakan merupakan asosiasi yang longgar secara ekstrim. Seorang penulis pernah menerima surat antara lain sebagai berikut, “Saya minta dijanji, tidur, lahir, dengan pakaian lengkap untuk anak saya satu atau lebih menurut pengadilan Allah dengan suami jodohnya yang menyinggung segala percobaan…”.
4. Kecepatan bicra: untuk mengutarakan pikiran mungkin lambat sekali atau sangat cepat.
5. Benturan (“blocking”): jalan pikiran tiba-tiba berhenti atau berhenti di tengah sebuah kalimat. Pasien tidak dapat menerangkan kenapa ia berhenti.
6. Logorea: banya bicara, kata-kata dikeluarkan bertubi-tubi tanpa control mungkin coherent atau incoherent.
7. Pikiran melayang (“flight of ideas”): perubahan yang mendadak lagi cepat dalam pembicaran, sehingga suatu idea yang belum selesai diceritakan sudah disusul oleh idea yang lain. Umpamanya seorang pasien pernah bercerita, “Waktu saya datang ke rumah sakit kakak saya baru mendapat rebewes, lalu untung saya pakai kemeja biru, hingga pak dokter menanyakan bila sudah makan…”.
8. Asosiasi bunyi (“clang association”): mengucapkan perkataan yang mempunyai persamaan bunyi, umpamanya pernah didengar, “Saya mau makan di Tarakan, seakan-akan berantakan”.
9. Neologisme: membentuk kata-kata baru yang tidak dipahami oleh umum, misalnya “Saya radiltu semua partimun”.
10. Irelevansi: isi pikiran atau ucapan yang tidak ada hubungannya dengan pertanyaan atau dengan hal yang sedang dibicarakan.
11. Pikiran berputar-putar (”circumstantiality”): menuju secara tidak langsung kepada idea pokok denga menambahakan banyak hal yang remeh-remeh, yang menjemukan, dan yang tidak relevant.
12. Main-main dengan kata-kata: menyajak (membuat sajak) secara tidak wajar. Umpamanya pernah seorang penulis menerima sajak yang antara lain berbunyi:
Wahai jagoku yang tersembunyi
Meskipun kau jago
Tanpa kau hatiku sunyi
Tanpa kau hatiku mewangi
13. Afasi: mungkin sensorik (tidak atau sukar mengerti bicara orang lain) atau motorik (tidak dapat atau sukar berbicara), sering kedua-duanya sekaligus dan terjadi karena kerusakan otak.

Gangguan isi pikiran: dapat terjadi baik pada isi pikiran non-verbal, maupun pada isi pikiran yang diceritkan, misalnya:
1. Kegembiraan yang luar biasa atau ekstasi (“ectasy”) dapat timbul secara mengambang pada orang yang normal selama fase permulaan narkosa (anesthesia umum). Boleh juga disebabkan oleh narkotika (“feeling high” atau “fligh” sebagai logat para narkotik) atau kadang-kadang timbul sepintas lalu pada skizofrenia. Semua mengatakan bahwa isi pikiran mereka itu tidak dapat diceritakan.
2. Fantasi: ialah isi pikiran tentang suatu keadaan atau kejadian yang diharapkan atau diinginkan, tetapi dikenal sebagai tidak nyata. Fantasi yang kreatif menyiapkan si individu untuk bertindak sesudahnya: fntasi dalam lamunan merupakan pelarian bagi keinginan yang tidak dapat dipenuhi. Pada psedologia fantastika (“psedologia fantastica”) orang itu percaya akan kebenaran fantasinya secara intermittent dan selama jangka waktu yang cukup lama untuk bertindak sesuai dengan itu.
3. Fobi: rasa takut yang irasional terhadap sesuatu benda atau keadaan yang tidak dapat dihilangkan atau ditekan oleh pasien, biarpun diketahuinya bahwa hal itu irasioanl adanya. Fobi itu dapat mengakibatkan kompulsi, umpamanya fobi kotor atau fobi kuman menimbulkan kompulsi cuci-cuci tangan. Ini perlu dibedakan dari kecemasan yang mengambang (“free-floating anxiety”) atau kecemasan terhadap keadaan umum, nisalnya takut akan jatuh sakit, takut gagal dalam usahanya.
4. Obsesi: isi pikiran yang kukuh (“persistent”) timbul, biarpun tidak dikehendakinya, dan diketahuinya bahwa hal itu tidak wajar atau tidak mungkin.
5. Preokupasi: pikiran terpaku hanya pada sebuah idea saja, yang biasanya berhubungan dengan keadaan yang bernada emosional yan kuat. Ini belum merupakan, tetapi dapat menjadi obsesi.
6. Pikiran yang tidak memadai (“inadequate”): pikiran yang eksentrik, tidak cocok dengan banyak hal, terutama dalam pergaulan dan pekerjaan seseorang.
7. Pikiran bubuh diri (“suicidal thoughts/ideation”): mulai dari kadang-kadang memikirkan hal bunuh diri sampai terus-menerus memikirkan cara bagaiman ia dapat membunuh dirinya.
8. Pikiran hubungan (“ideas of reference”): pembicaraan orang lain, benda-benda atau sesuatu kejadian dihubungkannya dengan dirinya.
9. Rasa terasing (alienasi): perasaan bahwa dirinya sudah menjadi lain, berbeda, asing.
10. Pikiran isolasi social (“social isolation”: rasa terisolasi, tersekat, terkunci, terpencil dari masyarakat; rasa ditolak, tidak disukai oleh orang lain; rasa tidak enak bila berkumpul dengan orang lain; lebih suka menyendiri.
11. Pikiran rendah diri: merendahkan, menghinakan dirinya sendiri, menyalahkan dirinya tentang suatu hal yang pernah atau tidak pernah dilakukannya.
12. Merasa dirugikan orang lain
13. Merasa dingin dalam bidang seksual
14. Rasa salah
15. Pesimisme
16. Sering curiga
17. Waham
Keyakinan tentang suatu isi pikiran yang tidak sesuai dengan kenyataannya atau tidak cocok dengan intelegensi dan latar belakang kebudayaannya, biarpun dibuktika kemusyahilan hal itu.
18. Kekuatan yang tidak wajar tentang kesehatan fisiknya



















DAFTAR PUSTAKA

Maramis, W.F. 2004. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Airlangga University press, Surabaya.

“DEFINISI SEHAT DAN INDIKATORNYA”

BAB I
PENDAHULUAN

Pada masa lalu, sebagian besar individu dan masyarakat memandang sehat dan sakit sebagai sesuatu Hitam atau Putih. Dimana kesehatan merupakan kondisi kebalikan dari penyakit atau kondisi yang terbebas dari penyakit. Anggapan atau sikap yang sederhana ini tentu dapat diterapkan dengan mudah; akan tetapi mengabaikan adanya rentang sehat-sakit.
Pendekatan yang digunakan pada abad ke-21, sehat dipandang dengan perspektif yang lebih luas. Luasnya aspek itu meliputi rasa memiliki kekua­saan, hubungan kasih sayang, semangat hidup, jaringan dukungan sosial yang kuat, rasa berarti dalam hidup, atau tingkat kemandirian tertentu (Haber, 1994).
Konsep sehat dan upaya kesehatan yang dianut dunia telah banyak bergeser. Di Indonesia, pergeseran cara penanganan kesehatan masyarakat tak bisa cepat diikuti karena kekurangan orang yang mampu menerjemahkan berbagai konsep kesehatan menjadi kebijakan yang bisa diterapkan.
Sosialisasi tak lancar Keterbatasan dana menyebabkan upaya penyebarluasan paradigma sehat dan kebijakan program Indonesia Sehat 2010 tidak lancar. Krisis berkepanjangan dan banjir menguras dana Departemen Kesehatan. Upaya kesehatan yang semula ditekankan pada upaya "penyelamatan dan reformasi" terasa lebih banyak pada "penyelamatan" lewat Jaring Pengaman Sosial Bidang Kesehatan (JPSBK). Analisa dan pembahasan kebijakan baru serta upaya sosialisasi makin kabur. Peraturan pemerintah yang memuat kebijakan kesehatan tingkat pusat dan provinsi tidak pernah dibahas secara mendalam. Bahkan, saat ini terasa kecenderungan pemerintah kabupaten dan kota menetapkan sendiri kebijakan yang terkait dengan program-program yang telah didesentralisasikan.
Selama lebih dari tiga dasawarsa, Indonesia telah melaksanakan berbagai upaya dalam rangka meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Departemen esehatan telah menyelenggarakan seragkaian informasi di bidang kesehatan guna meningkatkan pelayanan kesehatan dan menjadikannya lebih efisien, efektif serta terjangkau oleh masyarakat. Berbagai model pembiayaan kesehatan, sejumlah program intervensi teknis bidang kesehatan, serta perbaikan organisasi dan manajemen telah diperkenalkan.
Namun demikian, walau sdah dicapai banyak kemajuan, tetapi bila dibandig dengan beberapa Negara tetangga, keadan kesehatan masyarakat Indonesia masih tertinggal. Angka kematian bayi misalnya, Indnesia barada di urutan atas di antara Negara-negara aggota South East Asia Medical Information Center (SEAMIC). Sebagian besar masyarakat Indonesia, baik yang di pedesaan maupun perkotaan, masih sulit mendapatka pelayanan kesehatan walau dalam skala minimal. Banyak hal ynag menjadi penyebabnya, yaitu selain factor teknis juga factor-faktor geografi, ekonomi dan social.
Guna memperegas rumusan Visi Indonesia Sehat 2010 itu, telah ditetapkan indicator-indikatornya secara lebih terinci. Disamping itu, telah ditetapkan pula target yang ingin dicapai di tahun 2010, untuk setiap indicator tersebut. Indicator-indikator yang telah ditetapkan itu digolongkan ke dalam : (1) Indikator Derajat Kesehatan sebagai hasi akhir yang terdiri atas indicator-indikator untuk mortalitas, Morbiditas dan status gizi; (2) Indikator hasil antara yang terdiri atas indicator-indikator untuk keadaan lingkungan, perlaku hidup, akses dan Mutu pelayanan Kesehatan; serta (3) Indikator proses dan masukan yang terdiri atas indicator-indicator untuk pelayanan kesehatan Sumber Daya Kesehatan dan kontribusi sector terkait.










BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Sehat
Pengertian sehat meliputi kesehatan jasmani, rohani, serta sosial dan bukan hanya keadaan bebas dari penyakit, cacat dan kelemahan. Masyarakat Indonesia yang dicita citakan adalah masyarakat Indonesia yang mempunyai kesadaran, kemauan dan kemampuan untuk hidup sehat sehingga tercapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya, sebagai salah satu unsur dari pembangunan sumber daya manusia Indonesia seutuhnya.
Sehat merupakan sebuah keadaan yang tidak hanya terbebas dari penyakit akan tetapi juga meliputi seluruh aspek kehidupan manusia yang meliputi aspek fisik, emosi, sosial dan spiritual.
Menurut WHO (1947) Sehat itu sendiri dapat diartikan bahwa suatu keadaan yang sempurna baik secara fisik, mental dan sosial serta tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan (WHO, 1947).
Definisi WHO tentang sehat mempunyai karakteristik berikut yang dapat meningkatkan konsep sehat yang po­sitif (Edelman dan Mandle. 1994):
a. Memperhatikan individu sebagai sebuah sistem yang menyeluruh.
b. Memandang sehat dengan mengidentifikasi ling­kungan internal dan eksternal.
c. Penghargaan terhadap pentingnya peran individu dalam hidup.
UU No.23,1992 tentang Kesehatan menyatakan bahwa: Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Dalam pengertian ini maka kesehatan harus dilihat sebagai satu kesatuan yang utuh terdiri dari unsur-unsur fisik, mental dan sosial dan di dalamnya kesehatan jiwa merupakan bagian integral kesehatan.
Sehat menurut model Neuman adalah suatu keseimbangan biopsiko – sosio – cultural dan spiritual pada tiga garis pertahanan klien yaitu fleksibel, normal dan resisten. Keperawatan ditujukan untuk mempertahankan keseimbangan tersebut dengan berfokus pada empat intervensi yaitu : intervensi yang bersifat promosi dilakukan apabila gangguan yang terjadi pada garis pertahanan normal yang terganggu. Sedangkan intervensi yang bersifat kurasi atau rehabilitasi dilakukan apabila garis pertahanan resisten yang terganggu.
Pembangunan kesehatan sebagai salah satu upaya pembangunan nasional diarahkan guna tercapainya kesadaran, kemauan, dan kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang optimal. Dan kesehatan yang demikian yang menjadi dambaan setiap orang sepanjang hidupnya. Tetapi datangnya penyakit merupakan hal yang tidak bisa ditolak meskipun kadang-kadang bisa dicegah atau dihindari. Konsep sehat dan sakit sesungguhnya tidak terlalu mutlak dan universal karena ada faktor-faktor lain di luar kenyataan klinis yang mempengaruhinya terutama faktor sosial budaya. Kedua pengertian saling mempengaruhi dan pengertian yang satu hanya dapat dipahami dalam konteks pengertian yang lain. Banyak ahli filsafat, biologi, antropologi, sosiologi, kedokteran, dan lain-lain bidang ilmu pengetahuan telah mencoba memberikan pengertian tentang konsep sehat dan sakit ditinjau dari masing-masing disiplin ilmu. Masalah sehat dan sakit merupakan proses yang berkaitan dengan kemampuan atau ketidakmampuan manusia beradap-tasi dengan lingkungan baik secara biologis, psikologis maupun sosio budaya.
Istilah sehat mengandung banyak muatan kultural, sosial dan pengertian profesional yang beragam. Dulu dari sudut pandangan kedokteran, sehat sangat erat kaitannya dengan kesakitan dan penyakit. Dalam kenyataannya tidaklah seseder-hana itu, sehat harus dilihat dari berbagai aspek. WHO melihat sehat dari berbagai aspek. Definisi WHO (1981): Health is a state of complete physical, mental and social well-being, and not merely the absence of disease or infirmity. WHO mendefinisikan pengertian sehat sebagai suatu keadaan sempurna baik jasmani, rohani, maupun kesejahteraan sosial seseorang.
Oleh para ahli kesehatan, antropologi kesehatan sehat dipandang sebagai disiplin biobudaya yang memberi perhatian pada aspek-aspek biologis dan sosial budaya dari tingkah laku manusia, terutama tentang cara-cara interaksi antara keduanya sepanjang sejarah kehidupan manusia yang mempengaruhi kesehatan dan penyakit. Penyakit sendiri ditentukan oleh budaya: hal ini karena penyakit merupakan pengakuan sosial bahwa seseorang tidak dapat menjalankan peran normalnya secara wajar .
Definisi Sehat Dalam Keperawatan
- Definisi Sehat Pender (1982)
Sehat : Perwujudan individu yang diperoleh melalui kepuasan dalam berhubungan dengan orang lain (Aktualisasi). Perilaku yang sesuai dengan tujuan, perawatan diri yang kompeten sedangkan penyesesuaian diperlukan untuk mempertahankan stabilitas dan integritas struktural.
- Definisi Sehat Paune (1983)
Sehat : Fungsi efektif dari sumber-sumber perawatan diri (self care Resouces) yang menjamin tindakanuntuk perawatan diri ( self care Aktions) secara adekual.Self care Resoureces : encangkup pengetahuan, keterampilan dan sikap.Self care Aktions : Perilaku yang sesuai dengan tujuan diperlukan untuk memperoleh, mempertahan kan dan menigkatkanfungsi psicososial da piritual.


B. Indikator Sehat Sementara itu masyarakat mulai mempertanyakan apakah indikator-indikator kesehatan yang digunakan dewasa ini yaitu IMR, CDR, Life expectancy masih cocok disebut sebagai indikator kesehatan penduduk. Untuk dapat menilai berapa banyak penduduk yang sehat tidak mungkin digunakan angka kematian dan angka kesakitan penduduk. Untuk dapat mengukur status kesehatan penduduk yang tepat perlu digunakan indikator positif(sehat), dan bukan hanya indikator negatif (sakit, mati) yang dewasa ini masih dipakai. WHO menyarankan agar sebagai indikator kesehatan penduduk harus mengacu pada 4 hal sebagai berikut: a. melihat ada tidaknya kelainan pathofisiologis pada seseorang, b. mengukur kemampuan fisik seseorang seperti kemampuan aerobik, ketahanan, kekuatan dan kelenturan sesuai dengan umur. c. penilaian atas kesehatan sendiri dan d. Indeks Massa Tubuh (BMI): B.kg / (T.m2)Dewasa ini mulai dipertanyakan keterkaitan antara IMR yang rendah dengan bayi sehat Penelitian di Afrika menemukan bahwa 26% dari bayi yang dapat diselamatkan (tidak mati) ternyata cacat.Demikian halnya dengan peningkatan umur harapan hidup waktu lahir. WHO menegaskan bahwa peningkatan umur harapan hidup itu harus diartikan sebagai bertambahnya produktivitas dan bukan sekedar bertambah umur tapi sakit-sakitan. WHO menyebutkan bahwa perpanjangan umur harus diartikan sebagai ”add life to years rather than merely add years to life” Di samping itu penambahan umur harus pula diartikan sebagai penambahan ”years of disability free life” dan bukan penambahan “years of disabled life”.
Sebagai indikator Perilaku Sehat Skala Nasional Pusat Promosi Kesehatan bekerjasama dengan badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, serta Badan Pusat Statistik berupaya untuk memasukkan 3 indikator tersebut ke dalam daftar pertanyaan SUSENASKOR (setiap tahun) dan MODUL (setiap 3 tahun).
Indikator Perilaku sehat lainnya dapat diperoleh dari survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) Survei Kehidupan Rumah Tangga Indonesia (SAKERTI), dan survei lain yang bersifat regional seperti studi Evaluasi Manfaat (SEM) dan survei-survei yang bersifat lokal yang dilakukan oleh berbagai pihak sesuai kebutuhan daerah.

Indikator Perilaku Sehat Skala Nasional
Data UNDP tahun 2001 mencatat bahwa indeks Pembangunan Manusia (Human Development Indexs) Di Indonesia masih menempati urutan ke 102 dari 162 negara. Tingkat Pendidikan, pendapatan serta kesehatan penduduk Indonesia belum memuaskan.
Peranan keberhasilan pembangunan kesehatan sangat menentukan tercapainya tujuan pembangunan nasional, karena dalam rangka menghadapi makin ketatnya persaingan pada era globalisasi,pendidik yang sehat akan menunjang keberhasilan program pendidikan dan juga akan mendorong peningkatan produktivitas dan pendapatan penduduk.
Visi Indonesia sehat 2010 yang telah ditetapkan sebagai gambaran prediksi atau harapan tentang keadaan masyarakat pada tahun 2010, haruslah dapat mewujudkan dan dilaksanakan secara bertaat azas dan berkesinambungan. Untuk itu rencana pembangunan kesehatan menuju Indonesia sehat 2010 telah disusun oleh Departement Kesehatan bersama sama dengan lintas sektor, perguruan tinggi, LSM, organisasi profesi, dan 7 partai besar yang selanjutnya akan digunakan sebagai acuan program kesehatan dalam mengembangkan rencana strategis untuk mencapai indikator keberhasilan pembangunan kesehatan yang telah ditetapkan.
Salah satu indikator keberhasilannya adalah perilaku hidup sehat yang didefinisikan sebagai perilaku proaktif untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah resiko terjadinya penyakit, melindungi diri dari ancaman penyakit, serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan masyarakat. Selanjutnya ada 19 perilaku hidup sehat yang menjadi sasaran pembangunan kesehatan Dan bila dicermati perilaku-perilaku tersebut melekat pada masing-masing program kesehatan prioritas seperti KIA, GIZI, immunisasi, kesling, Gaya hidup dan JKPM.Situasi ini dapat memberi peluang tapi juga hambatan bagi penanggungjawab program untuk dapat mencapai target perubahan perilaku bila dilakukan sendiri-sendiri atau dibebankan pada satu program sektor saja. Karena masalah-masalah kesehatan dipengaruhi oleh banyak faktor seperti sosial budaya, ekonomi, pendidikan dan lain-lain. Ditambah lagi pada era disentralisasi dimana setiap daerah mempunyai permasalahan kesehatan lokal spesifik yang juga mempunyai aspek perilaku yang perlu ditangani secara lokal.
Untuk itu perlu disusun skala prioritas bagi 19 indikator perilaku hidup sehat agar dapat ditangani secara nasional atau lokal/daerah dengan tetap menacu kepada paradigma sehat yang memandang pembangunan kesehatan lebih menekankan kepada upaya promotif dan preventif tanpa mengesampingkan kuratif dan rehabilitasi. Saat ini pembangunan bidang kesehatan di Indonesia mempunyai beban ganda, dimana penyakit infeksi dan menular masih merupakan masalah kesehatan masyarakat, sementara itu telah terjadi peningkatan penyakit tidak menular seperti jantung, stroke, kanker, diabetes melitus yang semuanya erat kaitannya dengan gaya hidup seperti kebiasaan makan yang buruk, kurang aktivitas fisik dan merokok.
Hasil SKRT (Survey Kesehatan Rumah Tangga) tahun 1995 menunjukan bahwa 83 per 1000 penduduk menderita Hyperyensi, 3 Per 1000 penduduk mengalami penyakit jantung iskemik dan stroke, 1,2% penduduk mengalami diabetes, 6,8% mengalami kelebihan berat badan dan 1,1% Obesitas. Penyakit kanker merupakan 6% penyebab kematian di Indonesia. Penyakit kardiovaskuler sebagai penyebab kematian telah meningkat dari urutan ke11 (SKRT1972) menjadi urutan 3 (SKRT1986) dan menjadi penyebab kematian utama (SKRT1992 dan 1995). Organisasi Kesehatan dunia (WHO) memperkirakan penyakit tidak menular telah menyebabkan sekitar 60% kematian dan 43% seluruh kesakitan didunia. Angka kematiaan dan kesakitan tersebut sebagian besar terjadi pada penduduk dengan Sosial Ekonomi menengah kebawah. Penyakit-penyakit akibat gaya hidup tersebut dapat dicegah dengan meniadakan faktor resiko dan merubah perilaku. Selanjutnya penyakit jantung koroner, diabetes mellitus dan kanker mempunyai faktor resiko yang hampir sama. Faktor-faktor resiko tersebut antara lain merokok, Hypertensi (tekanan darah tinggi), Obesitas (Berat Badan Lebih), Stress (Tekanan Jiwa), kurang aktivitas fisik dan olah raga. Bila diperhatikan semua faktor risiko tersebut dapat disederhanakan menjadi 3 kelompok perilaku yaitu merokok, diet (pola makan), dan aktivitas/olah raga.
Indikator Indonesia sehat 2010
· Indikator derajat kesehatan yang merupakan hasil akhir, yang terdiri atas indikator- indikator mortalitas, indikator- indikator morbiditas, dan indikator- indikator status gizi.
· Indikator hasil antara, yang terdiri atas indikator- indikator keadaan lingkungan, indikator- indikator perilaku hidup masyarakat, serta indikator- indikator akses dan mutu pelayanan kesehatan.
· Indikator proses dan masukan, yang terdiri atas indikator- indikator pelayanan kesehatan, indikator- indikator sumber daya kesehatan, indikator- indikator menejemen kesehatan, dan indikator- indikator kontribusi sektor- sektor terkait.


DAFTAR PUSTAKA

http://www.scribd.com/doc/8343666/Konsep-Sehat
http://www.inna-ppni.or.id/index.php?name=News&file=article&sid=71
http://tugassekolahonline.blogspot.com/2009/02/konsep-keperawatan-kesehatan-komunitas.html
http://www.mail-archive.com/dokter@itb.ac.id/msg00213.html
http://perpus-akmr.blog.co.uk/2008/04/28/konsep-sehat-sakit-4103747/
http://suastanalusiana.blogspot.com/2007/06/hiperemesis-gravidarum.html